Keputusan dan Perubahan

Perubahan tidak selalu menyenangkan. Meninggalkan zona nyaman yang tidak sepenuhnya nyaman juga bukan hal mudah. Pada awalnya, saya mengira jangan - jangan ini keputusan yang keliru. Tapi, bukankah saya sudah berdoa memohon petunjukNya lalu dengan mantap melangkahkan kaki dari sini? Lagipula keputusan ini adalah demi kebahagian orang - orang tersayang. Jadi, saya yakin ini keputusan yang terbaik.

Hari ini saya kembali ke tempat yang sempat saya rindukan tepat sehari sesudah meninggalkannya. Saya bertemu dengan semua orang. Disambut dengan gembira dan tawa. Sepulangnya dari sana, saya sepenuhnya sadar keputusan ini tidak keliru. Allah SWT sedang menyelamatkan saya dari fikir, perilaku, mata dan hati saya sendiri dari suatu kondisi. Kondisi dimana saya bisa hilang kendali karena terlampau menyukai seorang lelaki. Kondisi yang saya sebut drama.

Apa salahnya menyukai orang lain/ lelaki? Mungkin begitu pikiran banyak orang. Buat saya, itu masalah kalau status kami berdua tidak jelas. Terlebih kalau sampai orang ini menyita hidup saya tanpa dia menyukai saya. Saya bisa kehilangan kendali karena rasa suka dan saya benci itu. Saya memilih menjauh, dan membiarkan Tuhan memilihkan yang lain, lalu membiarkan saya jatuh bebas menyukai dan mencintai orang itu. 

Saya, hanya ingin menghindar dari drama. My time is too precious for another drama.
bagi yang hatinya belum jelas, menahan rasa itu menyiksa | namun bila belum pantas, katakan rasa hanya menambah sengsara (Felix Siauw)

Sumber Gambar: www.sodahead.com

 Tiech. 
Share:

Studying Public Policy : Pilihan Baik untuk Mempelajari Kebijakan Publik

Kebijakan publik, satu topik yang tidak akan pernah jauh dari kehidupan profesional perencana wilayah dan kota :). Kali ini saya berbagi info tentang satu buku yang cukup membantu Anda mempelajari Kebijakan Publik. Sebelumnya saya pernah menulis tentang refleksi bacaan untuk buku Public Policy yang ditulis Dr. Riant Nugroho. Berbeda dengan buku sebelumnya yang juga melibatkan konteks Indonesia dan berbagai praktek kebijakan publik di buku ini, saya kira lebih banyak konsep dan teori mempelajari  kebijakan publik dalam konteks yang lebih luas tentunya. Ah, tentu saja sesuai dengan judlnya; Studying Public Policy

Buku ini ditulis oleh Michael Howlett dan M. Ramesh terbitan Oxford University Press tahun 2003. Buku setebal 311 halaman dengan 11 bab ini pada awalnya direkomendasikan oleh senior saya saat saya mengatakan padanya saya sedang tertarik pada bidang Kebijakan Publik. Dan memang buku ini sangat membantu saya memahami kebijakan publik karena lingkup pembahasannya yang luas dan struktur pemaparannya yang mudah untuk dipahami. 

Apabila selama ini Anda hanya mengenal kebijakan publik dari William Dunn saja, saya kira ada baiknya Anda membaca buku ini. Buku ini membuka wawasan dan pemahaman bahwa kebijakan publik adalah materi yang kompleks, bukan sekedar tahapan - tahapan atau pekerjaan perumusan - pelaksanaan - evaluasi kebijakan. Salah satu yang saya sukai dari buku ini adalah pada setiap babnya akan ada kesimpulan dan "further readings" untuk kita menggali lebih jauh topik yang dibahas pada tiap bab. Mari kita intip apa saja isi buku ini:
Bagian 1: Pengantar, berisi berbagai tinjauan definisi dan pendekatan serta teori - teori kebijakan publik
Bagian 2: Institution, Actor and Instruments, dalam bagian ini Anda akan dikenalkan dengan pelaku dan lembaga terkait kebijakan publik, juga subsistem kebijakan publik serta berbagai klasifikasi kebijakan publik.
Bagian 3: The Public Policy Process, tentu saja ini berisi proses kebijakan publik yang umumnya sudah kita ketahui mulai dari perumusan hingga evaluasi. Proses kebijakan publik tersebut disajikan dalam cara yang berbeda, bukan sekedar pembahasan mengenai siklus kebijakan, namun juga kaitannya dengan subsistem kebijakan yang telah dibahas pada Bagian 2. Sejujurnya, bagian 3 ini adalah bagian paling menarik bagi saya :).
Bagian 4: Understanding Policy Change, bagian ini semacam pengingat atau catatan penting bahwa kebijakan publik baik upaya mempelajarinya maupun pada prakteknya merupakan sesuatu yang dinamis. 

Anda bisa mendapatkan buku ini di banyak toko buku online, dengan harga yang wajar (baca: agak mahal) tentunya. :). Atau dapat juga menitip pada rekan yang sedang di luar negeri. Ada baiknya saya menyertakan deskripsi buku ini dari Amazon.com:
June 5, 2003 0195417941 978-0195417944 2
"This book develops and analytical framework of the subject for those interested in public policy. Instead of focusing on the susbtantive policy of a particular policy area, the book examines the theoretical and conceptual foundations of, and approaches used in, the policy sciences."
 "Studies of public policymaking all to often apply general assumptions about political life to specific case studies. In Studying Public Policy, Michael Howlett and M. Ramesh argue that this approach does not do justice to the wealth of empirical studies pointing to a different set of factors responsible for general patterns of policymaking.

Following a discussion of the strengths and weaknesses of the existing approaches, the authors inventory current British, American and Canadian literature on policy actors, institutions, and instruments, and derive from that inventory the elements of an inductive, middle-range theory of public policymaking. The model developed in the book not only helps to unify theoretical and empirical studies, but identifies critical elements of the process of policy change of interest not only to specialists but also to practitioners in the field.
"
Sekian tinjauan bacaaan dari saya kali ini. Semoga bermanfaat! :)

Si Perencana Muda, Tiech
Sumber deskripsi dan gambar: 
  1. http://www.amazon.com/Studying-Public-Policy-Cycles-Subsystems/dp/0195409760/ref=cm_cr_pr_orig_subj
  2. http://www.amazon.com/Studying-Public-Policy-Cycles-Subsystems/dp/0195417941/ref=cm_cr_pr_orig_subj
Share:

Gadis Jeruk: Sederhana Namun Kaya Makna

Tidak Sengaja, Sprei Kamar Tidur Berwarna Orange
Ini adalah cerita tentang sebuah buku yang saya dapet minjem, boleh disebut resensi meskipun jauh dari kaidah - kaidah menulis resensi yang baik :)
Seharusnya saya bisa baca ini sejak tahun lalu, sejak kawan baik saya tertarik pada buku ini. Tapi dengan kekuatan bulan akhirnya kemarin saya sukses menyelesaikan membacanya dalam waktu kurang dari 24 jam! Cukup menunjukkan betapa saya menyukai cerita buku ini. Oh, buku yang saya baca adalah versi terjemahan Indonesia Gold Edition (Tahun 2011) terbitan Mizan dengan 252 halaman.

Buku ini ditulis oleh Jostein Gaarder, penulis yang kini tinggal di Norwegia dan juga menulis buku Best Seller Dunia Sophie. Katanya 'Dunia Sophie' ini  berbau - bau filosofis, kalau memang begitu maka tidak mengherankan kalau cerita Gadis Jeruk ini sangat sarat makna. Saya belum bisa berkomentar tentang Dunia Sophie karena buku ini masih masuk kategori to read, alias belum dibaca :).

Mari kembali ke Gadis Jeruk. Novel ini menuturkan kisah dari seorang anak laki - laki berusia 15 tahun bernama Georg yang pada suatu hari mendapatkan surat dari ayahnya yang sudah lama meninggal. Surat ini bercerita tentang masa lalu sang Ayah yang bertemu dengan seorang Gadis yang selalu membawa jeruk kemanapun dia pergi. Gadis ini, tatapannya, tingkah lakunya, jeruk yang selalu dibawanya itu bahkan keberadaaanya misterius bagi Sang Ayah. Upayanya menemukan keberadaan si gadis Jeruk membawanya hingga ke Spanyol, tempat tumbuh jeruk - jeruk itu. Tapi surat sang Ayah tidak hanya sebatas cerita tentang Gadis Jeruk ini. Kisah Gadis Jeruk sesungguhnya hanya pengantar,  yang membuat Sang Ayah lalu memikirkan teleskop, menimbulkan tanya tentang hidup dan pilihan, tentang dunia sekarang dan dunia setelah kematian. Semua hal yang sangat mungkin dipikirkan oleh seorang pesakitan yang sedang menanti ajal. Saya kira, Sang Ayah tidak hanya membawa masa mudanya dalam surat ini, namun juga sedang 'curhat' pada anaknya.

Kisah pencarian Gadis Jeruk saja bukan hal biasa bagi saya, detail tentang lingkungan sekitar, pakaian , tatapan mata, senyum dan gestur Gadis Jeruk yang dipaparkan oleh penulis sukses membuat saya merasa sedang berjalan mengikuti pencarian ini dan meyakini ada sesuatu dibalik semua misteri tentangnya. Dalam surat itu diceritakan isi pikiran Sang Ayah yang sangat menarik bagi saya, tidak hanya karena pilihan kata yang membuat pembaca bebas menginterpretasikan makna kata - kata tersebut, namun juga merenungi makna kehidupan. Seperti kalimat pada halaman 182:
"Dongeng hebat apakah yang sedang kita jalani dalam hidup ini, dan yang masing - masing dari kita hanya boleh mengalaminya untuk waktu yang sangat singkat? Mungkin teleskop ruang angkasa akan membantu kita untuk mengerti lebih banyak tentang hakikat dongeng ini suatu hari. Barangkali di luar sana, dibalik galaksi - galaksi, terdapat jawaban apa sebenarnya manusia itu" 
 Atau seperti kalimat pada halaman 210: 
"Akankah aku memilih untuk hidup di bumi setelah mengetahui dengan pasti bahwa aku akan tiba- tiba dicabut dari sana, dan barangkali di tengah - tengah kebahagiaan yang memabukkan? Atau, akankah aku, bahkan pada tahap yang paling awak, dengan hormat menolak untuk ikut dalam permainan ini? Kita datang ke dunia ini hanya sekali. Kita masuk ke dalam dongeng besar ini hanya untuk melihat ceritanya berakhir!

Diantara kita mungkin akan berhenti sebentar dan merenungi pertanyaan Sang Ayah ini, namun ada pula yang telah memiliki jawaban yang mantap akan ini semua. Apapun itu, saya rasa buku ini tidak sekedar menuturkan kisah perjalanan batin Georg selama membaca surat ayahnya atau kisah cinta sejati dan tak terbatasnya kasih sayang keluarga. Buku ini menyentil, mencoba mengusik dan mengulik pemaknaan sejati akan kehidupan. Begitu menurut saya.

Oh iya, Gadis Jeruk ini juga telah di buat versi filmnya dengan plot cerita yang sedikit berbeda dari novelnya. Hanya saja, saya tidak terlalu merekomendasikan filmnya. Terlalu banyak pesan, emosi dan nilai - nilai baik dalam cerita Gadis Jeruk yang hilang dalam film ini sehingga membuatnya terkesan sebagai kisah cinta biasa Atau mungkin memang itu sasaran film ini? Entahlah, yang jelas bagi saya film ini telah kehilangan makna Kisah Gadis Jeruk sebenarnya.



Semoga tulisan suka - suka hati saya ini bermanfaat. Selamat membaca!

Yang Lagi Suka Baca Tulis, Tiech


Share:

Skills For Planning Practice (Ted Kitchen): Buku Untuk Semua Kalangan Perencana

Tahun Terbit: 2007, New York
Heup. Saya kembali, membawa buku bacaan yang sebetulnya terkait dengan profesi saya saat ini sebagai Perencana Wilayah dan Kota. Hmm, profesi yang tidak banyak dikenal orang seperti Arsitek :). Di lain kesempatan akan saya ceritakan tentang profesi saya ini. Buku ini sudah cukup lama saya punya dan sudah saya baca seperlunya. Tapi, akhir - akhir ini saya merasa perlu membacanya kembali. Demi mendalami dan menguatkan kemampuan saya sebagai perencana (tsahhhh, gaya ya! hehe)

Buku ini berjudul : Skills For Planning Practice ditulis oleh Ted Kitchen yang merupakan seorang dosen di Sheffield Hallam University, Inggris. Buku ini, oleh beliau sendiri diakui merupakan pengalamannya selama menjadi praktisi perencanaan wilayah dan kota sebelum beliau  menjadi akademisi. Melihat tahun terbitnya, ini merupakan buku kategori baru. 
Skills For Planning Practice terdiri dari 10 bab, didahului dengan pengantar dan diakhiri dengan kesimpulan. 7 (tujuh) bab diantaranya merupakan pembahasan mendalam mengenai "skills" perencana dan satu bab tentang berbagai pendapat (atau teori?) dari berbagai pihak, perspektif, badan perencana dan dari sudut pandang profesional tentang "skills and quality" yang harus dimiliki oleh seorang perencana. Melihat struktur buku ini, penulis tidak sekedar menyampaikan pengalamannya selama bertahun - tahun menjadi praktisi, namun juga menyertakan pendapat dari berbagai perspektif. "Lebih setuju pada pedapat yang mana"saya kira bukan tujuan utamanya, namun cenderung mengingatkan pada perencana, terlebih perencana muda seperti saya bahwa ada keterampilan yang harus dimiliki selama bergelut dalam bidan perencanaan wilayah dan kota ini. Kemampuan yang tidak hanya sekedar berkutat pada kemampuan penguasaan teori namun juga kemampuan personal dan inter personal. 

Saya sendiri menyukai cara penulis bertutur dalam buku ini, dimulai dari pemahaman mengenai perencanaan itu sendiri. Satu pernyataan di awal bab pengantar yang menjadi dasar agar ada pemahaman yang sama mengenai perencanaan:
"The purpose of Urban and Regional Planning is to make places better for people"
"Make Places Better For People" bermakna lingkungan kehidupan yang lebih baik untuk manusia. Lingkupnya sangat luas, kesejahteraan ekonomi, keamanan sosial dan keberlanjutan lingkungan hidup ungtuk generasi sekarang maupun akan datang. 

Ada satu kalimat yang saya senangi dari bagian introduksi buku ini, bahwa kota/ daerah yang kita tinggali bukan sekedar hasil bentukan atau tanggung jawab pemerintah, dewan rakyat atau badan perencanaan namun lihatlah kota sebagai hasil bentukan aktivitas semua anggota masyarakat yang dipengaruhi oleh banyak faktor, dilakukan oleh individu maupun kelompok yang berbeda. Bagaimana masyarakat membentuknya? Ah, saya teringat kota kelahiran saya yang setahun terakhir cukup berkembang. Di kota kelahiran saya, hampir semua rumah di pinggir jalan utama memiliki warung, dan hampir sepanjang jalan utama dipenuhi dengan ruko - ruko. Padahal 5 tahun sebelumnya masih banyak lahan kosong dan rumah hanyalah rumah biasa. Pernah membayangkan seisi kota dipenuhi ruko yang tidak semuanya terisi? Seperti itulah aktivitas masyarakat membentuk ruang kota.
"By considering urban life as a whole and recognising that responsibility rests with us all, we can further improve the quality of urban life" (Introduction-Page 3)
Yap, dan itu sebabnya pula butuh ilmu perencanaan wilayah dan kota. Ada aktivitas yang harus ditampung oleh ruang hidup kita, tapi ruang yang bisa kita tinggali di bumi ini terbatas. Jadi, sebatas apa ilmu ini? Ah, hampir dapat dikatakan sulit mencari batasannya, selama dalam kerangka "Make Places Better For People" saya masih mengkategorikan itu perencanaan wilayah dan kota :)
Luasnya lingkup perencanaan wilayah dan kota, juga banyaknya jenis kepentingan yang harus dihadapi  semasa menempuh kuliah sarjana saya dijejali dengan berbagai macam ilmu. Ilmu perpetaan, statistik manajemen, kebijakan publik, administrasi publik, teknik presentasi, perancangan tapak (site plan), transportasi, perumahan, keuangan, politik, sosial dan ekonomi. Wow, saya sendiri masih merasa ajaib dengan semua ilmu yang saya pelajari selama 4 tahun. Hasilnya? Saya benar - benar lupa (hehe) padahal kebanyakan yang dipelajari hanya sebatas 'kulit' ilmunya saja. Sejujurnya, saya baru memahami sepenuhnya alasan saya mempelajari semua materi itu setelah saya bekerja. Setiap kali ada proyek saya selalu tersadar: "ah, ini sebabnya saya dulu dikasih materi ini!" Alhasil, setiap kali terlibat proyek, saya masih harus buka-buka buku teks lagi bahkan untuk materi sederhana sekali pun saya masih membuka buku kuliah. :) Wah, sia - sia dong kuliahnya? Tidak juga, kuliah ini mengajarkan saya berkomunikasi dan berpresentasi, bekerja dalam tekanan, bekerja dalam tim, berpikir struktural dan komprehensif dengan melibatkan berbagai perspektif. Yang kemudian saya pahami sebagai basic skill yang harus dimiliki perencana. 

Saya memang baru 4 tahun dalam dunia profesional ini, namun ketika membaca 7 Skills for Planning Practice ini saya tidak punya pilihan selain sepakat dengan Ted Kitchen :D. Apa saja ketujuh skill tersebut? Ini dia:
  1. Technical Skills/ Kemampuan Teknis, saya memahami ini sebagai kemampuan untuk memahami peta, menggunakan peta, menganalisis data dan kemampuan analisis lainnya.
  2. Planning system and process skill, karena perencaanaan selalu terkait dengan pemerintahan maka dibutuhkan keterampilan memahami sistem perencanaan berikut proses dan prosedurnya
  3. Place skills, dibutuhkan karena memang tempat/ ruanglah yang menjadi tujuan perencanaan
  4. Customer Skills, pernah ada dosen yang mengatakan ini pada saya: "planning di Indonesia itu gimana bohir" (bohir: pemberi kerja/ klien yang biasanya adalah pemerintah). Penting untuk menjawab kebutuhan klien, namun perencana juga perlu memperhatikan siapa yang mendapatkan manfaat dan terkena dampak dari suatu pekerjaan. Kembali ke tujuan awal perencanaan: "Make Places Better For People"
  5. Personal Skills, ini tentang bagaimana seorang perencana menyampaikan pemikiran dan ide- idenya, berinteraksi baik dalam tulisan maupun saat bertatatapan langsung. Intinya kemampuan komunikasi dan interaksi yang baik.
  6. Organizational, managerial and political context skills, proses perencanaan tidak lepas dari konteks organisasi baik dalam tim perencana itu sendiri, maupun terkait dengan pemerintahan dan politik.
  7. synoptic and integrative skills, karena adanya kebutuhan untuk melihat suatu isu dari segala perspektif dan secara holistik maka seorang perencana harus memiliki kemampuan untuk memahami "big picture' dari pekerjaan yang dihadapinya. Ini adalah salah satu peran kritis. Saya memahaminya sebagai kemampuan berpikir sistem atau dengan kata lain memandang sesuatu dalam kerangka sistem yang elemennya terkait satu sama lainnya.
Ketujuh skills ini dibahas satu per satu dalam buku ini, namun dalam praktek perencanaan tentu saja semuanya digunakan dalam kesatuan yang utuh. Tidak semua orang memiliki kemampuan hebat dalam ketujuh keterampilan tersebut. Pasti ada skill yang lebih mendominasi, namun jika bekerja dalam tim kekurangan ini dapat ditutupi. Masing - masing anggota tim dapat saling melengkapi dan menguatkan hasil kerja.

Bagi saya, buku ini penting dimiliki perencana muda seperti saya dalam mengembangkan karir profesionalnya. Terlebih lagi bagi perencana yang bergerak di dunia konsultan (praktisi). Pengalaman yang diceritakan memang seputar perencanaan di Inggris yang notabene memiliki perbedaan sistem politik, pemerintahan dan ideologi bahkan sistem perencanaan pembangunan yang berbeda dengan Indonesia. Namun, sebagaimana yang dikatakan oleh penulis (Ted Kitchen) esensi dari semua perencanaan adalah sama yakni bertujuan menciptakan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik.

Semoga review ini bermanfaat. Selamat Membaca!

Si Perencana Muda, Tiech
Share:

Refleksi Singkat Bacaan Motivasi Muslim

Saya hanya ingin sekedar berbagi, bukan mengajari apalagi menghakimi. Kalimat - kalimat ini, mengingatkan saya yang sempat kehilangan makna dalam bergerak. Kalimat ini sederhana dalam pilihan kata, tapi cukup kuat menepuk saya ketika memutuskan banyak hal dalam hidup. Dalam fase perubahan kali ini, saya menyadari bahwa sekalipun harapan dan keinginan kita berada 5 cm didepan mata, ada banyak hal di luar kendali dan diluar jangkauan panca indera kita. Keinginan dan cita - cita itu, sudahkah didasarkan pada niat untuk mendekatkan diri kepadaNya, sudahkah dibingkai dalam kerangka ibadah? Sudahkah Allah saya libatkan dalam setiap keputusan yang saya buat? Sudahkah saya merelakan, melepaskan dengan ikhlas apa yang memang bukan milik saya. Mengingat ini semua, hati saya rasanya diremas dan mata mulai memanas. Reaksi tiap orang mungkin berbeda tergantung kepekaan hati dan kekuatan mental tentunya. Kutipan kicauan ini saya ambil dari bukunya Asma Nadia "Twitografi". Ah, bukunya yang satu lagi "Catatan Hati di Setiap Doaku" juga lebih seru, inspiratif sekaligus membuat kita berkaca untuk memperbaiki doa dan etika berdoa kepadaNya. Semoga bermanfaat.

Yang Lagi Suka Baca Tulis, Tiech


Share: