Cerita tentang Parenting: Cuap - cuap di Hari Kartini

Malam ini saya sulit sekali memejamkan mata. Buku sudah habis dibaca, tangan juga sudah mulai rindu keletak keletuk di atas tuts keyboard. Menulis tentang apa ya? Berhubung besok adalah hari Kartini, saya ingin cuap -cuap soal Kartini dan Parenting.

Parenting? Hmm, kedengarannya seperti saya sedang menjalankan peran seorang ibu ya. :) Bukan saudara - saudara. Saya ini lajang berkualitas tinggi yang sedang mencari pasangan *eh* (malah promosi). Sudah lama ingin menulis tentang ini, hanya saja ingin menunggu momen yang tepat. Tepatnya saat saya menghabiskan hampir sepenuh waktu saya bersama anak - anak. Seperti sekarang ini, bersama anak - anak kakak - kakak saya yang terlantar karena ibu ayahnya bekerja dan tidak memiliki pengasuh juga asisten rumah tangga.
Anak - anak ini, meski tidak semuanya sepenuhnya dalam asuhan saya (ada 6 cyyyin, super repot kalau saya urus sendirian) membuat saya memikirkan dan mempelajari banyak hal. Yang saya pikirkan, anak - anak saya nantinya seperti apa dan bagaimana ya? Yang saya pelajari, kesabaran, metode membimbing anak, mengasuh anak dan kasih sayang. Ah, saya juga menyadari betapa melelahkannya menjadi ibu dan membesarkan anak - anak. Menghadapi fase demi fase perkembangan fisik dan psikis anak juga menyiapkan anak untuk menghadapi dunia ini sendirian itu, bukan perkara gampang. Butuh kesabaran, ketenangan, pengetahuan, strategi juga sumber dana yang cukup :). Terlebih dengan pola pergaulan dan kondisi dunia seperti sekarang. Bila terpikirkan hal ini, saya selalu bersyukur karena dibesarkan oleh ibu seperti mama' saya. Terlepas dari segala kekurangan dalam caranya mendidik saya, Mama' cukup berhasil menyiapkan saya menjadi manusia baik. Saya sendiri tidak percaya diri apakah saya nantinya mampu mendidik anak dengan baik setidaknya seperti yang Mama' lakukan.

Lalu apa urusannya soal parenting dengan Ibu Kita Kartini putri sejati, putri yang mulia harum namanyaaa (malah nyanyi, hehe). Saya sudah sejak zaman orde mahasiswa  dulu, tidak begitu antusias dengan peringatan hari Kartini yang dikaitkan dengan upaya Ibu Kartini menyetarakan kedudukan perempuan dan laki - laki. Buat saya, apa yang beliau perjuangkan bukan sekedar 'penyetaraan' laki - laki dan perempuan (malah sejujurnya saya kira bukan itu alasannya). Toh, laki - laki dan perempuan masing - masing memiliki kewajiban dan kodratnya sendiri.

Pendidikan bagi perempuan itu penting, karena ia adalah calon ibu, pendidik manusia yang paling pertmaa. Pendidikan akan besar pengaruhnya dalam membentuk ibu yang juga siap menghasilkan anak - anak menjadi generasi yang berkualitas. Seperti kutipan yang saya share siang ini di akun Facebook saya:
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

(kutipan surat RA Kartini kepada Prof Anton dan istrinya, 4 Oktober 1902)

Bukan bermaksud skeptis atau berprasangka, namun masih banyak orang - orang di sekitar kita (termasuk mama saya sendiri) yang melupakan tentang ini. Mama saya menyekolahkan saya sampai sarjana, agar demi saya tidak terperangkap dalam dapur dan pekerjaan rumah tangga serta setara dengan para lelaki di luar sana. Saya sendiri, sejak awal kuliah mengingatkan pada diri sendiri bahwa pendidikan, formal ataupun tidak, adalah cara saya mengembangkan kapasitas diri saya untuk menjadi ibu yang berkualitas sehingga akan menghasilkan generasi yang berkualitas pula. Apa mimpi yang paling nyata buat saya? Jawabannya adalah menjadi ibu, mendedikasikan seluruh ilmu untuk membentuk generasi pejuang (lagi - lagi, promosi dan pencitraan diri hehe). Saya tetap akan sekolah, juga menempuh dan mempelajari ilmu lain di luar keprofesian. Kalau Ibu Kartini masih ada, saya kira beliau akan sangat bangga pada saya dan berharap lebih banyak perempuan ber'pendidikan' tetap menjalankan kodrat dan tugasnya sebagai perempuan. Kita ini perempuan, punya kuasa dan pengaruh besar bagi kemajuan generasi. Di tangan kita lah terbentuk karakter anak dan generasi selanjutnya. :D

Saya sadar, tulisan ini sungguh tidak beraturan. Tapi, pikiran di otak ini sungguh belum setara dengan kecepatan saya menyusun kata dan menuangkannya dalam ketikan. Juga tidak sebanding dengan rasa kantuk yang mulai menyerang karena sudah hampir tengah malam. Mohon dimaafkan dan dimaklumi. Saya hanya ingin berbagi dan juga promosi. :))

Terima Kasih,
Salam sayang dari Perempuan Sholehah, Tiech
Share:

No comments: