Skills For Planning Practice (Ted Kitchen): Buku Untuk Semua Kalangan Perencana

Tahun Terbit: 2007, New York
Heup. Saya kembali, membawa buku bacaan yang sebetulnya terkait dengan profesi saya saat ini sebagai Perencana Wilayah dan Kota. Hmm, profesi yang tidak banyak dikenal orang seperti Arsitek :). Di lain kesempatan akan saya ceritakan tentang profesi saya ini. Buku ini sudah cukup lama saya punya dan sudah saya baca seperlunya. Tapi, akhir - akhir ini saya merasa perlu membacanya kembali. Demi mendalami dan menguatkan kemampuan saya sebagai perencana (tsahhhh, gaya ya! hehe)

Buku ini berjudul : Skills For Planning Practice ditulis oleh Ted Kitchen yang merupakan seorang dosen di Sheffield Hallam University, Inggris. Buku ini, oleh beliau sendiri diakui merupakan pengalamannya selama menjadi praktisi perencanaan wilayah dan kota sebelum beliau  menjadi akademisi. Melihat tahun terbitnya, ini merupakan buku kategori baru. 
Skills For Planning Practice terdiri dari 10 bab, didahului dengan pengantar dan diakhiri dengan kesimpulan. 7 (tujuh) bab diantaranya merupakan pembahasan mendalam mengenai "skills" perencana dan satu bab tentang berbagai pendapat (atau teori?) dari berbagai pihak, perspektif, badan perencana dan dari sudut pandang profesional tentang "skills and quality" yang harus dimiliki oleh seorang perencana. Melihat struktur buku ini, penulis tidak sekedar menyampaikan pengalamannya selama bertahun - tahun menjadi praktisi, namun juga menyertakan pendapat dari berbagai perspektif. "Lebih setuju pada pedapat yang mana"saya kira bukan tujuan utamanya, namun cenderung mengingatkan pada perencana, terlebih perencana muda seperti saya bahwa ada keterampilan yang harus dimiliki selama bergelut dalam bidan perencanaan wilayah dan kota ini. Kemampuan yang tidak hanya sekedar berkutat pada kemampuan penguasaan teori namun juga kemampuan personal dan inter personal. 

Saya sendiri menyukai cara penulis bertutur dalam buku ini, dimulai dari pemahaman mengenai perencanaan itu sendiri. Satu pernyataan di awal bab pengantar yang menjadi dasar agar ada pemahaman yang sama mengenai perencanaan:
"The purpose of Urban and Regional Planning is to make places better for people"
"Make Places Better For People" bermakna lingkungan kehidupan yang lebih baik untuk manusia. Lingkupnya sangat luas, kesejahteraan ekonomi, keamanan sosial dan keberlanjutan lingkungan hidup ungtuk generasi sekarang maupun akan datang. 

Ada satu kalimat yang saya senangi dari bagian introduksi buku ini, bahwa kota/ daerah yang kita tinggali bukan sekedar hasil bentukan atau tanggung jawab pemerintah, dewan rakyat atau badan perencanaan namun lihatlah kota sebagai hasil bentukan aktivitas semua anggota masyarakat yang dipengaruhi oleh banyak faktor, dilakukan oleh individu maupun kelompok yang berbeda. Bagaimana masyarakat membentuknya? Ah, saya teringat kota kelahiran saya yang setahun terakhir cukup berkembang. Di kota kelahiran saya, hampir semua rumah di pinggir jalan utama memiliki warung, dan hampir sepanjang jalan utama dipenuhi dengan ruko - ruko. Padahal 5 tahun sebelumnya masih banyak lahan kosong dan rumah hanyalah rumah biasa. Pernah membayangkan seisi kota dipenuhi ruko yang tidak semuanya terisi? Seperti itulah aktivitas masyarakat membentuk ruang kota.
"By considering urban life as a whole and recognising that responsibility rests with us all, we can further improve the quality of urban life" (Introduction-Page 3)
Yap, dan itu sebabnya pula butuh ilmu perencanaan wilayah dan kota. Ada aktivitas yang harus ditampung oleh ruang hidup kita, tapi ruang yang bisa kita tinggali di bumi ini terbatas. Jadi, sebatas apa ilmu ini? Ah, hampir dapat dikatakan sulit mencari batasannya, selama dalam kerangka "Make Places Better For People" saya masih mengkategorikan itu perencanaan wilayah dan kota :)
Luasnya lingkup perencanaan wilayah dan kota, juga banyaknya jenis kepentingan yang harus dihadapi  semasa menempuh kuliah sarjana saya dijejali dengan berbagai macam ilmu. Ilmu perpetaan, statistik manajemen, kebijakan publik, administrasi publik, teknik presentasi, perancangan tapak (site plan), transportasi, perumahan, keuangan, politik, sosial dan ekonomi. Wow, saya sendiri masih merasa ajaib dengan semua ilmu yang saya pelajari selama 4 tahun. Hasilnya? Saya benar - benar lupa (hehe) padahal kebanyakan yang dipelajari hanya sebatas 'kulit' ilmunya saja. Sejujurnya, saya baru memahami sepenuhnya alasan saya mempelajari semua materi itu setelah saya bekerja. Setiap kali ada proyek saya selalu tersadar: "ah, ini sebabnya saya dulu dikasih materi ini!" Alhasil, setiap kali terlibat proyek, saya masih harus buka-buka buku teks lagi bahkan untuk materi sederhana sekali pun saya masih membuka buku kuliah. :) Wah, sia - sia dong kuliahnya? Tidak juga, kuliah ini mengajarkan saya berkomunikasi dan berpresentasi, bekerja dalam tekanan, bekerja dalam tim, berpikir struktural dan komprehensif dengan melibatkan berbagai perspektif. Yang kemudian saya pahami sebagai basic skill yang harus dimiliki perencana. 

Saya memang baru 4 tahun dalam dunia profesional ini, namun ketika membaca 7 Skills for Planning Practice ini saya tidak punya pilihan selain sepakat dengan Ted Kitchen :D. Apa saja ketujuh skill tersebut? Ini dia:
  1. Technical Skills/ Kemampuan Teknis, saya memahami ini sebagai kemampuan untuk memahami peta, menggunakan peta, menganalisis data dan kemampuan analisis lainnya.
  2. Planning system and process skill, karena perencaanaan selalu terkait dengan pemerintahan maka dibutuhkan keterampilan memahami sistem perencanaan berikut proses dan prosedurnya
  3. Place skills, dibutuhkan karena memang tempat/ ruanglah yang menjadi tujuan perencanaan
  4. Customer Skills, pernah ada dosen yang mengatakan ini pada saya: "planning di Indonesia itu gimana bohir" (bohir: pemberi kerja/ klien yang biasanya adalah pemerintah). Penting untuk menjawab kebutuhan klien, namun perencana juga perlu memperhatikan siapa yang mendapatkan manfaat dan terkena dampak dari suatu pekerjaan. Kembali ke tujuan awal perencanaan: "Make Places Better For People"
  5. Personal Skills, ini tentang bagaimana seorang perencana menyampaikan pemikiran dan ide- idenya, berinteraksi baik dalam tulisan maupun saat bertatatapan langsung. Intinya kemampuan komunikasi dan interaksi yang baik.
  6. Organizational, managerial and political context skills, proses perencanaan tidak lepas dari konteks organisasi baik dalam tim perencana itu sendiri, maupun terkait dengan pemerintahan dan politik.
  7. synoptic and integrative skills, karena adanya kebutuhan untuk melihat suatu isu dari segala perspektif dan secara holistik maka seorang perencana harus memiliki kemampuan untuk memahami "big picture' dari pekerjaan yang dihadapinya. Ini adalah salah satu peran kritis. Saya memahaminya sebagai kemampuan berpikir sistem atau dengan kata lain memandang sesuatu dalam kerangka sistem yang elemennya terkait satu sama lainnya.
Ketujuh skills ini dibahas satu per satu dalam buku ini, namun dalam praktek perencanaan tentu saja semuanya digunakan dalam kesatuan yang utuh. Tidak semua orang memiliki kemampuan hebat dalam ketujuh keterampilan tersebut. Pasti ada skill yang lebih mendominasi, namun jika bekerja dalam tim kekurangan ini dapat ditutupi. Masing - masing anggota tim dapat saling melengkapi dan menguatkan hasil kerja.

Bagi saya, buku ini penting dimiliki perencana muda seperti saya dalam mengembangkan karir profesionalnya. Terlebih lagi bagi perencana yang bergerak di dunia konsultan (praktisi). Pengalaman yang diceritakan memang seputar perencanaan di Inggris yang notabene memiliki perbedaan sistem politik, pemerintahan dan ideologi bahkan sistem perencanaan pembangunan yang berbeda dengan Indonesia. Namun, sebagaimana yang dikatakan oleh penulis (Ted Kitchen) esensi dari semua perencanaan adalah sama yakni bertujuan menciptakan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik.

Semoga review ini bermanfaat. Selamat Membaca!

Si Perencana Muda, Tiech
Share:

No comments: