Positive Things

Ketika menuliskan ini, hari ini dan besok, orang nomor 1 di Indonesia sedang di Lembang dan memiliki agenda penting di Bandung dan sekitarnya. Penting banget gitu dibahas disini? Penting buat saya! Haha.  Pasalnya, tempat aktivitas dan menginap beliau cukup dekat dengan tempat tinggal saya di Bandung. Beberapa hari ini, banyak anggota TNI maupun Polri yang lalu lalang di sekitar tempat tinggal dan tempat kerja saya. Well, it makes my world so full of people *aapppaa lagi ini.

Kemarin malam saya melewatkan fase evaluasi dan menulis yang harusnya menjadi bagian dari program membuat 'positive habits'. Satu penyebabnya, saya sedang teramat lelah lahir batin dan diatas semua itu, sudah seminggu ini saya mengalami kesulitan tidur. Tidak saya sebut insomnia, karena memang belum pada tahap itu. Hanya saja, setiap jelang magrib atau sesudah isya, saya mengantuk teramat sangat, namun jika saya mengkondisikan diri untuk tidur, saya tidak bisa tidur hingga lewat tengah malam, saat  sekitar saya benar - benar sunyi dan senyap. Begitu pula malam ini. Tadinya saya berniat melewatkan ritual menulis ini, tapi efeknya saya jadi tidak bisa tidur karena diliputi rasa bersalah akibat tidak menepati janji dan komitmen pada diri sendiri.

Saya baru saja membuka situs 'Goodreads' dan membuka tab rekomendasi buku, ya setidaknya menambah wish list buku yang ingin saya baca bulan ini. Dan menemukan sebuah buku yang judulnya menarik perhatian mata saya: "Coming Home". Setelah baca resensi dan komentar para pembaca, saya sebetulnya jadi agak kurang tertarik membacanya. Namun, salah satu komentar pembaca di situs ini membawa saya pada halaman situs ini http://id.berita.yahoo.com/mengapa-wanita-sulit-lupakan-masa-lalu-20110328-001500-995.html.
Ada satu alinea yang menarik, begini bunyinya:

 "Penyesalan cenderung terfokus pada keinginan untuk mengulang kembali hal yang telah terjadi, demi memperbaikinya. Jangan biarkan rasa ini menguasai pikiran. Sebab, semakin lama fokus pada penyesalan, Anda akan kehilangan banyak kesempatan baik dalam hidup."

Sumber Gambar Klik Disini
Saya, mungkin satu diantara wanita yang masih terjebak masa lalu. Antara terjebak masa lalu, kurang gencar ber'sosialisasi' atau memang bukan tipikal 'cantik' yang disukai banyak pria. Hahaha. Apapun itu. Saya mengalaminya, penyesalan. Nama nya saja penyesalan, pasti datangnya selalu terlambat. Saya sedang berusaha keras untuk tidak membiarkan rasa ini menguasai pikiran saya. Saya tahu persis, fokus pada penyesalan hanya akan membuat saya tidak melihat pintu - pintu kesempatan  baik yang mungkin saja sedang berada di depan saya. Pintu kesempatan baik itu kan tidak melulu soal cinta. Bisa soal karir, soal orang tua, soal pendidikan, pengembangan diri, dan banyak hal lainnya. 

Urusan cinta saya baru benar - benar berakhir sekitar sebulan lalu. Saya merasakan penyesalan yang saya tahu sebabnya adalah kesalahan yang saya lakukan sendiri. Namun, karena sudah membuang 7 tahun waktu untuk menyadari sepenuhnya bahwa itu kesalahan saya, setelah menyelesaikan soal 'perasaan' dan berujung pada penyesalan, saya memutuskan untuk berhenti membuang waktu. Saya tidak ingin larut dalam penyesalan atas kesalahan yang harusnya saya sadari dan saya perbaiki 7 tahun lalu. 

Meskipun saya baru memulai, saya hanya ingin mengatakan bahwa penyesalan terkait dengan urusan cinta (atau kata lainnya 'patah hati') bukanlah sesuatu yang harus diratapi berlama - lama. Waktu kita terlalu berharga untuk itu. Sehari setelah saya 'patah hati' saya bertekad pada diri saya sendiri: "saya sudah membuang banyak waktu untuk ini, saya tidak akan memikirkan mendapat ganti kamu segera atau berpikir bagaimana mendapatkan kamu kembali atau bagaimana mengembalikan kita agar tetap on track. saya akan membuat diri saya jauh lebih baik dari hari ini. saya akan membuat diri saya lebih bermakna di mata Tuhan. dan saya hanya akan memikirkan hal - hal postif setiap hari" . 

Begitulah. Kadang, kesalahan kita pada suatu hal, jika kita tidak fokus meratapi kesalahan itu akan lebih membukakan mata hati kita bahwa di luar sana begitu banyak kesempatan baik yang masih bisa kita raih. Apapun kesalahan kita. Saya sedang menjalani langkah pertama memanfaatkan kesempatan itu. Semoga saya diberikan kekkuatan menjalankan program "Positive Things" ini. 

Dan semoga, besok Bandung tidak terlalu macet. :)

salam hangat selalu, Tiech
Share:

"This is Only Work, Don't Take Things Personally" Keep That in Your Mind

Sebal rasanya ketika tengah malam ditanya progress kerja yang bukan prioritas dan bukan mendesak. Buat saya itu mengganggu. Saya tidak suka, tapi harus baik saja menyikapinya. Saya tidak ingin meminta orang lain untuk memahami karakter kerja saya, saya yang selalu menyesuaikan. Bukan berarti saya tidak tegas dengan karakter saya, namun dalam pekerjaan, harmonisasi itu penting. Kalau bukan pihak lain yang mengalah, kitalah yang mengalah. Begitu saya bekerja. tapi bukan berarti saya tidak mengeluh. Kekesalan itu perlu saya ucapkan atau dengan kata lain saya keluhkan, pada orang yang saya percaya. Pada orang yang saya anggap tidak akan menghakimi saya dan memaklumi sisi 'manusiawi' saya.

Dan bicara soal kerja, akhirnya saya paham maksud ungkapan ' jangan campurkan urusan kerja dan pribadi' (waduh, telat amat ya hehe). Dalam bekerja kita pasti menemukan perbedaan pendapat bahkan mungkin akan berargumen hebat dengan rekan kerja. Itu hal yang wajar. Toh orang yang berdebat dengan kita belum tentu orang yang jahat kan? Ini hanya soal karakter kerja, let's not take thing personally!. Jangan sampai berargumen, berdebat atau ketidakcocokan kita terhadap rekan kerja kemudian mempengaruhi kehidupan sosial kita dengan dia. Hey, that's not proffesional. Jangan sampai gara - gara soal pekerjaan kita jadi tidak mau menyapa rekan kerja saat berpapasan atau tidak sengaja bertemu di tempat lain. Harusnya begitu. Sejauh ini saya sedang mencoba untuk membedakan keduanya, tidak ada masalah. Tapi, saya tidak tahu jika nanti kedepan bertemu dengan rekan kerja yang berbeda. I hope i still can manage myself.
You always take thing personally. This is only work. Please keep that in mind!
(Rachel's words to Bayek in "Ibuk" by Iwan Setyawan)
Baiklah, seperti biasa tulisan saya sering pabalatak alias ga nyambung satu paragraf dengan yang lainnya. Ini menggambarkan betapa pikiran saya ini seperti kutu loncat. hahaha...
Sata tutup tulisan ini dengan menyitir dari Bukunya Rene Suhardono " Your Journey To Be The Ultimate U" yang pada halaman 77 menyitir ungkapan seorang filsuf kontemporer Erich Fromm:
"Be who you are, DO what you love and HAVE what you need"

Salam hangat, Tiech
Share:

"Ibuk"



“Kapan anak paling bontotku ini pulang?” kata Mamak sambil membelaiku yang sedang tiduran sambil membaca buku. Pertanyaan Mamak padaku sebulan lalu saat aku pulang kampung masih terngiang sampai hari ini. Dan malam ini, setelah membaca Ibuk, setiap membaca kalimat – kalimat Ibuk pada Bayek, aku seperti mendengar kalimat – kalimat dari Ibuku sendiri: ‘Mamak’. Meski tak sama persis. “Kalau ada uang menabunglah nak”. “Sudah saatnya kamu menikah nak”. Sudah saatnya kamu menata hidupmu nak”. “Sudahlah kerja disini saja, kamu perempuan sendirian disana buat Mamak selalu khawatir”. “Apapun pilihan hidupmu, Mamak selalu mendoakan yang terbaik dan mendukungmu”. Setiap kali ada kesempatan, semua kata – kata itu yang kudengar dari Mamak


Setelah setahun lalu ‘9 summers 10 autumns’, kali ini  ‘Ibuk’ dari Iwan Setyawan sekali lagi  membuat saya berjalan kembali ke masa lalu menyusuri kisah Mamak, Bapak, dan Kakak saya. Dengan airmata yang tak berhenti mengalir saya membuka notebook dan menuliskan perasaan saya. Selalu, ketika menuliskan tentang Mamak dan Bapak, mata ini tidak pernah kering. Saya yakin, saat menulis Ibuk, mas Iwan juga merasakan hal yang sama. 

Membaca Ibuk membuat saya paham, bahwa saya sedang menjalani proses kehidupan. Saat saya mengahdapi stress dan tekanan sangat berat di kantor saya sangat ingin resign dari situ, tapi saya bertahan mengingat misi saya belum selesai. Saya bertahan dan mengatakan ini pada diri saya: saya tidak akan kalah, saya tidak akan keluar hanya karena saya tidak sanggup. Saya hanya akan pergi saat saya merasa saya perlu belajar hal baru.  Saya sangat terkejut dan berulang kali menganggukkan kepala sambil mengatakan yes, that’s right saat saya membaca halaman 186 ‘Ibuk’. Juga ketika membaca tulisan cetak miring di halaman 204 ‘Ibuk’. Saya semakin mencintai Mamak, Bapak dan semua keluarga saya sejak saya mulai merantau. Saya juga selalu menghargai setiap detik waktu yang saya habiskan bersama mereka. Karena saya sadar, banyak momen penting bersama mereka yang telah saya lewatkan. 
Halaman 186

Halaman 204


Saya bungsu, manja, penakut juga tidak pernah jauh dari orang tua. Tapi kini saya merantau, jauh dari mereka. Saya menikmati kehidupan dan tantangan yang ada disini, di Bandung. Sama seperti Bayek, saya selalu merindukan kota kecil tempat kelahiran saya, Sambas, sebuah kota di utara Provinsi Kalimantan Barat yang sudah saya tinggalkan selama 8 tahun. Tapi saya merasa belum saatnya pulang, saya masih punya misi yang belum terselesaikan. 

Perjalanan hidup saya memang belum sepanjang Bayek. Tapi ceritanya dalam Ibuk, menguatkan langkah saya kembali untuk menyelesaikan misi saya. Saya tidak akan menyiakan doa, airmata dan kasih sayang Mamak dan Bapak yang telah membesarkan saya. Cerita hidup saya memang tidak sama dengan Bayek, tapi apa yang Bayek alami dan yang ia rasakan dulu, saya rasakan saat ini. Saya ingin pulang suatu hari nanti, menyelesaikan misi disini dan memulai misi yang baru di Sambas, juga....menulis. 

Ibuk memang Ibuk Bayek dan keempat saudara perempuannya, tapi buat saya beliau juga Ibuk saya, Ibuk semua orang yang membaca ini. Beliau telah mewariskan nilai – nilai hidup yang menginspirasi dan menguatkan banyak orang. Beliau telah memberikan cinta kasih dan sayang yang hangat, yang tidak hanya dirasakan anak- anak dan cucu-cucunya, namun juga kami yang membacanya dari tulisan Mas Iwan.

Saya cinta Ibuk juga Mamak saya.
"A mother knows what her child's gone through, even if she didn't see it herself " (Pramoedya Ananta Toer)
Thanks Mas Iwan Setyawan atas dua bukunya. Buku ini buat saya adalah buku kehidupan yang ditulis dengan hati. Saya akan selalu menunggu karya lainnya. 



Tulisan ini sejatinya bukan review atau resensi buku. Tapi lebih pada cerita melankolis tentang perasaan saya setelah membacanya. Dan maaf, sepertinya tulisan ini tidak terstruktur dengan baik. Saya sedang belajar menulis. Tapi kali ini perasaan saya mengalahkan ketakutan kesalahan dalam menulis juga mengalahkan kesanggupan untuk mengecek struktur kalimat hehe :). Harap maklum. 

Salam hangat, tiech.
Share:

Zona Nyaman

Hari ini, dari 7 (tujuh) target capaian kerja, kegiatan dan aktivitas saya, ada satu yang tidak saya selesaikan. Ini tentang target review dokumen, saya kira besok saya bisa kejar dengan kecepatan kerja 2x lipat dari kemarin. 

Tidak tercapainya target ini, tidak membuat saya tertekan, karena memang ini bukan pekerjaan mendesak. Lagipula ada satu pekerjaan yang lebih mendesak dan prioritas dan sudah  saya selesaikan melebihi target yang saya tentukan untuk hari ini.
Ya, terkadang dalam bekerja, target itu tidak selalu dapat tercapai sesuai rencana, namun pekerjaan prioritas lah yang perlu diselesaikan (halah ngomong apa saya ini #ga nyambung dengan judul) :) hehe.

Baiklah, mari kita kembali ke judul: Zona Nyaman. Seorang teman pernah berkata: 'menurut saya tidak salah kita memilih berada dalam zona nyaman. buat apa ikut- ikutan meninggalkan zona nyaman bila kita tidak paham esensinya'. Saya setuju dengan pendapat ini, tapi faktanya saya tidak selalu memilih berada pada zona nyaman. Perlu saya tergaskan, zona nyaman yang saya maksud disini adalah kondisi dimana saya sudah terbiasa dan sudah bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekitar saya tanpa perasaan tidak nyaman dengan orang maupun kondisi sekitar saya. 

Buat saya zona nyaman adalah ketika saya dapat bekerja secara harmoni dengan orang - orang disekitar saya tanpa ada perasaan tidak suka. Ketika saya dapat berdiskusi dengan banyak orang. Ketika ruang gerak saya tidak terhambat oleh hal - hal kecil. Ketika situasi dan kondisi kerja sesuai dengan yang saya harapkan. Singkatnya, zona nyaman bagi saya adalah ketika semakin banyak tantangan kerja yang berkurang. 

Lantas, masalahanya apa? Nope, tidak ada masalah bahkan ini menyenangkan dan membuat stress dalam hidup berkurang. Hanya saja kondisi ini berpotensi besar membuat saya jenuh dan produktivitas menurun.Lagipula, saya ini seperti kutu buku loncat (emang ada ya?), saya ingin belajar dari satu temat ke tempat lain. Ada saaatnya saya akan kembali mengabdi untuk pembangunan Sambas. 

Apa saya ingin keluar dan berhenti kerja dari sini? Tidak juga. Saya masih punya satu misi, yakni menyusun dokumen strategi pembangunan permukiman untuk Kabupaten Sambas (my hometown). Dan atas nama misi itu saya bertahan hingga akhir tahun ini. 

Tahun 2013? Saatnya perubahan baru, saya sudah siap untuk tantangan baru dan cerita - cerita menarik yang baru untuk hidup saya.

Tapi, apapun itu. Saya senang hari ini. Alhamdulillah dengan kuasa Allah saya bisa bekerja 95 % sesuai dengan rencana. Saya juga senang karena saya bisa melawan kemalasan diri untuk tidak menulis di Blog ini atau untuk tidak membaca buku hari ini. 

Saya belajar satu hal lagi hari ini: 
berhasil melawan kemalasan + berhasil melawan ketakutan = lapang dan senang hati :)

Baiklah, sampai disini saja untuk hari ini.

Oh ya, ini memang tidak nyambung dengan judul. Tapi zona nyaman mungkin juga bermakna saya bisa sarapan ini setiap hari. hehehe.


Salam hangat, tiech

Share:

You Hate Monday? I'm Not (Anymore).

Besok Senin. Hah, i hate monday!. 
Hey, jangan pernah membiarkan diri kita terus mengatakan itu. Hati - hati, sel - sel tubuh kita bereaksi sesuai dengan apa yang kita katakan. Itu yang selalu saya katakan pada diri saya setiap hari Senin menjelang. Faktanya, membiarkan saya membenci hari Senin membuat saya tidak bersemangat dan senang menunda - nunda selama seminggu kedepan.
Tapi saya punya cara yang cukup ampuh mengatasi penyakit ' i hate monday' ini. Sejauh ini, cocok pada saya, mungkin bisa cocok dengan Anda.



  1. setiap hari minggu, saya luangkan waktu untuk merencanakan target baik terkait pekerjaan, kegiatan pribadi maupun kegiatan lainnya. saya usahakan semuanya seimbang, tidak terlalu memberatkan pada porsi pekerjaan di kantor, karena itu akan membuat stress.
  2. berdoa. Semua target itu ada yang membantu kita menyelesaikannya, pertolongan Tuhan. Buat saya doa adalah sumber kekuatan dan mengingatkan bahwa semua yang saya rencanakan seminggu kedepan adalah demiNya.
  3. berusaha memenuhi target. Bilapun sama sekali tidak bisa, saya akan usahakan minimal target hari itu tercapai 75 %. Khusus untuk target pribadi seperti target baca buku, target baca Al Qur'an atau target menulis, saya selalu berusaha melakukannya, meskipun tidak 100 %. Yang penting saya tidak meninggalkan aktivitas itu.
  4. evaluasi target setiap hari. Selelah dan semalas apapun, saya berupaya untuk mengevaluasi pemenuhan target saya hari ini dan konsekuensinya untuk besok. Biasanya saya lakukan sebelum tidur. Evaluasi itu sangat baik demi menjaga agar target kerja tercapai tepat waktu. Juga agar semangat kerja seminggu ke depan tetap stabil, karena apabila ada beban kerja yang gagal diselesaikan pada hari ini, kita bisa mengatur strategi agar target hari ini dapat diselesaikan besok tanpa mengganggu pencapaian target di esok hari. 
Yah. Sederhana seperti itu saja. Tapi untuk saya, itu berrrraattt sekali memulainya. Setelah dilaksanakan, eh rupanya menyenangkan hidup seperti itu. Semoga saya tetap istiqomah begini :). Dan semoga bermanfaat bagi Anda juga.


salam hangat, tiech.
Share:

belajar menulis (lagi)

Saya sedang belajar menulis lagi. Menulis untuk kebaikan dan demi kontribusi saya pada orang banyak. #cieeeee :)
Belajar menuliskan ide - ide yang serabutan dan seperti kutu loncat yang ada dalam kepala saya. Semoga semua ide ini terwujud. #wish.
Share:

Apa Kontribusi Anda? (Your Journey To Be The UltimateU)

Pertanyaan ini adalah salah satu pertanyaan yang paling menohok saat saya membaca buku " Your Journey to be the Ultimate U". Kenapa?
Menghabiskan waktu selama lebih dari 9 jam sehari untuk suatu yang disebut 'pekerjaan' sudah lama membuat saya tidak nyaman. Saya terpenjara? Hmph! Bukan, tapi itu pilihan saya. Pilihan yang membuat saya selalu merasa tidak enak karena waktu bersama keluarga menjadi semakin sedikit, yang juga membuat sahabat - sahabat saya selalu malas mengajak saya jalan - jalan karena saya pasti beralasan: ' sedang sibuk'. 
Oh, rupanya alasan itu lah yang menjadi sebab saya membeli buku ini.

kiri atas: buku dan stikernya, gambar seterusnya beberapa stiker dan bagian buku favorit saya :)

Ada 40 bagian dalam buku, semuanya berwarna dan pada awal setiap bagian kita bisa menempelkan stiker sesuai keinginan kita. Saya selalu senang memilih satu diantara 40 untuk menyesuaikan isi dengan gambar stiker. :) Buku ini punya bahasa yang ringan, tidak menggurui dan menyenangkan sekali membaca setiap bagiannya. Saya, juga penulis tidak menganjurkan Anda membaca buku ini sekaligus dalam satu waktu. Setiap pesan dalam buku ini, meskipun singkat sekali, namun pesannya sangat dalam. Setiap kali menyelesaikan satu bagian, saya selalu berdiam sebentar dan merenungi pesan - pesannya. 
Buat saya, membacanya seperti mendapatkan kembali jawaban - jawaban yang sudah pernah saya jawab sendiri. Tidak ada quote yang membuat saya ingin menuliskannya di kertas warna - warni dan ditempel di meja kerja atau kamar tidur. Semua quote dan tulisan Mas Rene sudah menyatu dengan pemikiran saya. Buku ini istimewa, karena ia seperti berteriak kepada saya: Hei! think less, feel more!worry less, do more! DO WHAT YOU FEAR! 
Buku ini istimewa, karena kembali mengingatkan saya bahwa tujuan hidup di dunia ini adalah menjadi sebaik - baik muslim yang bermanfaat bagi semesta. Jika demikian, apa gunanya dikejar dengan kesibukan yang 'me -centered' dan mengabaikan kontribusi nyata bagi sekitar kita.
Kali ini, saya bertekad untuk memperbaiki diri. Mengabaikan semua ketakutan, pikiran dan kekhwatiran yang menghambat saya melakukan hal - hal baik untuk diri dan banyak orang. Karea saya tahu, cita - cita dan kontribusi kita hidup lebih lama daripada usia kita sendiri.

Lah, terus kenapa repot - repot nulis disini kalau baru sekedar bertekad? Hey, inilah awal kontribusi saya: berbagi. Berbagi cerita tentang sebuah buku yang mungkin akan mengubah Anda. :)

Oke. Let's Just Do it! Bismillah.

Salam, Tiha.
Share: