Merahasiakan

Cerita hari ini sebetulnya sudah masuk ranah pribadi. Tempatnya bukan disini. Tapi sekarang sedang hujan, dan saya teringat kata seorang penyair (yang sungguh saya lupa namanya dan juga lupa persis kata - katanya seperti apa :D), intinya sungguh keterlaluan hatimu bila dalam kondisi hujan seperti ini, tak tercipta satu puisi. Hak! Dan saya sudah menulis satu puisi hari ini, saat hujan. Hahaha, info yang sungguh tidak penting. Tapi puisi itu tidak akan saya bagi disini, isinya garing! Menandakan sudah cukup lama saya tak membaca dan lama pula tak berpuitis ria. Eh, tunggu dulu, jadi kaitan isi tulisan ini dengan judul diatas? (Tepok jidat).

Jadi begini, hari ini karena hari yang sendu, dan mungkin pengaruh psikis saya yang sedang melankolis ditambah dengan datangnya orang yang saat ini tidak ingin saya lihat, saya jadi merindukan drama dan tiba-tiba melakoni drama sore ini. Aishhh, drama yang buat saya ingin sekali curhat pada seorang sahabat. Tapi masalahnya kawan yang didekat saya ini Lelaki! Oh man, saya sudah lama sekali tidak curhat pada Pria. Cenderung menghindari. Tapi kali ini saya sedang kesal ditambah dengan suasana melankolis hati, jadi bertumpuk-tumpuk rasanya beban di hati.

Baiklah, mari kita curhat, saya juga butuh solusi sekarang!, begitu tekad saya tadi sore. Tahukan kalian kawan, apa yang terjadi? Begitu melihat wajahnya dan pekerjaan yang menumpuk di mejanya, saya urungkan niat dan sertamerta padamlah tekad saya. Yang ada, saya tersenyum riang dan ceria sekali didepannya.

Dan, saya teringat sesuatu. Hey, kamu tidak sendiri. Ada Allah, 'rahasiakanlah keluhanmu dari saudaramu, itu akan membebaninya', ada suara berbisik pada saya. Saya pun pergi, menerobos hujan, menangis bersama langit, merahasiakan yang terjadi dan menapaki bumi kembali. Tidak semua hal harus kau ceritakan Ti, begitu hati saya berkata.

Salam hangat, Tiech

Share:

Public Policy: Refleksi Bacaan Bagian 1



Halo Liburan. Halo Buku – buku (ceile, sombong benerr dah baca buku, padahal ga sempet kebaca semua).
Ceritanya, kemarin saya tergoda untuk beli buku ini. Judulnya: “Public Policy” oleh Dr. Riant Nugroho.  Bukunya tebal dengan 827 halaman, lumayan bisa dijadikan bantal (loh!? :D). Alasan saya beli buku ini ya karena topik Public Policy selalu menarik buat saya (sejak kapan ya?) dan karena cinta pada pandangan pertama dengan sampul bukunya yang lucu, indah nan berwarna biru.  

Pada hari kedua liburan saya, setelah agak bosan membaca buku – buku fiksi dan buku – buku lucu saya penasaran sekali ingin membaca buku ini. Apa yang membuat buku ini berbeda dengan buku tentang Public Policy lainnya, yang selama ini banyak diacu oleh orang. Sebut saja buku Analisis Kebijakan miliknya William Dunn. Buku itu seperti buku sakti hampir bagi semua orang,  akademisi maupun praktisi.  Tadinya saya membuka – buka daftar isi, lalu daftar pustaka dan mulai screening isi buku ini. Dan memutuskan untuk membacanya layaknya membaca buku cerita, dari kata pengantar hingga akhir. Aneh, kata kawan saya. Tapi, saya kira buku ini menarik untuk dibaca dari awal. Untuk saya memahami latar belakang penulis dan latar belakang penulisan buku ini.
Rupanya saya salah (tidak salah – salah amat sebetulnya). Buku ini lebih dari sekedar menarik (untuk ukuran buku teks), setiap halamannya ingin saya ketahui. Banyak hal tak terduga yang saya dapatkan dari buku ini. Seperti membaca novel.  Otak saya bekerja, tidak sekedar menerima (juga menolak) premis – premis dan teori yang dipaparkan penulis, namun juga membayangkan yang terjadi dalam pekerjaan saya yang juga akrab dengan ranah kebijakan publik.
Bagian pertama, tentang Dinamika Kebijakan Publik memang belum masuk pada pembahasan teori Kebijakan Publik yang seringkali berkutat pada siklus perumusan – implementasi – pengendalian- monitoring dan evaluasi. Namun memaparkan makna kebijakan publik yang sebenarnya, kekeliruan pemahaman dan implementasinya dalam kehidupan bernegara. Yang menarik buat saya adalah, teori – teori manajemen yang disitir penulis dalam membahas kebijakan publik. Diantaranya buku- buku Peter F. Drucker, seorang ahli Manajemen yang justru saya kenal lewat sebuah Dorama Jepang (Oh, drama itu sangat bermanfaat kawan).
Bagian kedua dan seterusnya? Terus terang belum selesai, kawan. Saya baru sampai pada halaman 123. Masih seperdelapan dari total isi buku ini. Tapi baru membaca 1/8 nya banyak pikiran – pikiran usil saya bermunculan.
1.    Tentang banyaknya produk hukum atau peraturan perundangan di Indonesia. Misalnya di daerah, hampir semua dokumen kebijakan baik itu RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah), RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dijadikan produk hukum. Selain 3 (tiga) dokumen itu, banyak juga produk kementerian yang dibawa ke daerah yang juga harus jadi Perda misalnya master plan sektoral.  Tidak salah memang, kebijakan publik memang harus ada aspek legal untuk menjamin pelaksanaannya. Padahal menurut saya, tidak perlu semua jadi Peraturan Perundangan. Bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikeluarkan untuk membuat satu produk hukum? Saya kira lebih dari cukup untuk mendanai hal lain yang lebih penting bagi pembangunan negara kita. Khususnya di aspek kesehatan dan pendidikan.
2.       Membaca buku ini membuat saya sadar, kebijakan yang diambil oleh seorang Bupati Sambas  (Provinsi Kalimantan Barat) saat ini tidak sepenuhnya salah. Kebijakan apa? Bupati periode ini sangat concern dengan aspek pendidikan dan kesehatan. Beliau tidak segan berinvestasi besar pada kedua bidang ini. Tapi, menurut saya salahnya, beliau kurang concern dengan pembangunan infrastruktur (menurut pengamatan saya dari rencana kerja beliau di RPJMD).  Dalam buku Public Policy ini, menurut Dr. Riant Nugroho, urusan utama Pemerintah Daerah adalah Kewargaan – perijinan, kesehatan, pendidikan dan ketertiban. Urusan pendukung adalah air dan sanitasi, sampah dan limbah, transportasi massal dan keseimbangan lingkungan sedangkan pelengkap adalah soal keindahan dan kenyamanan. Artinya, mengedepankan urusan utama penting namun bukan berarti mengabaikan urusan pendukung dan pelengkap bukan?
3.  Sejak reformasi hingga kini, ramai sekali pemekaran wilayah dilakukan. Saya sangat mendukung, terutama bagi daerah – daerah di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Papua. Sulit memang untuk mengatur wilayah yang sebegitu luas. Tapi bila suatu wilayah hasil pemekaran, kemudian dilakukan pemekaran lagi dalam waktu kurang dari 10 tahun? Entah kenapa saya sangat menyayangkan ini. Dari sisi luas wilayah yang perlu diatur memang menjadi lebih efisien, tapi dari sisi yang lain bagaimana? Dokumen perencanaan pembangunan, Master Plan sektoral, Rencana Tata Ruang Wilayah yang baru dibuat dan menghabiskan banyak dana, apa perlu dibuat kembali setelah 5 tahun kemudian hanya karena pemekaran wilayah. Katakanlah, pemekaran wilayah ini tidak sepenuhnya mengubah struktur dan fungsi pusat kegiatan di dalamnya, tapi dengan Kepala Daerah yang baru, DPRD yang baru, ada banyak inovasi baru dan juga kepentingan ‘politik’ yang baru.  Butuh pembangunan pusat pemerintahan yang baru, butuh belanja fisik dan non fisik yang baru. Semuanya butuh pendanaan yang tidak sedikit. Dengan kondisi Indonesia seperti saat ini, itukan prioritas? Oh, satu lagi. Pemekaran wilayah butuh kajian yang baik, untuk memastikan kelayakannya menjadi kabupaten/ kota atau provinsi yang baru. Lagi – lagi, biaya bukan?
4.   Dalam sebuah proyek pembangunan, tim (yang ada saya didalamnya) diharuskan mengkaji dokumen perencanaan pembangunan di wilayah tersebut. Saya mengkaji 23 dokumen , 4 dokumen kebijakan skala kabupaten, 18 dokumen rencana tata ruang ibukota kecamatan dan rencana detail tata ruang kawasan perkotaan dan 1 masterplan air bersih Ibukota Kabupaten.  Yang membuat saya sedih, 18 dokumen ini sepertinya tidak sepenuhnya dijadikan acuan pembangunan Ibukota Kecamatan oleh Pemerintah Kabupaten tersebut. Saya bahkan curiga, dokumen ini (sebelum saya pinjam) telah tersimpan baik di perpustakaan Bappeda. Dan lebih menyedihkan lagi, apabila melihat isinya. Satu dokumen dengan dokumen lainnya sangat mirip isinya dan sangat normatif. Menandakan bahwa konsultan pembuatnya sama. Membuat 18 dokumen ini butuh waktu dan biaya. Katakanlah minimal satu dokumen bernilai 100 juta, bayangkan berapa rupiah yang disia – siakan untuk menghasilkan 18 dokumen yang dipertanyakan kualitas analisis dan kajiannya? Yang bahkan sangat wajar bila Pemkab tidak menggunakannya sebagai acuan penataan ruang bagi tiap IKK.
5.     Tahun 1998 perekonomian Indonesia hancur. Padahal sebelumnya diramalkan akan menjadi salah satu negara Asia yang akan maju tahun 2020 nanti. Rupanya itu hanya mimpi, kondisi sebenarnya perekonomian kita rapuh, tampak maju namun sebetulnya bersandar pada dinding tanpa pondasi yang dapat runtuh kapan saja. Dan sekarang, Indonesia kembali dipuji. Disebut sebagai negara yang berpotensi maju bersama negara lain semacam Cina dan Korea Selatan. Tahukah kalian kawan, feeling saya sebagai wanita (bukan sebagai ahli) pesimis!  

Membaca buku ini, hingga pada halaman 123, menyentak sekaligus mengkhawatirkan saya. Apa benar ini ulah kebijakan publik yang tidak unggul di negara ini? Apa yang akan terjadi pada negara kita? Dan kebijakan publik yang seperti apa yang dimaksud Dr. Riant Nugroho?  Ya, tunggu sampai saya selesai membacanya.Tapi, setelah ini sepertinya saya ingin membaca buku Dee, Madre. Buku ini dari tadi menggoda - goda saya untuk membacanya. Baiklah, otak saya butuh keseimbangan! :))

salam hangat, Tiech. 
Share:

Akhirnya Liburan!

Libur telah tiba! Libur telah tiba! Hore.
Liburan kali ini, saya tidak mudik. Padahal, cukup lama, hampir 2 minggu.  Kenapa? Sepertinya masih banyak pekerjaan yang menunggu dan  Setelah mengalami bulan - bulan yang penuh kesibukan pekerjaan, saya merasa membutuhkan waktu untuk menikmati diri sendiri, waktu untuk meningkatkan kapasitas diri sendiri dan waktu untuk menata kembali berantakannya hidup saya.
"Jadi, apa rencanamu liburan kali ini Ti?, tanya seorang sahabat suatu kali. "Apa ya? Saya belum punya rencana apapun, mungkin akan saya pikirkan malam ini", jawab saya waktu itu. Malamnya, saya benar - benar memikirkan rencana satu minggu pertama liburan akhir tahun ini. Dan telah saya putuskan untuk menghabiskannya dengan blogging, baca buku, mengulang pelajaran bahasa Korea dan belajar dari materi MIT online course yang sudah saya download berbulan - bulan lalu.
Sebetulnya masih ada beberapa buku yang belum sempat saya baca sejak Agustus lalu, tapi saya merasa butuh membeli beberapa buku baru, terutama buku fiksi. Awalnya ingin membeli 10 buku, tapi akhirnya saya urungkan niat itu dan bertekad membeli 5 buku saja dengan prioritas pada buku - buku yang sudah masuk daftar tunggu baca di Goodreads. :)
Tapi, tekad itu sebatas angan saja. Tetap, sesampainya di toko buku saya menemukan banyak buku lain yang menarik. Jadi selain dari prioritas yang ingin dibeli, saya juga membeli buku lainnya dari berbagai jenis-fiksi, motivasi, tips, buku teks hingga buku religi. Sampai sejumlah 13 buku, 4 diantaranya memang untuk keponakan saya. Dan, itu berarti pengeluaran yang tidak terencana. Untungnya, untuk soal buku saya tidak pernah merasa rugi jika harus merogoh kocek dalam - dalam. Investasi, buat otak saya yang semakin hari semakin tidak berisi.
Buku yang akhirnya dibeli
 Jadi liburan kali ini akan lebih produktif dan menyenangkan, pikir saya. Tapi, tahukah Anda, berdiam sendiri di kamar kos menikmati tiap hari liburan di kamar sambil baca, nonton, menulis dan leyeh - leyeh adalah membosankan? Ingin ke luar, ke Coffee Shop misalnya, baca buku di pagi hari atau sore indah seperti ini sambil menikmati secangkir Cappucino panas, atau Espresso. Tapi oh nelangsanya bila harus sendiri. Pasti mas- mas yang punya Coffee Shop bertanya, "kok sendirian mba?" (ih, saya GR deh, padahal kan belum tentu juga, hehe). Eh, tapi coffee shop yang saya maksud yang didekat kosan, yang lumayan nyaman, tapi selalu sepi, yang menurut saya penjaga toko (atau yang punya toko ya?) sangat amat terlalu ramah. Jadilah saya di kamar lagi, sendiri. Dan, nengnongneng, hp saya berbunyi, ada pesan masuk: "Ti, ke kantor hari ini?". Dan, tiktaktuk, saya balas: "Engga, besok aja.". Dibalas lagi: "Oke, ga apa - apa, kita kebut besok aja". Oh.

Buku Bacaan Edisi Liburan Minggu Pertama
salam hangat, Tiech. 
Share:

Ah. Aku lupa. Rupanya di ponsel pintar ini sudah kupasang aplikasi blogger. Untuk memudahkanku menuangkan ide dan pikiran -pikiran yang tak bisa kuungkapkan pada orang lain.

Share:

It is Love

Sudah beberapa hari ini belum menulis ya. Tidak menepati janji sendiri yang akan menulis, apapun kondisinya. Hehehe. tapi yang kemarin itu benar - benar dalam kondisi lelah kuadrat. Tema tulisan kali ini adalah tentang cinta. Ya, cinta. Bukan dalam batasan cinta antara laki - laki dewasa dan perempuan dewasa, namun cinta secara universal. 
Beberapa hari yang lalu, saya cukup dibuat shock dan membuat saya berada dalam kondisi hancur luluh lantak rasanya oleh sebuah kenyataan yang saya sebut sebagai masalah. Masalah besar. Yang saya  kira selama ini hanya saya lihat di film - film saja. Ya, saya mengalami hal yang bahkan tidak pernah saya bayangkan akan terjadi dalam hidup saya  yang lurus - lurus saja ini. Ini sebetulnya masalah yang seluruh anggota keluarga saya hadapi. Namun, sebagai anak paling bungsu dengan perasaan paling 'emosional', keluarga saya terbiasa menyembunyikan berbagai fakta dan masalah keluarga dari saya. Khawatir saya sedih, tertekan dan menjadi dendam. Kali ini pun demikian, tapi akhirnya saya tahu dari orang lain. Dan kemudian langsung menanyakan kebenarannya pada kakak kemudian Bapak dan Mamak saya. 
Pada momen saya mengkonfirmasi informasi yang saya tahu dari pihak luar ini kepada keluarga saya, ingin rasanya saya pergi jauh dan tidak ingin menampakkan wajah saya pada siapapun. Saya menangis semalaman. Mamak memeluk saya. Kakak saya tidak henti menelfon and tried hard to console me. Malam itu, saya benar - benar merasa hancur. Saya tidak yakin bahwa keesokan harinya saya bisa bekerja dengan tenang dan bisa menyembunyikan mata sembab saya. Saya ingin menyerah pada apapun yang saya kerjakan pada saat itu. Keluar dari pekerjaan, keluar dari proyek yang sekarang dan pergi menjauh dari Bandung, juga tidak ingin menetap di Sambas.

Keesokan harinya, saya masih menjalani aktivitas seperti biasa. Bekerja, bertemu rekan kerja, bergurau dan masih bersikap seperti hari - hari biasa. Kembali ke rumah, saya melihat Mamak dan Bapak. Saya sadar, bukan saya saja yang menghadapi kenyataan pahit ini. Mamak, Bapak dan Kakak saya, berjuang keras menghadapinya. Malah lebih daripada saya. Mamak dan Bapak pasti merasa lebih hancur daripada saya. Namun mereka masih berjuang menghadapinya. Apalah saya, yang hanya tahu dan tidak setiap hari menghadapinya karena selama ini saya tinggal di Bandung, berjauhan dari mereka. Melihat kakak saya, yang berjuang menyelesaikan masalah ini, dan sama sekali tidak membiarkan saya terlibat. Meski mereka tidak mengatakannya, saya tahu ketika mereka berusaha menyelesaikan masalah ini, pada saat yang sama mereka juga menjaga agar saya tidak terluka. And that makes me realized that i'm not alone. I have Allah and He gives me this awesome family. A family, yang punya cinta tiada terhingga. Saya pun sadar, bahwa saya tidak perlu lari dan menghentikan semua aktivitas saya sekarang hanya karena masalah ini. Saya harus berjuang juga, sama berjuangnya dengan Mamak, Bapak dan Kakak saya. Sepahit apapun kenyataan ini, kami akan tetap menghadapinya dengan berpegangan tangan. Masalah ini telah membuat saya melihat lebih jernih cinta keluarga saya terhadap saya. Masalah ini, menyadarkan saya bahwa keluarga saya always there for me. Giving unending love for me. And that is a reason for me to continue pursuing my dream, even this problem will makes it harder for me. 

Begitulah blogger, beberapa hari ini saya menyadari begitu besarnya cinta yang mengelilingi saya. Bagaimana dengan Anda?. Terkadang,  masalah tidak hanya membuat kita kuat dan bijaksana, namun juga membuat kita melihat dengan lebih jernih cinta yang ada di sekitar kita.


salam hangat selalu, tiech.
Share:

Kesabaran

Sabar itu tidak ada batasnya.
Itu yang pernah dikatakan oleh mentor saya. Sampai sekarang, saya mengingat betul kata - kata ini. Saya kira, saya punya kesabaran yang banyak. Rupanya, kejadian dalam seminggu ini membuat saya mempertanyakan kembali  'apakah saya sudah termasuk orang yang sabar?'.

Seperti hari ini, saya sedang bekerja menyelesaikan laporan dan beberapa kertas kerja yang harus selesai hari ini juga. Malam ini Nisfu Sya'ban, saya ingin sekali bisa menikmatinya di masjid, sambil mengaji. tapi kenapa pekerjaan ini membuat saya memutuskan untuk tidak ke mesjid. Pilihan yang sulit and really made me upset. Dan perasaan gusar saya itu semakin bertambah ketika saya yang sedang menggantikan asisten kakak saya menjaga kantin, bertemu dengan pelanggan yang super duper sombong dan menyebalkan.
Orang ini sukses membuyarkan fokus saya dan membuat saya yang sedang panik ini ingin marah - marah dengan dia. Kalau bukan karena saya memikirkan bahwa dia konsumen yang perlu diberikan pelayanan yang baik, saya bisa saja sudah bertengkar dengan dia. Tapi saya memutuskan diam, dan menahan diri.
Itu lebih baik bukan. Gantinya, saya marah - marah di dapur. Haha. Tapi, benar. Saya begitu mempertanyakan kesabaran saya. Apa saya sabar?

Hmm, mari mencoba sabar dan lebih bijak menyikapi semua hal. Itu yang saya pelajari hari ini. Lagipula malam ini adalah malam nisfu Say'ban, pertanda 2 minggu menjelang Bulan Suci Ramadhan.


salam hangat, Tiech. 
Share:

Positive Things

Ketika menuliskan ini, hari ini dan besok, orang nomor 1 di Indonesia sedang di Lembang dan memiliki agenda penting di Bandung dan sekitarnya. Penting banget gitu dibahas disini? Penting buat saya! Haha.  Pasalnya, tempat aktivitas dan menginap beliau cukup dekat dengan tempat tinggal saya di Bandung. Beberapa hari ini, banyak anggota TNI maupun Polri yang lalu lalang di sekitar tempat tinggal dan tempat kerja saya. Well, it makes my world so full of people *aapppaa lagi ini.

Kemarin malam saya melewatkan fase evaluasi dan menulis yang harusnya menjadi bagian dari program membuat 'positive habits'. Satu penyebabnya, saya sedang teramat lelah lahir batin dan diatas semua itu, sudah seminggu ini saya mengalami kesulitan tidur. Tidak saya sebut insomnia, karena memang belum pada tahap itu. Hanya saja, setiap jelang magrib atau sesudah isya, saya mengantuk teramat sangat, namun jika saya mengkondisikan diri untuk tidur, saya tidak bisa tidur hingga lewat tengah malam, saat  sekitar saya benar - benar sunyi dan senyap. Begitu pula malam ini. Tadinya saya berniat melewatkan ritual menulis ini, tapi efeknya saya jadi tidak bisa tidur karena diliputi rasa bersalah akibat tidak menepati janji dan komitmen pada diri sendiri.

Saya baru saja membuka situs 'Goodreads' dan membuka tab rekomendasi buku, ya setidaknya menambah wish list buku yang ingin saya baca bulan ini. Dan menemukan sebuah buku yang judulnya menarik perhatian mata saya: "Coming Home". Setelah baca resensi dan komentar para pembaca, saya sebetulnya jadi agak kurang tertarik membacanya. Namun, salah satu komentar pembaca di situs ini membawa saya pada halaman situs ini http://id.berita.yahoo.com/mengapa-wanita-sulit-lupakan-masa-lalu-20110328-001500-995.html.
Ada satu alinea yang menarik, begini bunyinya:

 "Penyesalan cenderung terfokus pada keinginan untuk mengulang kembali hal yang telah terjadi, demi memperbaikinya. Jangan biarkan rasa ini menguasai pikiran. Sebab, semakin lama fokus pada penyesalan, Anda akan kehilangan banyak kesempatan baik dalam hidup."

Sumber Gambar Klik Disini
Saya, mungkin satu diantara wanita yang masih terjebak masa lalu. Antara terjebak masa lalu, kurang gencar ber'sosialisasi' atau memang bukan tipikal 'cantik' yang disukai banyak pria. Hahaha. Apapun itu. Saya mengalaminya, penyesalan. Nama nya saja penyesalan, pasti datangnya selalu terlambat. Saya sedang berusaha keras untuk tidak membiarkan rasa ini menguasai pikiran saya. Saya tahu persis, fokus pada penyesalan hanya akan membuat saya tidak melihat pintu - pintu kesempatan  baik yang mungkin saja sedang berada di depan saya. Pintu kesempatan baik itu kan tidak melulu soal cinta. Bisa soal karir, soal orang tua, soal pendidikan, pengembangan diri, dan banyak hal lainnya. 

Urusan cinta saya baru benar - benar berakhir sekitar sebulan lalu. Saya merasakan penyesalan yang saya tahu sebabnya adalah kesalahan yang saya lakukan sendiri. Namun, karena sudah membuang 7 tahun waktu untuk menyadari sepenuhnya bahwa itu kesalahan saya, setelah menyelesaikan soal 'perasaan' dan berujung pada penyesalan, saya memutuskan untuk berhenti membuang waktu. Saya tidak ingin larut dalam penyesalan atas kesalahan yang harusnya saya sadari dan saya perbaiki 7 tahun lalu. 

Meskipun saya baru memulai, saya hanya ingin mengatakan bahwa penyesalan terkait dengan urusan cinta (atau kata lainnya 'patah hati') bukanlah sesuatu yang harus diratapi berlama - lama. Waktu kita terlalu berharga untuk itu. Sehari setelah saya 'patah hati' saya bertekad pada diri saya sendiri: "saya sudah membuang banyak waktu untuk ini, saya tidak akan memikirkan mendapat ganti kamu segera atau berpikir bagaimana mendapatkan kamu kembali atau bagaimana mengembalikan kita agar tetap on track. saya akan membuat diri saya jauh lebih baik dari hari ini. saya akan membuat diri saya lebih bermakna di mata Tuhan. dan saya hanya akan memikirkan hal - hal postif setiap hari" . 

Begitulah. Kadang, kesalahan kita pada suatu hal, jika kita tidak fokus meratapi kesalahan itu akan lebih membukakan mata hati kita bahwa di luar sana begitu banyak kesempatan baik yang masih bisa kita raih. Apapun kesalahan kita. Saya sedang menjalani langkah pertama memanfaatkan kesempatan itu. Semoga saya diberikan kekkuatan menjalankan program "Positive Things" ini. 

Dan semoga, besok Bandung tidak terlalu macet. :)

salam hangat selalu, Tiech
Share:

"This is Only Work, Don't Take Things Personally" Keep That in Your Mind

Sebal rasanya ketika tengah malam ditanya progress kerja yang bukan prioritas dan bukan mendesak. Buat saya itu mengganggu. Saya tidak suka, tapi harus baik saja menyikapinya. Saya tidak ingin meminta orang lain untuk memahami karakter kerja saya, saya yang selalu menyesuaikan. Bukan berarti saya tidak tegas dengan karakter saya, namun dalam pekerjaan, harmonisasi itu penting. Kalau bukan pihak lain yang mengalah, kitalah yang mengalah. Begitu saya bekerja. tapi bukan berarti saya tidak mengeluh. Kekesalan itu perlu saya ucapkan atau dengan kata lain saya keluhkan, pada orang yang saya percaya. Pada orang yang saya anggap tidak akan menghakimi saya dan memaklumi sisi 'manusiawi' saya.

Dan bicara soal kerja, akhirnya saya paham maksud ungkapan ' jangan campurkan urusan kerja dan pribadi' (waduh, telat amat ya hehe). Dalam bekerja kita pasti menemukan perbedaan pendapat bahkan mungkin akan berargumen hebat dengan rekan kerja. Itu hal yang wajar. Toh orang yang berdebat dengan kita belum tentu orang yang jahat kan? Ini hanya soal karakter kerja, let's not take thing personally!. Jangan sampai berargumen, berdebat atau ketidakcocokan kita terhadap rekan kerja kemudian mempengaruhi kehidupan sosial kita dengan dia. Hey, that's not proffesional. Jangan sampai gara - gara soal pekerjaan kita jadi tidak mau menyapa rekan kerja saat berpapasan atau tidak sengaja bertemu di tempat lain. Harusnya begitu. Sejauh ini saya sedang mencoba untuk membedakan keduanya, tidak ada masalah. Tapi, saya tidak tahu jika nanti kedepan bertemu dengan rekan kerja yang berbeda. I hope i still can manage myself.
You always take thing personally. This is only work. Please keep that in mind!
(Rachel's words to Bayek in "Ibuk" by Iwan Setyawan)
Baiklah, seperti biasa tulisan saya sering pabalatak alias ga nyambung satu paragraf dengan yang lainnya. Ini menggambarkan betapa pikiran saya ini seperti kutu loncat. hahaha...
Sata tutup tulisan ini dengan menyitir dari Bukunya Rene Suhardono " Your Journey To Be The Ultimate U" yang pada halaman 77 menyitir ungkapan seorang filsuf kontemporer Erich Fromm:
"Be who you are, DO what you love and HAVE what you need"

Salam hangat, Tiech
Share:

"Ibuk"



“Kapan anak paling bontotku ini pulang?” kata Mamak sambil membelaiku yang sedang tiduran sambil membaca buku. Pertanyaan Mamak padaku sebulan lalu saat aku pulang kampung masih terngiang sampai hari ini. Dan malam ini, setelah membaca Ibuk, setiap membaca kalimat – kalimat Ibuk pada Bayek, aku seperti mendengar kalimat – kalimat dari Ibuku sendiri: ‘Mamak’. Meski tak sama persis. “Kalau ada uang menabunglah nak”. “Sudah saatnya kamu menikah nak”. Sudah saatnya kamu menata hidupmu nak”. “Sudahlah kerja disini saja, kamu perempuan sendirian disana buat Mamak selalu khawatir”. “Apapun pilihan hidupmu, Mamak selalu mendoakan yang terbaik dan mendukungmu”. Setiap kali ada kesempatan, semua kata – kata itu yang kudengar dari Mamak


Setelah setahun lalu ‘9 summers 10 autumns’, kali ini  ‘Ibuk’ dari Iwan Setyawan sekali lagi  membuat saya berjalan kembali ke masa lalu menyusuri kisah Mamak, Bapak, dan Kakak saya. Dengan airmata yang tak berhenti mengalir saya membuka notebook dan menuliskan perasaan saya. Selalu, ketika menuliskan tentang Mamak dan Bapak, mata ini tidak pernah kering. Saya yakin, saat menulis Ibuk, mas Iwan juga merasakan hal yang sama. 

Membaca Ibuk membuat saya paham, bahwa saya sedang menjalani proses kehidupan. Saat saya mengahdapi stress dan tekanan sangat berat di kantor saya sangat ingin resign dari situ, tapi saya bertahan mengingat misi saya belum selesai. Saya bertahan dan mengatakan ini pada diri saya: saya tidak akan kalah, saya tidak akan keluar hanya karena saya tidak sanggup. Saya hanya akan pergi saat saya merasa saya perlu belajar hal baru.  Saya sangat terkejut dan berulang kali menganggukkan kepala sambil mengatakan yes, that’s right saat saya membaca halaman 186 ‘Ibuk’. Juga ketika membaca tulisan cetak miring di halaman 204 ‘Ibuk’. Saya semakin mencintai Mamak, Bapak dan semua keluarga saya sejak saya mulai merantau. Saya juga selalu menghargai setiap detik waktu yang saya habiskan bersama mereka. Karena saya sadar, banyak momen penting bersama mereka yang telah saya lewatkan. 
Halaman 186

Halaman 204


Saya bungsu, manja, penakut juga tidak pernah jauh dari orang tua. Tapi kini saya merantau, jauh dari mereka. Saya menikmati kehidupan dan tantangan yang ada disini, di Bandung. Sama seperti Bayek, saya selalu merindukan kota kecil tempat kelahiran saya, Sambas, sebuah kota di utara Provinsi Kalimantan Barat yang sudah saya tinggalkan selama 8 tahun. Tapi saya merasa belum saatnya pulang, saya masih punya misi yang belum terselesaikan. 

Perjalanan hidup saya memang belum sepanjang Bayek. Tapi ceritanya dalam Ibuk, menguatkan langkah saya kembali untuk menyelesaikan misi saya. Saya tidak akan menyiakan doa, airmata dan kasih sayang Mamak dan Bapak yang telah membesarkan saya. Cerita hidup saya memang tidak sama dengan Bayek, tapi apa yang Bayek alami dan yang ia rasakan dulu, saya rasakan saat ini. Saya ingin pulang suatu hari nanti, menyelesaikan misi disini dan memulai misi yang baru di Sambas, juga....menulis. 

Ibuk memang Ibuk Bayek dan keempat saudara perempuannya, tapi buat saya beliau juga Ibuk saya, Ibuk semua orang yang membaca ini. Beliau telah mewariskan nilai – nilai hidup yang menginspirasi dan menguatkan banyak orang. Beliau telah memberikan cinta kasih dan sayang yang hangat, yang tidak hanya dirasakan anak- anak dan cucu-cucunya, namun juga kami yang membacanya dari tulisan Mas Iwan.

Saya cinta Ibuk juga Mamak saya.
"A mother knows what her child's gone through, even if she didn't see it herself " (Pramoedya Ananta Toer)
Thanks Mas Iwan Setyawan atas dua bukunya. Buku ini buat saya adalah buku kehidupan yang ditulis dengan hati. Saya akan selalu menunggu karya lainnya. 



Tulisan ini sejatinya bukan review atau resensi buku. Tapi lebih pada cerita melankolis tentang perasaan saya setelah membacanya. Dan maaf, sepertinya tulisan ini tidak terstruktur dengan baik. Saya sedang belajar menulis. Tapi kali ini perasaan saya mengalahkan ketakutan kesalahan dalam menulis juga mengalahkan kesanggupan untuk mengecek struktur kalimat hehe :). Harap maklum. 

Salam hangat, tiech.
Share:

Zona Nyaman

Hari ini, dari 7 (tujuh) target capaian kerja, kegiatan dan aktivitas saya, ada satu yang tidak saya selesaikan. Ini tentang target review dokumen, saya kira besok saya bisa kejar dengan kecepatan kerja 2x lipat dari kemarin. 

Tidak tercapainya target ini, tidak membuat saya tertekan, karena memang ini bukan pekerjaan mendesak. Lagipula ada satu pekerjaan yang lebih mendesak dan prioritas dan sudah  saya selesaikan melebihi target yang saya tentukan untuk hari ini.
Ya, terkadang dalam bekerja, target itu tidak selalu dapat tercapai sesuai rencana, namun pekerjaan prioritas lah yang perlu diselesaikan (halah ngomong apa saya ini #ga nyambung dengan judul) :) hehe.

Baiklah, mari kita kembali ke judul: Zona Nyaman. Seorang teman pernah berkata: 'menurut saya tidak salah kita memilih berada dalam zona nyaman. buat apa ikut- ikutan meninggalkan zona nyaman bila kita tidak paham esensinya'. Saya setuju dengan pendapat ini, tapi faktanya saya tidak selalu memilih berada pada zona nyaman. Perlu saya tergaskan, zona nyaman yang saya maksud disini adalah kondisi dimana saya sudah terbiasa dan sudah bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar saya tanpa perasaan tidak nyaman dengan orang maupun kondisi sekitar saya. 

Buat saya zona nyaman adalah ketika saya dapat bekerja secara harmoni dengan orang - orang disekitar saya tanpa ada perasaan tidak suka. Ketika saya dapat berdiskusi dengan banyak orang. Ketika ruang gerak saya tidak terhambat oleh hal - hal kecil. Ketika situasi dan kondisi kerja sesuai dengan yang saya harapkan. Singkatnya, zona nyaman bagi saya adalah ketika semakin banyak tantangan kerja yang berkurang. 

Lantas, masalahanya apa? Nope, tidak ada masalah bahkan ini menyenangkan dan membuat stress dalam hidup berkurang. Hanya saja kondisi ini berpotensi besar membuat saya jenuh dan produktivitas menurun.Lagipula, saya ini seperti kutu buku loncat (emang ada ya?), saya ingin belajar dari satu temat ke tempat lain. Ada saaatnya saya akan kembali mengabdi untuk pembangunan Sambas. 

Apa saya ingin keluar dan berhenti kerja dari sini? Tidak juga. Saya masih punya satu misi, yakni menyusun dokumen strategi pembangunan permukiman untuk Kabupaten Sambas (my hometown). Dan atas nama misi itu saya bertahan hingga akhir tahun ini. 

Tahun 2013? Saatnya perubahan baru, saya sudah siap untuk tantangan baru dan cerita - cerita menarik yang baru untuk hidup saya.

Tapi, apapun itu. Saya senang hari ini. Alhamdulillah dengan kuasa Allah saya bisa bekerja 95 % sesuai dengan rencana. Saya juga senang karena saya bisa melawan kemalasan diri untuk tidak menulis di Blog ini atau untuk tidak membaca buku hari ini. 

Saya belajar satu hal lagi hari ini: 
berhasil melawan kemalasan + berhasil melawan ketakutan = lapang dan senang hati :)

Baiklah, sampai disini saja untuk hari ini.

Oh ya, ini memang tidak nyambung dengan judul. Tapi zona nyaman mungkin juga bermakna saya bisa sarapan ini setiap hari. hehehe.


Salam hangat, tiech

Share:

You Hate Monday? I'm Not (Anymore).

Besok Senin. Hah, i hate monday!. 
Hey, jangan pernah membiarkan diri kita terus mengatakan itu. Hati - hati, sel - sel tubuh kita bereaksi sesuai dengan apa yang kita katakan. Itu yang selalu saya katakan pada diri saya setiap hari Senin menjelang. Faktanya, membiarkan saya membenci hari Senin membuat saya tidak bersemangat dan senang menunda - nunda selama seminggu kedepan.
Tapi saya punya cara yang cukup ampuh mengatasi penyakit ' i hate monday' ini. Sejauh ini, cocok pada saya, mungkin bisa cocok dengan Anda.



  1. setiap hari minggu, saya luangkan waktu untuk merencanakan target baik terkait pekerjaan, kegiatan pribadi maupun kegiatan lainnya. saya usahakan semuanya seimbang, tidak terlalu memberatkan pada porsi pekerjaan di kantor, karena itu akan membuat stress.
  2. berdoa. Semua target itu ada yang membantu kita menyelesaikannya, pertolongan Tuhan. Buat saya doa adalah sumber kekuatan dan mengingatkan bahwa semua yang saya rencanakan seminggu kedepan adalah demiNya.
  3. berusaha memenuhi target. Bilapun sama sekali tidak bisa, saya akan usahakan minimal target hari itu tercapai 75 %. Khusus untuk target pribadi seperti target baca buku, target baca Al Qur'an atau target menulis, saya selalu berusaha melakukannya, meskipun tidak 100 %. Yang penting saya tidak meninggalkan aktivitas itu.
  4. evaluasi target setiap hari. Selelah dan semalas apapun, saya berupaya untuk mengevaluasi pemenuhan target saya hari ini dan konsekuensinya untuk besok. Biasanya saya lakukan sebelum tidur. Evaluasi itu sangat baik demi menjaga agar target kerja tercapai tepat waktu. Juga agar semangat kerja seminggu ke depan tetap stabil, karena apabila ada beban kerja yang gagal diselesaikan pada hari ini, kita bisa mengatur strategi agar target hari ini dapat diselesaikan besok tanpa mengganggu pencapaian target di esok hari. 
Yah. Sederhana seperti itu saja. Tapi untuk saya, itu berrrraattt sekali memulainya. Setelah dilaksanakan, eh rupanya menyenangkan hidup seperti itu. Semoga saya tetap istiqomah begini :). Dan semoga bermanfaat bagi Anda juga.


salam hangat, tiech.
Share:

belajar menulis (lagi)

Saya sedang belajar menulis lagi. Menulis untuk kebaikan dan demi kontribusi saya pada orang banyak. #cieeeee :)
Belajar menuliskan ide - ide yang serabutan dan seperti kutu loncat yang ada dalam kepala saya. Semoga semua ide ini terwujud. #wish.
Share:

Apa Kontribusi Anda? (Your Journey To Be The UltimateU)

Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang paling menohok saat saya membaca buku " Your Journey to be the Ultimate U". Kenapa?
Menghabiskan waktu selama lebih dari 9 jam sehari untuk suatu yang disebut 'pekerjaan' sudah lama membuat saya tidak nyaman. Saya terpenjara? Hmph! Bukan, tapi itu pilihan saya. Pilihan yang membuat saya selalu merasa tidak enak karena waktu bersama keluarga menjadi semakin sedikit, yang juga membuat sahabat - sahabat saya selalu malas mengajak saya jalan - jalan karena saya pasti beralasan: ' sedang sibuk'. 
Oh, rupanya alasan itu lah yang menjadi sebab saya membeli buku ini.

kiri atas: buku dan stikernya, gambar seterusnya beberapa stiker dan bagian buku favorit saya :)

Ada 40 bagian dalam buku, semuanya berwarna dan pada awal setiap bagian kita bisa menempelkan stiker sesuai keinginan kita. Saya selalu senang memilih satu diantara 40 untuk menyesuaikan isi dengan gambar stiker. :) Buku ini punya bahasa yang ringan, tidak menggurui dan menyenangkan sekali membaca setiap bagiannya. Saya, juga penulis tidak menganjurkan Anda membaca buku ini sekaligus dalam satu waktu. Setiap pesan dalam buku ini, meskipun singkat sekali, namun pesannya sangat dalam. Setiap kali menyelesaikan satu bagian, saya selalu berdiam sebentar dan merenungi pesan - pesannya. 
Buat saya, membacanya seperti mendapatkan kembali jawaban - jawaban yang sudah pernah saya jawab sendiri. Tidak ada quote yang membuat saya ingin menuliskannya di kertas warna - warni dan ditempel di meja kerja atau kamar tidur. Semua quote dan tulisan Mas Rene sudah menyatu dengan pemikiran saya. Buku ini istimewa, karena ia seperti berteriak kepada saya: Hei! think less, feel more!worry less, do more! DO WHAT YOU FEAR! 
Buku ini istimewa, karena kembali mengingatkan saya bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah menjadi sebaik - baik muslim yang bermanfaat bagi semesta. Jika demikian, apa gunanya dikejar dengan kesibukan yang 'me -centered' dan mengabaikan kontribusi nyata bagi sekitar kita.
Kali ini, saya bertekad untuk memperbaiki diri. Mengabaikan semua ketakutan, pikiran dan kekhwatiran yang menghambat saya melakukan hal - hal baik untuk diri dan banyak orang. Karea saya tahu, cita - cita dan kontribusi kita hidup lebih lama daripada usia kita sendiri.

Lah, terus kenapa repot - repot nulis disini kalau baru sekedar bertekad? Hey, inilah awal kontribusi saya: berbagi. Berbagi cerita tentang sebuah buku yang mungkin akan mengubah Anda. :)

Oke. Let's Just Do it! Bismillah.

Salam, Tiha.
Share: