Aku dan Menulis

Tantangan menulis 30 hari sudah masuk hari terakhir. Aku merasa kali ini tulisanku berbeda. Hampir sedikit sekali aku menulis fiksi. Memang aku punya target sendiri kali ini. Memulai sebuah tulisan tentang #myFabulous30, namun dalam perjalanannya lebih banyak cerita dan refleksi kehidupanku sehari-hari. Pada 30DWCJilid7 kali ini, walaupun masih sering mengirimkan tulisan mendekati deadline, namun aku tak kesulitan mendapatkan ide. Bahkan seringkali banyak hal yang ingin kusampaikan. Kalau diperhatikan, tulisanku dalam 30 hari terakhir lumayan panjang. Bukan karena aku punya waktu lebih banyak dari biasa. Namun, ada banyak hal di kepala yang segera ingin dialirkan dalam kata-kata. Aku bisa mengetik lebih cepat. Seperti saat ini.

Lalu aku berfikir, mungkinkah karena kini aku tidak berada dalam kondisi tertekan seperti saat masih bekerja dulu. Padahal kesibukan tetap saja sama. Bahkan kini aku selalu dalam kondisi stand by. Kalau-kalau diperlukan di dapur, kalau-kalau dipanggil keponakan, kalau-kalau Bapak membutuhkan bantuan. Sibuk dan banyak peran. Tapi dari kesibukan itulah aku belajar banyak hal. Dan sering merasa butuh tempat bercerita. Blog adalah tempat terbaik. Apalagi kalau ada yang membaca dan bisa mengambil manfaat darinya. 

Menurut STIFIn, seorang insting mencari harmoni. Dan cenderung akan lebih optimal berada dalam kondisi yang minim konflik dan tekanan. Well, selama masih belum memulai masa proyek, aku menikmati masa-masaku di rumah ini. Dan melihat catatan kisahku selama 30 hari ini rasanya menyenangkan. Insya Allah konsisten menulis hingga hari-hari ke depan. 

Salam, On Fire!

Aku menulis, karena terlalu banyak yang ingin aku ceritakan pada dunia tentang apa yang aku lihat, dengar, dan rasa. -Nur Astri Fatihah

#Day30
#30DWCJilid7
#Squad8
Share:

Renungan dari Api

Saat sedang memasak di dapur tungku, ada banyak hal yang tiba-tiba muncul di pikiran saya. Tiba-tiba merasa, "Duh, ini sungguh tidak ramah lingkungan. Sayang kayu. Tapi gas juga sama saja. Apalagi listrik. Ini pilihan paling hemat. Kayu bakar gratis." Di saat seperti ini pelajaran tentang emisi gas rumah kaca dan lain-lain dikesampingkan. Kalah dengan upaya penghematan dalam urusan keuangan keluarga. 

Saya yang memang hanya sekali dua kali pulang, tidak terlalu akrab dengan memasak menggunakan kayu bakar. Boleh dikata tidak pandai dan tidak paham cara menghidupkan dan menjaga nyala api. Namun kini, demi menghemat, saya cukup sering menggunakan kayu bakar untuk memasak. Apalagi jika memasak makanan berempah khas melayu atau makanan yang perlu waktu lama untuk diolah. Awalnya memang sulit dan menyebalkan. Tapi lama-lama jadi terbiasa.
Suatu kali saat sedang mengatur kayu bakar agar api tetap menyala, saya sadar kayu-kayu ini begitu cepat dimakan api. Sudah lima bilah kayu habis, tapi saya masih belum selesai. Padahal saya cuma sedang membuat tempe bacem. Tapi tempenya sekilo, jadi butuh waktu lama. Padahal saya juga ingin menghemat kayu. Sayang kalau habis demi tempe yang begitu tersaji di meja makan, ludes dalam waktu beberapa menit saja. 

Di saat nyala api kian marak, terdengar bunyi hentakan. Bapak sedang mengayun kapak, membelah kayu-kayu besar di halaman belakang. Untuk kayu memasak, begitu beliau berkata. Makin pedihlah hati saya, untuk mengambil bilah kayu yang berikutnya. Bagaimana tidak? Bapak berjalan dengan tongkatnya, bertumpu pada satu kaki, tapi masih punya semangat dan tenaga membelah kayu. Hampir seharian pula. Segera saya mengumpulkan tempurung, sabut kelapa, dan ranting-ranting kering. Tidak tega saya menghabiskan kayu bakar ini.

Saya lalu merenungkan. Betapa makanan yang tersaji di meja adalah hasil keringat banyak orang. Ia tidak hadir dan turun begitu saja. Ada banyak perjuangan menyertainya. Saya yang menyiapkan dan menghaluskan bumbu, lalu memasaknya. Bapak menyiapkan kayu bakar. Ada pula orang-orang yang menanam semua bumbu dan bahan makanan. Semua bahan itu akhirnya bisa dibeli dari hasil bekerja kedua orang tua saya. Semua hadir dari usaha dan butuh waktu tidak sebentar. Namun perkara memakannya, tidak lebih dari lima belas menit, makanan ini bisa ludes begitu saja.

Kadang saya kesal. Sudah lama memasak. Menghabisinya sebentar saja. Bahkan kadang, saya sendiri tidak sempat makan makanan buatan sendiri. Keburu habis. Risiko, punya ramai anggota keluarga. Namun kekesalan dan kelelahan itu seringnya terbayar. Jika semua orang senang dan menikmati masakan saya. Saat seperti ini saya tak henti mengagumi ibu saya. Untungnya waktu kecil saya bukanlah picky eater.
 
Nyala api tungku yang semakin besar, membuat saya sadar. Ada banyak hal kecil yang saya abaikan. Hal-hal yang biasa hadir, namun bila disyukuri, menyimpan banyak pelajaran bagi kehidupan. Saya bersyukur hari ini belajar sesuatu lagi.

Bagaimana dengan Anda, sudahkah mensyukuri nikmat hari ini?

Tungku di Rumah
#Day28
#30DWCJilid7
#Squad8
#myFabulous30
Share:

Sajak Luka

bagaimana lagi caranya
agar aku bisa membawamu
pada jalan menuju surga?


cinta yang kini bercampur luka
mengalirkan amarah dan benci antara kita
tak cukupkah kata-kata
penawar duka dariku dahulu kala

tak bisakah kau ingat
musim dimana badai datang
dan kita terjebak dalam pusaran
sementara masih belum tampak
akhir dari semuanya

mengapa kini kalimatku membakar hatimu?
menjadi duri yang menyakitkanmu?

tak adakah lagi
embun yang menyejukkan dadamu?
tak adakah lagi
air hujan yang bertabur di dasar jiwamu?
tak adakah lagi
kristal yang mengkilat dari matamu?

bisakah kita menyudahi ini?
amarah yang melukai?


oh, mengapa terasa sakit di kepala?
amarahmu berganti duri
yang terus menusuk seluruh diri
pelan-pelan ku mengusap pelupuk mata
mengganti mendung yang bergelayut di muka
menjadi senyum mencerahkan suasana

biarlah.
biarlah aku mengalah.

biarlah kini kupilinkan pada langit
untuk menurunkan sekeping salju
pada hatimu yang menyimpan bara api

untuk meneduhkan hatiku
yang terasa bagai disinari terik mentari
biarlah kau dan aku menyepi
sibuk dalam perjalanan
menuju rute kedamaian



#Day29
#30DWCJilid7
#Squad8

Share:

Nanti


Ada banyak hal yang tertunda dalam hidup saya, karena satu kata: nanti. Nanti deh. Bentar lah. Sehabis ini lah. Sampai kadang tertunda bertahun-tahun lamanya. Salah satunya menempuh pendidikan magister yang tertunda hingga empat tahun dari rencana semula. Ada pula hal-hal yang tak sempat saya lakukan. Karena saya melewatkan momen dan kesempatan yang tersedia. Akibat kata nanti. 

Hal ini pula yang menjadikan saya seringkali mengerjakan segala sesuatu mepet ke deadline. Selain memang karena ada hal lain yang perlu diprioritaskan, tidak jarang pula terjadi karena saya menunda. "Nanti deh, kalau sudah mood. Nanti deh makan dulu. Nanti, agak sore." Akhirnya kadang saya tidak punya waktu banyak untuk merapikan pekerjaan atau memeriksanya kembali. 

Hari ini saya sadar penyakit nanti mulai datang kembali. Ada beberapa pekerjaan yang saya lupakan, gara-gara pada saat kewajiban itu datang, saya katakan: iya, nanti. Ada pula beberapa hal yang langsung saya respon. Seperti kesempatan-kesempatan terkait dengan proyek baru, kelas kepenulisan baru, dan berbagi event upgrading diri. Saya kemudian merenungi perbedaan respon saya ini. Apa yang membuat saya menjadi penunda di satu hal, namun responsif alias cepat tanggap di hal lainnya? 

Saya pun sadar bahwa setiap kali sedang dalam responsive mode, pada dasarnya saya aware akan waktu. Semakin bertambah usia, saya semakin merasa bahwa waktu yang saya punya semakin sempit. "Aku ga punya nanti. Now or regret it!" Itu yang terus saya ucapkan pada diri sendiri. Sehingga, sekalipun ada risikonya, berat atau bahkan tampak tidak mungkin, akan tetap saya lakukan. Karena saya merasa tak ada yang tak mungkin selama saya punya strong why. 

Sekarang saya tinggal menerapkannya di seluruh aspek kehidupan saya. Bahwa waktu saya terbatas. Bahkan saya tidak bisa menjamin umur saya ada sampai detik berikutnya. So, kenapa saya harus sering mengatakan nanti? Karena saya belum tentu punyai nanti itu. 

Kalau Anda, bagaimana? 

#Day27
#30DWCJilid7
#Squad8
Share:

Kipas Angin

"Dulu kalian dak pernah tidur pake kipas angin, baik-baik aja yah? Sekarang kok jadi beda ya?" keluh ibuku suatu hari. Keluhan ini datang karena tagihan listrik yang naik setiap bulan. Berbagai trik sudah dilakukan. Mengurangi penggunaan kulkas, AC, pakai lampu hemat energi, tapi tetap saja tagihan listrik rasanya makin mencekik. Belum lagi kini di rumah kami, setiap kamar memiliki kipas. Semua keponakanku tidak bisa tidur tanpa kipas. Sekalipun itu hari hujan dan cuaca sudah cukup sejuk. Kipas angin berputar sepanjang malam dan siang. Waktu istirahatnya barangkali hanya pagi hari dan saat kami tidak di kamar atau di rumah. Dalam semalam, ada lima kipas angin yang menyala.

Aku membayangkan lagi masa kecilku. Hanya ada tiga kipas angin di rumahku ini. Satu di ruang tamu, satu di ruang tengah, dan satu kipas angin kotak yang bisa dibawa kemana saja. 


Aku sendiri sejak kecil sudah terbiasa tidur tanpa menggunakan kipas. Meskipun itu siang hari yang teramat panas, aku betah-betah saja tidur di kamar tanpa kipas angin. Tapi kini, tidak. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang.

Ini membuatku bertanya-tanya. Apakah memang suhu bumi semakin meningkat? Karena menurut sebuah artikel, dibandingkan dengan kondisi tahun 1961 hingga tahun 1990, suhu bumi secara global pada tahun 2016 naik sebesar 0,84 derajat celcius. Angka yang sepertinya sangat kecil ini bermakna besarloh bagi kehidupan di bumi ini. Apa ini juga yang mempengaruhi suhu di sekitar rumahku?

Kulihat sekitar rumahku kini, perubahan penggunaan lahan menjadi lahan terbangun. Dulu, kiri kanan, dan belakang rumah kami adalah semak belukar dan hutan. Halaman rumah pun dipenuhi aneka bunga dan pepohonan. Pohon jambu, kelapa, nangka, belimbing ciremai, petai cina, bunga kenanga, dan masih banyak jenis tanaman hias lainnya. Mungkin ini yang menyebabkan masih ada angin sejuk yang masuk ke rumah. Walaupun risikonya, rumah kami cukup akrab dengan ular dan aneka hewan lain seperti ulat bulu, kaki seribu, lipan, dan serangga yang aku sendiri tidak tahu namanya. Kini semua sudah berganti dengan halaman yang disemen, dan tanaman hias yang tumbuh di pot-pot. Pepohonan kini berganti dengan bangunan warung dan garasi. Untungnya, bagian dapur masih banyak pepohonan. Boleh dikatakan itulah bagian rumah yang paling sejuk dan tidak butuh kipas angin saat ini. Aku selalu betah duduk di teras yang ada di belakang rumah. Sambil menikmati pepohonan dan angin sepoi-sepoi di kala mentari sedang menyengat.

Kipas angin yang sedang berputar di depanku kini membuatku sadar. Bahwa dunia benar-benar panas, hingga membutuhkan bantuan angin dari kipas ini. Kalau saja sekeliling rumahku bisa kembali rindang seperti dulu, tentu lah kami tidak usah repot berkipas ria. Cukup mengandalkan kesejukan yang dibawa pepohonan. Tidak perlu pusing dengan harga listrik semakin meningkat, sementara kebutuhan penggunaan kipas angin dan AC juga semakin meningkat. 

Lalu aku membayangkan. Seperti apa tagihan listrik kami, bila rumah ini sama sekali tidak membutuhkan kipas angin? Ah tentu saja, dengan tarif dasar yang sama :).

#day26
#30DWCJilid7
#Squad8

Referensi:
http://nusantaranews.co/makin-panas-suhu-bumi-naik-11-derajat-celcius/
Share:

Discover Myself (again)

Ketika memutuskan kembali ke rumah, tujuan saya hanya ingin berbakti. Berada sedekat mungkin dengan orang tua. Agar bisa menjaga keduanya. Alasan lainnya karena saya merasa butuh pekerjaan yang mampu memultiperankan diri. Tadinya saya ingin mempersiapkan banyak hal, termasuk pekerjaan selepas keluar bekerja. Dan saya sudah memperkirakan pada bulan apa sebaiknya kembali. Agar saya tidak merepotkan orang tua secara finansial. Akan tetapi karena kondisi Mama' kala itu sedang tidak stabil, saya mempercepat waktu pindah.

Mungkin kalau dulu, kembali tinggal di rumah saya tidak melakukan banyak hal. Hanya hal-hal standar seperti membersihkan rumah, mencuci piring, dan membantu mama memasak di dapur. Untuk mengisi waktu biasanya membantu menjaga warung milik kakak saya. Kadang tidak banyak yang saya bisa lakukan dalam sehari. Hal ini membuat saya tidak betah berlama-lama di rumah. Namun kini, semuanya sudah berbeda.

Perbedaan pertama adalah dulu keponakan saya hanya dua. Dan tinggal berjauhan pula dengan orang tua saya. Kini saya punya tujuh keponakan. Empat diantaranya tinggal di rumah orang tua saya. Mereka membuat saya senantiasa sibuk. Rumah yang biasanya rapi, kini bisa jadi seperti kapal pecah setiap hari. Rumah orang tua cukup besar, demikian pula juga halaman depannya. Jadi tidak usah ditanya rasanya, bila baru selesai mengepel lantai, 15 menit kemudian keponakan saya datang bermain pasir di ruang tengah. 

Perbedaan kedua adalah kedua orang tua saya kini sama-sama membutuhkan perhatian. Bapak mengalami masalah syaraf yang menyebabkannya memerlukan tongkat untuk berjalan. Sedangkan Ibu, sudah berkurang jauh pendengaran dan gangguan pengihatan yang amat parah karena diabetes yang dideritanya. Mama masih memasak di dapur. Namun karena masalah penglihatannya ini, saya kadang tidak bisa benar-benar meninggalkan beliau sendiri di dapur. 

Perbedaan ketiga, kini saya mempunyai banyak kesibukan di luar pekerjaan. Semua masih bisa saya kerjakan dari jauh. Saya pikir dengan jam kerja yang fleksibel, ini akan tidak terlalu memberikan tekanan. Namun ternyata saya keliru. Justru ada banyak tantangan bekerja dari rumah. Perlu benar-benar ada batasan antara jam kerja dan jam mengurus rumah dan keluarga. Seringkali tugas-tugas itu baru bisa saya kerjakan pada malam hari. Saat anak-anak sudah tidur dan saat kedua orang tua tidak memerlukan bantuan saya.

Kesibukan sehari-hari ini seperti tidak ada habisnya. Sampai suatu kali saya pernah nyeletuk pada seorang kawan di kantor dahulu,"Ternyata mau di kantor atau tidak, sama saja sibuknya". Kesibukan ini kadang memang membuat saya tertekan. Namun bila bekerja di kantor saya hanya bisa melakukan dua atau tiga hal, di rumah ini dalam sehari ada banyak hal berbeda yang saya lakukan. Sehingga meskipun kadang kewalahan, saya merasa bahagia.

Keseharian saya memang kini padat dengan aktivitas. Namun saya bisa membantu lebih banyak orang di rumah ini. Melakukan banyak hal berbeda. Dan yang paling menyenangkan, setiap hari selalu ada pembelajaran, hikmah dan renungan tentang diri. Entah itu dari aktivitas yang saya lakukan, dari anak-anak, dari kedua orang tua, bahkan dari lingkungan sekitar saya. Pembelajaran yang membuat saya semakin memahami bahwa saya punya potensi. Bahwa ada skenario indah dibalik alasan saya lahir dan berada di tengah keluarga ini. Sehingga saya tahu peran apa yang perlu dimainkan, untuk mendukung orang tua dan semua saudara saya. It's feel like discovering myself again! And I'm happy. 

Bagaimana dengan, Anda? Sudah melakukan apa hari ini? 


#myFabulous30
#Day25
#30DWCJilid7
#Squad8

Sumber : Pinterestt

Share:

Menghemat Air ala Mama


Waktu kecil dulu, air bersih dari PDAM di rumah kami tidak selalu mengalir 24 jam. Kalau pun ada, airnya masih membawa sisa-sisa lumpur. Sehingga selalu perlu diendapkan sebelum digunakan. Berbeda dengan kebanyakan orang di Pulau Jawa, di kampungku jarang sekali orang menggunakan sumur. Hal ini karena kondisi tanah yang asam membuat kualitas air pun tidak bagus. Kebanyakan orang di kampungku, lebih memilih menampung air hujan di dalam tempayan atau pun drum.

Karena kondisi sulit air inilah, Mama selalu mengajariku menghemat air. Kalau ada bak yang sampai meluber karena aku lupa mematikan keran, sudah pasti omelan panas mendarat di telinga. Dulu, aku menganggap apa yang Mama lakukan, juga dilakukan oleh orang lain. Sampai akhirnya aku merantau, dan baru sadar bahwa ibuku itu sangat hemat air. Bahkan bisa dikategorikan masuk pada gaya hidup ramah lingkungan. Apa saja yang beliau lakukan? 

1. Air cucian beras untuk menyiram tanaman
Dulu, Mamaku selalu menyiapkan satu ember khusus. Untuk menyimpan air bekas mencuci beras. Air itu lah yang ia gunakan untuk menyiram kebun dan bunga-bunga di halaman depan. Katanya, airnya cukup menyuburkan tanaman dan bunga kesayangannya.

2. Gunakan kembali air deterjen bekas mencuci dan membilas pakaian 
Mama tidak pernah langsung membuang air bekas deterjen untuk mencuci pakaian. Biasa ia gunakannya untuk merendam kain pel yang sangat kotor. Sering pula ia gunakan untuk menyikat lantai kamar mandi, atau lantai dapur terbuka di belakang rumah kami. Prinsip mama bukan sekedar sayang air, tapi juga sayang deterjen. 

3. Mencuci piring dengan menampung air di bak/baskom
Mama mengajariku mencuci piring dengan membilasnya pada bak berisi air. Setiap piring dan gelas harus dibilas dua kali. Menurut Mama, mencuci dengan langsung mengucurkan air keran, menghabiskan lebih banyak air dibanding dengan menampungnya di bak terlebih dahulu.  Awalnya aku tidak percaya. Namun, di sebuah eco camp di Kota Bandung, kami diajak mencuci piring dengan cara yang diajarkan Mama. Ternyata Mama benar, hehe.

Begitulah tiga tips menghemat air ala Mamaku. Semoga berguna.

#Day24
#30DWCJilid7
#Squad8

Share: