11.5.17

Monolog Kehidupan

Pernahkah merasa, bahwa kehidupan pada dasarnya adalah kesendirian? Bagiku seperti sendiri, di tengah keramaian. Ada banyak orang lalu lalang di sekitarmu. Beberapa singgah dan menemanimu, untuk kemudian pergi lagi. Pada akhirnya pun aku akan pergi sendiri, masuk dalam liang lahat sendiri, dan mempertanggungjawabkan semua yang kumiliki di dunia ini sendirian.

Tapi sendiri tak bermakna tak perduli. Sadar bahwa pada akhirnya semua orang dalam hidup ini akan pergi, tapi juga pahami bahwa aku bisa berkontribusi bagi hidupnya. Aku bertanggung jawab pada diriku sendiri, tapi aku pun berkontribusi pada kehidupan orang lain. Dengan peduliku, juga dengan acuhku. Jadi, mengapa memilih mengabaikan orang, bila aku bisa memilih untuk peduli dan membuat perubahan? Hari ini aku belajar ketulusan. Tulus mendengar, tulus memberi jawaban, menghargai siapa pun yang menghampiri, tanpa ada pengharapan akan diberi.

Tiap detik kehidupan yang kupunya saat ini, pun mungkin tengah didambakan orang-orang di alam penantian hari akhir. Di dalam kubur yang sempit, dingin, dan gelap. Beberapa orang yang menyesal, tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Lalu, apakah aku masih punya alasan, berdiam di tengah kerumunan, tidak melakukan apapun untuk kehidupan? Berhura-hura, malas bergerak dan tak hendak melangkah dari kenyamanan. Sementara waktuku kian tipis, perjalanan di dunia, mendekati titik akhir. Titik dimana semua upaya tak akan berarti lagi. Apa yang sudah kupersiapkan untuk bekal kehidupan yang sejati kelak? 


#30DWCJilid5
#Day30
#Squad1

9.5.17

Pagi Kita

Selamat pagi duhai jiwa
Yang semangatnya membara
Seperti nyala mentari pagi
Yang membungkus kota
Menerangkan jiwa

Aku berdiri di tengah jendela
Memandang langit terbentang
Membawahi gedung-gedung menjulang
Membiarkan alam pikiran terbang
Menikmati cahaya jingga yang berpendar
Sebelum kukembalikan jiwa yang sadar

Kesadaran bahwa pagi ini berbeda
Tak ada tawa, cerita, dan huru hara
Tak ada kamu, dia, dan mereka
Tiba-tiba ruang hampa menyela
Di antara tekad yang menyala

Sejatinya aku dalam kesendirian
Memeluk diri dan luka-luka hati
Yang tak kuingat
bahkan tak sempat kukeluhkan
Bila bersama kalian

Kukira kebersamaaan adalah candu
Kini ruang hampaku diisi rindu
Seperti matahari yang kian meninggi
Membiarkan sinarnya memenuhi penjuru kota ini
Membuat bayang-bayang menari

Ah, aku menghempas diri di kursi
Mengambil ponsel di sisi kiri
Membaca celotehan kalian
Membuatku tergelak, kadang tersenyum tipis
Lihatlah, betapa menakjubkan
Cara hati membuat diri begini. 
Membuat pagi ini, menjadi pagi kita. 


Mata dan Hati

Aku adalah perempuan yang kuat dan peduli. Ini adalah sesuatu yang aku mau, dan aku deklarasikan dulu. Tapi mewujudkannya tidaklah semudah menuliskannya dan tidak sesederhana kata-katanya. Berulangkali aku diuji dengan kedua kata itu.
Beberapa hari ke belakang,  aku mengasah kepekaan. Jalanku menuju kepedulian. Karena sesungguhnya lebih mudah bagiku mengabaikan, dibanding peduli dan terlibat dalam hidup yang bukan aku. Tapi rupanya, kepedulian bukan sekedar aku menunjukkan bahasa tubuh dan mimik wajah yang menunjukkan kesan itu. Tapi kepedulian adalah hadir sepenuhnya, 100% untuk orang lain, terhubung secara emosi dengannya.
Dan keterhubungan itu salah satunya memandang tepat di tengah matanya. Pada bola matanya yang bergerak-gerak, bahkan kadang menghindar dari mataku. Ajaibnya aku merasa, menatap titik tengah diantara putih mata, seakan - akan menengok jendela. Aku bisa melihat seluas-luasnya hamparan hatinya. Merasakan dan menyelami perasaannya. Untuk kemudian menyadari bahwa ada nurani disana.
Bila mereka tak bersedia, saat aku menatap mata mereka, tepat ditengahnya, aku seperti mengetuk-ngetuk pintu hatinya. Dan berkata: hey, it's me. Open your heart! Tak butuh waktu lama, karena kemudian hati itu terbuka.
Aku hadir disana. Siap mendengar dan menyimaknya. Tak ada kepura-puraan. Semua hadir dari hati. Pun ketika aku mempertanyakan. Tak ada yang dipikirkan dan pertimbangan lama, hanya ada ingin memaknai dengan baik semua orang disana. Aku semakin peka dan sadar, kapan seseorang sudah mulai membuka hatinya. Aku mulai bisa membaca semua gerak tubuhnya. Getaran mata terutama.
Benarlah kata pepatah, bahwa mata adalah jendela hati.
#30DWCJilid5
#Day27
#squad1

8.5.17

Inikah Rasanya?

Seperti pagi yang kunanti
Hari ini akhirnya datang kembali
Seperti awal dimulainya petualangan hidupku
Saat menemukan diri
Kembali menemukan impian kehidupan

Aku tidak mengerti
Bagaimana mendeskripsikan hati
Ketika itu kini terjadi lagi

Meski kini aku berdiri di sisi yang berbeda
Tapi rasanya masih sama
Aku bahagia

Membersamai kalian dalam langkah
Berbagi peran, bahagia, dan lelah
Belajar berbagi dengan lebih banyak jiwa
Ah, sungguh ajaib perihal hati dan rasa

Mereka yang kembali menemukan jalan memahami diri sendiri
Mereka yang memberi penghargaan pada diri sendiri
Tapi aku yang begitu penuh dengan rasa suka cita dan bangga
Padahal aku hanya berjalan di sisi
Tak melakukan apa-apa lagi

Lalu pelukan hangat melingkariku
Erat, sangat erat
Terbisikkan ucapan terima kasih
Teriring isak tangis
Ah, bukankah aku hanya mengiringi?

Kini pagi datang kembali
Mengisahkan lagi cerita hari kemarin
Membuatku melihat
Satu per satu anugerah
Yang Tuhan kirimkan untukku
Dan aku tersadar
Makin banyak jiwa yang terhubung dengan kebahagiaan
Hanya karena aku mau tulus memberi
Tanpa ada pengharapan

#day26
#30DWCJilid5




My Precious

Biar kuceritakan pada kalian
Orang-orang yang kumimpikan
Orang-orang diistimewakan
Bahkan sejak kuputuskan
Menjadi bagian yang menghadirkan
Tempat belajar tentang kehidupan
Bahwa diri adalah berharga

Biar kuceritakan bagaimana aku melewati badai dalam jiwa
Ketika aku berusaha hadirkan sinar-sinar mata yang bercahaya

Biar kuceritakan pada kalian
Hatiku secerah pagi
Sejernih langit biru
Sehangat matahari pagi
Kala kalian sampai disini
Menembus angin dan hujan yang membungkus kota

Bagaimana aku bisa menahan senyumku
Bagaimana menahan limpahan rasa
Yang menggelitik hatiku
Membuatku ingin menari
Saat kalian berkumpul di tempat ini
Siap memulai
Perjalanan menemukan diri

Biar kuceritakan pada kalian
Malam itu kalian menyapaku
Dengan wajah-wajah kuyu
Mata yang redup dan sayu
Tapi aku tetap berterima kasih
Karena aku yang kalian pilih
Menjadi teman selama perjalanan
Dalam empat hari yang penuh kejutan

Biar kuceritakan pada kalian
Selayaknya ibu yang bahagia melihat anak-anaknya tumbuh
Aku begitu bangga
Melihat kalian mengatakan
'hidup saya berharga'

Lihatlah pagi ini
Sinar mata kalian mengalahkan mentari
Wajah-wajah dihiasi senyuman
Pundak yang ringan dan lepas dari segala beban
Seakan kalian sudah mempersiapkan bekal
Untuk melesat sejauh-jauhnya
Mencapai semua impian kehidupan.

#30dwcjilid5
#day25