29.1.14

Melawat Kuching, Sarawak Malaysia

Kuching, merupakan ibukota Sarawak, salah satu negara bagian di Malaysia Timur (semacam ibukota Provinsi kalau di Indonesia). Negara bagian ini berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Barat, salah satunya dengan kampung halaman saya, Sambas. Tentu saja, berpergian dari Sambas menuju kota - kota di Sarawak termasuk Kuching tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Lewat darat, perjalanan dapat ditempuh dalam waktu antara 5 - 12 jam (tergantung kondisi jalan dan jalur yang diambil). Kalau ingin lewat udara, sudah tersedia penerbangan langsung ke Kota Kuching dari Kota Pontianak, dengan pesawat Boeing milik maskapi Express Air dengan waktu tempuh sekitar 35 menit atau pesawat jenis ATR milik MASWings dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Harga tiket mulai dari Rp 500.000.

Jenis Pesawat ATR72-600 yang melayani penerbangan rute Kuching - Pontianak
Saya sendiri, belum pernah berpergian lewat jalur darat (beuuhhh, sombong hehe) karena dari berita yang saya dengar, jalan di daerah Sanggau rusak parah. Padahal, tujuan saya ke Kuching untuk menemani Mama yang akan berobat. Kalau dibawa lewat darat, bisa tambah sakit dibuatnya. :)).

Banyak orang Indonesia terutama dari Kalimantan Barat yang berobat ke Kuching, beberapa yang terkenal adalah KPJ Hospital, Normah Medical Specialist Centre dan C.S Ling Eye Specialist Centre. Selain karena jaraknya yang lebih dekat (dibandingkan harus ke Jakarta atau Bandung), pengobatan di Kuching dianggap lebih bagus dari segi pelayanan, ketepatan diagnosa dan kebanyakan yang berobat disana sembuh atau minimal mengalami perbaikan kondisi. Kalau Anda ke Kuching menggunakan pesawat, sangat mudah menemukan mereka yang tujuan berangkatnya adalah untuk berobat.

Salah Satu Pusat Perobatan Mata di Kuching yang dikenal bagus, Ijazah dan Sertifikat yang menyatakan Sang Dokter merupakan Anggota dari Asosiasi Dokter Spesialis Mata Malaysia dipajang di koridor klinik
Sejak bulan September tahun 2013, hampir setiap bulan saya dan mama rutin mengunjungi Kuching. Saya menyukai kota ini sejak pertama kali menjejakkan kaki disini. Kota nya bersih, tertata dan tidak sumpek seperti banyak kota yang ada di Kalimantan Barat. Di kota ini saya menemukan jalan raya yang lebar, mulus dan bundaran yang sangat besar. 
Kawasan Perumahan di Kuching, Sarawak. Type rumahnya sederhana, tapi jalannya lebar, dan tersedia area untuk parkir. di pinggir jalan. 
 Selama di Kuching, kami selalu menginap di tempat saudara, disediakan makan, transport dan lain - lain GRATIS. Akibatnya, saya dan mama tidak pernah tahu cost makan, transport dan penginapan di Kuching. Karena perasaan 'tidak enak selalu merepotkan', pada perjalanan awal Januari lalu, saya dan mama memutuskan untuk pergi diam - diam alias tidak memberitahukan saudara bahwa kami ke Kuching. Kami memutuskan menginap di hotel. Kawan Bapak merekomendasikan Laila Inn. Beruntung ada Google, saya jadi tahu kalau ternyata hotel ini adalah Budget Hotel yang cukup dekat dengan Waterfront Kuching dan juga Pusat Spesialis Mata yang akan kami datangi. Intinya, letak hotel ini sangat strategis, mudah belanja, mudah jalan - jalan, dan mudah ke tempat perobatan (termasuk ke Normah Medical Specialist).
Jika menggunakan taksi dari Kuching International Airport, harga kupon taksi ke Hotel ini adalah RM 26 dengan waktu tempuh sekitar 20 menit.

Yang ingin tahu lebih lengkap tentang hotel Laila Inn, silahkan lihat review hotel di blog Fatin disini.

Penampakan Laila Inn, Kuching. Tampak kusam sih, tapi menginap disini cukup nyaman.
Room Rate untuk Kamar double bed sekitar RM 69 
Urusan makanan, rata - rata kisaran harga makanan adalah RM 5-6 per porsi, dan di Kuching ini banyak banget yang namanya Ayam Penyet dan Nasi Ayam. Rata - rata warung nasi menjualnya. Kalau ingin mencoba makanan khasnya, ada Mee Kolok dan Laksa Sarawak. Saya paling suka Laksa Sarawak, Roti Canai dan tentunya Teh Tarik. Oh, iya di dekat Laila Inn ini ada satu Kantin yang selalu ramai saat sore hari, namnya Swee Kang Ais Kacang. Ada banyak cemilan dan minuman disini, sayang sekali saya selalu lupa memotret tempat ini. Saya belum pernah ke kantin itu, karena Mama lebih suka ke warung yang ada nasinya. 
makanan di Kuching, Sarawak
Setelah selesai dengan urusan pengobatan, kami masih punya waktu 1 (satu) hari sebelum kembali ke Pontianak. Saya memutuskan mengajak Mama jalan - jalan ke Museum Kucing dan Kuching Waterfront. Tentu ini kunjungan pertama saya, tapi kunjungan kesekian kali buat Mama yang memang sudah beberapa kali jalan - jalan di Kuching.

Museum Kucing atau Cat Museum of Kuching merupakan museum yang memuat koleksi beragam jenis kucing sampai kucing - kucingan (maksudnya sejenis hello kitty, doraemon, dan garfield hehehe). Museum ini juga berisi informasi tentang perkembangan fisik Kota Kuching, dan sejarah dinamakannya kota ini sebagai 'Kuching'. Museum ini buka dari pukul 09.00 - 17.00, dan masuk kesini gratis, kecuali bagi para pembawa kamera dikenakan biaya  RM 3 untuk mobile camera (kamera hp)dan RM 4 untuk digital camera (kamera saku).

Museum Kucing terletak di Dewan Bandaraya Kuching Utara, tidak jauh dari pusat kota Kuching




Miawww, Patung Kucing paling lucu buat saya :))
Koleksi Patung Berbagai Jenis Kucing
Ada Hello Kitty  di sini
Doraemon 
Sejarah Perkembangan Kota Kuching juga ada di Museum ini
Dari hotel, kami menggunakan taksi ke Museum ini. Katanya sih ada Bis Umum menuju kesini, tapi mempertimbangkan kondisi Mama, saya memilih menggunakan taksi dengan biaya RM 50 Pulang Pergi (sudah termasuk biaya taksi menunggu kami di parkiran, selama hampir 1 jam). 
Sebelah Kiri Mobil Berwarna Kuning: Taksi yang kami gunakan, sedang parkir di depan Gedung Dewan Bandaraya Kuching Utara
Dari Depan Gedung yang berada di kawasan perbukitan ini, kita bisa melihat Kota Kuching
(Foto seadanya, karena ga enak udah lama ninggalin supir taksi :D) 
Dari Museum Kucing, saya dan Mama melanjutkan perjalanan ke Kuching Waterfront yang tidak begitu jauh dari penginapan kami. Setelah bersantai dan makan siang di sana, kami kemudian kembali ke penginapan dengan berjalan kaki. Jarak yang kami tempuh berdasarkan perkiraan Google Maps sekitar 1,2 Km dengan waktu tempuh dengan kecepatan normal 16 menit. Tapi jalan kaki disini, tidak terlalu terasa jauh, karena selain melewati taman - taman yang menenangkan, kita juga akan melewati pertokoan (Market) dan Masjid Negeri Sarawak (semacam masjid agung kalau di Indonesia). 

Dewan Negeri Sarawak (Semacam Gedung DPRD), Arsitekturnya yang unik ini kata saudara saya bertujuan untuk menangkal ion negatif  (aura negatif mungkin maksudnya) masuk di Dewan. Jadi anggota dewan bisa pada kerja yang bener buat rakyat kayaknya :)
Kuching Waterfront, ada water taxi juga buat mengelilingi Sungai Sentubong, jadwal perjalanannya pukul 10.00 dan 17.00
Sisi Lain Waterfront dengan kios - kios Pedagang Kaki Lima yang bersih banget
Lunch di Meeting Point. Kami membeli Nasi Lemak (semacam Nasi Uduk), Tahu Goreng dan Air Kelapa Muda di salah satu kios PKL dekat Meeting Point.  All for RM 9.5.
Mama' lagi nungguin saya beli rujak sambil duduk di kursi taman di Waterfront. Dalam perjalanan pulang, kami jajan macam - macam dari gorengan sampe rujak buah. 

Salah Satu Sisi Waterfront yang jadi tempat nongkrong Anak Muda Kuching, mau ada live music di lapangan ini, tapi tiba- tiba turun hujan
Salah satu taman yang kami lewati di Jalan Gambir (dalam perjalanan kembali ke penginapan)
Persimpangan Jalan Main Bazar (Waterfront), Ruko di depan ini kebanyakan menjual Kue Lapis yang merupakan oleh - oleh khas Kuching, Sarawak (samalah seperti Sambas dan Pontianak, Kalimantan Barat)
Pertokoan Tua di Jalan Gambir, Jalannya cukup sempit (mirip Pontianak) dan tidak ada tempat parkir. Tapi, saya suka jalan ini (yang hitam diatas langit itu, adalah sekumpulan burung yang sedang berterbangan)
Tandas Umum : WC/ Kamar Mandi Umum. Di waterfront dan sekitarnya, juga di dekat market sangat mudah menemukan toilet umum seperti ini, cukup membayar 20 sen saja untuk menggunakan fasilitas umum yang cukup bersih ini. Oh ya, biasanya di toilet umum seperti ini, ada stiker yang menunjukkan Grade/ Kelas toilet yang akan kita gunakan. Selama ini saya dan mama selalu ketemu dengan toilet bergrade bintang 3 :)).  Sayang saya lupa memotret stikernya. 
Pasar di Jalan Gambier, kalau tidak salah ingat ini Indian Market
Masjid Negeri Kuching, sekitar 300 m dari penginapan kami. Halaman depan masjid ini adalah kuburan. 
Mama sedang berjuang menyelesaikan perjalanan 'kaki' nya. Semangat Mama!
Tips: 
  1. Saat memesan makanan, orang Indonesia biasanya selalu memesan minuman Teh Es. Di Kuching, Teh Es  disebut Teh O. Saya pernah memesan dengan menyebutnya ice tea, terus saya dikasi es dan teh secara terpisah -__-'
  2. Bagi Anda yang kebetulan mendampingi saudara atau orang tua untuk berobat atau menjalani operasi di Kuching, kalau memungkinkan ada baiknya menyempatkan jalan - jalan di waterfront. Lumayan untuk mengurangi tension pesakit sebelum atau sesudah operasi. Mama saya mengatakan, ia merasa senang dan lebih nyaman setelah berjalan - jalan di Kuching Waterfront. Padahal sebelumnya, ia selalu merasa takut dan tertekan setelah pengobatan matanya. 
Begitulah cerita perjalanan saya di Kuching, semoga ada bisa jadi sumber yang membantu melengkapi referensi Anda untuk merencanakan perjalanan ke Kuching. 

-salam hangat Tiech-



20.1.14

Jejak Bukan Petualang di Ketapang

Petualangan saya di Kota Ketapang sebetulnya sudah berakhir, dan dimulai sejak bulan Juni 2013 silam. Tapi, rasanya baru sekarang mendapatkan momen yang tepat untuk membagikannya di blog ini. Foto - foto ini sebetulnya foto survey untuk keperluan pekerjaan saya, tapi berhubung tidak semua foto digunakan untuk laporan, di buang sayang pula, baiknya post di blog saja :). Mari kita mulai.

Dimana sih Ketapang?
Ketapang di Provinsi Kalimantan Barat
Kabupaten Ketapang terletak di bagian paling selatan Provinsi Kalimantan Barat, sekaligus merupakan kabupaten terluas di Kalimantan Barat. Luasnya mencapai 31.588 km2 atau seluas 21,28% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Wilayah seluas ini hampir menyamai luas Provinsi Jawa Tengah yang memiliki luas 32.548 km². 

Wilayah seluas ini hanya dihuni oleh 448.779 jiwa penduduk, dan hampir 1/4 nya berada di ibukota kabupaten yakni Kota Ketapang yang meliputi kecamatan Delta Pawan, Benua Kayong dan Muara Pawan. Kepadatan penduduk dibandingkan luas wilayah di ibukota kabupaten paling tinggi mencapai 2.475 jiwa/km², kepadatan penduduk paling rendah di beberapa kecamatan mencapai 2 jiwa/ km². 



Ada Apa di Ketapang?


1. Taman Nasional Gunung Palung
Anda Memasuki Taman Nasional Gunung Palung!

2. Potensi Pertambangan dan Perkebunan

Salah Satu Kebun Sawit di Ketapang

3. Perlindungan Orang Utan
Salah Satu Pusat Rehabilitasi Orang Utan. Kalau Anda jeli sedikit, di dalam bangunan itu ada orang utan yang sedang memandang ke arah kamera. 

4. 2 (dua) Pelabuhan Nasional dan Rencana Pembangunan Kawasan Industri
Pelabuhan Kendawangan
Dengan apa ke Ketapang?

Saya dan kawan - kawan menggunakan kapal, dengan harga tiket sekitar 180 ribu-an berangkat dari pelabuhan Senghie Pontianak, Pukul 9.00 pagi. Perjalanan kami memakan waktu sekitar 6 jam melewati Sungai Kapuas, melayari Selat Karimata dan akhirnya berlabuh di pelabuhan yang berada di Sungai Pawan. Alhamdulilah, saat itu laut sedang tenang jadi saya aman dari mabuk laut :). Dan saya berharap itu sebagai perjalanan pertama dan terakhir saya menggunakan kapal menuju Ketapang. Karena selanjutnya lebih baik lewat udara saja, cukup 30 menit, fliiiiwww....sampelah kita ke Ketapang. 
Pelabuhan Sukabangun, Ketapang (dan yang dibelakang orang - orang ini adalah kapal yang kami tumpangi_heu, ga dapat foto kapal full body)

Kesan Pertama begitu menjejakkan kaki di Ketapang?
Pertama kali menjejakkan kaki ke Ketapang tepatnya ibukota Kabupaten Ketapang, saya cukup kagum dengan daerah ini. Saya yang biasanya hanya menyusuri Sambas- Singkawang - Pontianak, melihat sesuatu yang berbeda. Oh mak, rumah disini besar - besar kali, halamannya juga luas, bahkan banyak juga yang tidak berpagar.  Cukup menandakan penduduk disini sejahtera. Mencari rumah 'kecil' cukup sulit, apalagi di pusat kotanya. 

Dari seorang kawan yang pernah tinggal disini pada tahun 2002, katanya pada era hasil hutan 'berjaya' orang - orang di sini banyak yang ikut dalam bisnis logging  yang menjanjikan. Dengan 'kekayaan' itu, mereka membeli kapling tanah yang luas dan membangun rumah yang besar pula. Yah, itu katanya. 

Penampakan Rumah di Kota Ketapang


Jadi, ga ada rumah - rumah kecil nih di Ketapang? Tidak juga. Tugas saya dan kawan - kawan kala itu adalah mencari, dimana permukiman yang tidak sebesar dan serapi ini, yang perlu 'pertolongan'. Dan, kami menemukannya. Tidak banyak, dan tidak luas. Tapi, entah kenapa pemerintah butuh waktu cukup 'lama' untuk menuntaskan 'pertolongannya'. 



Rumah di Pinggir Sungai Pawan, Ketapang

Sedang Blusukan bersama pejabat Pemda dan Pak Lurah, tentu saja saya yang paling cantik di antara Bapak - Bapak ini :))

Masalahnya?
Sejauh ini, dengan keterbatasan saya melihat beberapa wilayah di Kalbar...Ketapang adalah salah satu daerah yang memiliki potensi SDA besar, juga membutuhkan 'cost' pembangunan infrastruktur yang cukup mahal dengan sebaran penduduknya yang 'menclak- menclok' dan wilayah yang luas. Entah karena 'kekayaan' Ketapang kurang untuk mendanai pembangunannya atau kapasitas pengelolaan pemerintahan dan pembiayaan pembangunan yang perlu dipertanyakan? Entahlah. Ini perlu analisis ahli ekonomi pembangunan, bukan saya si analis jadi - jadian. Hehehe.

Ini dokumentasi perjalanan saya menuju Kendawangan (yang batal karena jalan rusak) dan perjalanan menuju Sandai (yang juga terhenti di Sei. Kelik karena kondisi jalan juga). 

Dalam Perjalanan ke Kendawangan, ada keramaian

Rupanya ada 2 kendaraan dari arah berlawanan yang 'terperosok' di jalan indah ini. Batal deh ke Kendawangan
Perjalanan ke Sandai -Tiada yang tahu, dalamnya 'samudera' dibelakang kami

terperosok di jalan ini, musim hujan dengan mobil non 4 x4 adalah petaka, untungnya ada kayu - kayu penyelamat jalan sementara yang disebut: "PITING"
ku melihat tenda biru, bukan pernikahan, tapi semacam loket 'tol' atas penggunaan PITING

yeah, mari membayar jasa melewati 'PITING'
 kalau jalan - jalan ini diperbaiki, maka keluarga ini tidak mendapat penghasilan 'tambahan'
setidaknya, dalam 5 jam perjalanan kami bertemu jalan mulus, walau sebentar

Bonus 5 jam offroad, pemandangan indah yang entah dimana tepatnya

di Sei. Kelik, sudah sore dan kami tidak punya waktu untuk bermalam di Sandai. Batal lagi ke Sandai. Ah Galau!
Akhirnya meminta pertolongan seorang kawan dari kawan yang tinggal di Sandai untuk memotret kondisi di sana. 
Kondisi Jalan di Pasar Sandai yang adalah pusat 'kota'


Jembatan Sandai
Ya, masih ditemukan 'helikopter' di Sandai, yang secara ekonomi sudah mengarah menjadi kawasan urban. 

Masih banyak cerita saya tentang Ketapang, satu diantara daerah yang sangat saya sayangkan karena potensi SDA nya tidak berbanding linier dengan kondisi infrastrukturnya. Saya hanya menjejaki sedikit wilayahnya saja, tapi entah kenapa begitu banyak yang ingin saya ceritakan. Apalagi, saya jarang menemukan blogger yang bercerita tentang Ketapang dengan foto selengkap yang saya paparkan pada tulisan ini :)). 

Dan perlu diketahui, tulisan ini berdasar rasa cinta pada Ketapang. Saya bahkan belum pernah bercerita tentang Tanah lahir saya, Sambas. He he he :D

Lain kali saya akan cerita tentang wisata di Ketapang, juga cerita  - cerita legenda dari daerah ini. Hmm, mungkin juga sedikit catatan pribadi selama 7 (tujuh) bulan ber-proyek di sini. Jadi nantikan postingan dengan judul 'Jejak Bukan Petualang di Ketapang 2' ya :).

- tiech -