25.12.12

Merahasiakan

Cerita hari ini sebetulnya sudah masuk ranah pribadi. Tempatnya bukan disini. Tapi sekarang sedang hujan, dan saya teringat kata seorang penyair (yang sungguh saya lupa namanya dan juga lupa persis kata - katanya seperti apa :D), intinya sungguh keterlaluan hatimu bila dalam kondisi hujan seperti ini, tak tercipta satu puisi. Hak! Dan saya sudah menulis satu puisi hari ini, saat hujan. Hahaha, info yang sungguh tidak penting. Tapi puisi itu tidak akan saya bagi disini, isinya garing! Menandakan sudah cukup lama saya tak membaca dan lama pula tak berpuitis ria. Eh, tunggu dulu, jadi kaitan isi tulisan ini dengan judul diatas? (Tepok jidat).

Jadi begini, hari ini karena hari yang sendu, dan mungkin pengaruh psikis saya yang sedang melankolis ditambah dengan datangnya orang yang saat ini tidak ingin saya lihat, saya jadi merindukan drama dan tiba-tiba melakoni drama sore ini. Aishhh, drama yang buat saya ingin sekali curhat pada seorang sahabat. Tapi masalahnya kawan yang didekat saya ini Lelaki! Oh man, saya sudah lama sekali tidak curhat pada Pria. Cenderung menghindari. Tapi kali ini saya sedang kesal ditambah dengan suasana melankolis hati, jadi bertumpuk-tumpuk rasanya beban di hati.

Baiklah, mari kita curhat, saya juga butuh solusi sekarang!, begitu tekad saya tadi sore. Tahukan kalian kawan, apa yang terjadi? Begitu melihat wajahnya dan pekerjaan yang menumpuk di mejanya, saya urungkan niat dan sertamerta padamlah tekad saya. Yang ada, saya tersenyum riang dan ceria sekali didepannya.

Dan, saya teringat sesuatu. Hey, kamu tidak sendiri. Ada Allah, 'rahasiakanlah keluhanmu dari saudaramu, itu akan membebaninya', ada suara berbisik pada saya. Saya pun pergi, menerobos hujan, menangis bersama langit, merahasiakan yang terjadi dan menapaki bumi kembali. Tidak semua hal harus kau ceritakan Ti, begitu hati saya berkata.

Salam hangat, Tiech


0 comments: