May. I say HELLO!

Wuaw! Seakan tiba - tiba sudah bulan Mei lagi. Bulan April berlalu, dan berakhir pula masa kuliah semester 2. Tinggal menyongsong tesis dan sisa kuliah di semester 3. Ah, sebelumnya harus melewati per-ujianan akhir dulu.

Bulan April ini adalah bulan paling padat aktivitas dan tugas - tugas. Sampai - sampai saya mengabaikan blog ini. Sebetulnya beberapa kali punya ide untuk dituliskan. Tapi saya urungkan, berhubung tugas review paper dan laporan yang mesti ditulis lebih mendesak dan perlu segera diselesaikan.

Alhamdulillah, bulan itu terlewatkan. Saatnya memulai bulan baru, harapan baru dan semangat yang baru pula. Semangat!! :D

- salam hangat dari Tiech, yang sedang istirahat sejenak -
Share:

Duhai Jiwa

"Duhai yang akan dituntut sebab amalnya, yang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, yang tertulis lengkap segala ucapannya, yang akan diselidik segala keadaannya; kelalaianmu atas hal ini sungguh menakjubkan!" (Ibn Al Jauzy)

Bertumpuk - tumpuk rasa sesal ini. Faham bahwa kesalahan itu mungkin akan terhapus. Namun jejaknya masih disitu. Seperti kertas putih yang tertulis pensil, sekalipun terhapus, ada jejak tidak bersih disana. Kelalaian.. Semua telah meracuni jiwa. Aku tertunduk dalam sesal, membiarkan rasa gelisah menyapa. Duhai yang memiliki dunia, apakah kini Engkau pun berpaling?
Tenteram, harusnya menjadi milik malam. Saat puja puji, keluh kesah dan harapan berpilin menemukan jalannya ke langit lalu menghambur dalam bulir - bulir kasih. Jiwa ini tidak dalam kondisi semestinya. Racun dunia melumpuhkan dan menjauhkannya dari kesucian. Betapa menyiksa.

Sungguh rasanya payah benar untuk kembali. Mengemudi hati untuk kembali pada kemurnian ditengah badai yang tiada henti menyapa. Jiwa ini semakin merindu, pada malam bercengkrama dengan langit, khidmat, mesra lagi rahasia.

Detak detik berlalu. Sebagian diri pun telah pergi. Sungguh menakjubkan perihal waktu. Petang dan fajar berganti - ganti dengan cepatnya. Akankah jiwa ini mampu terselamatkan? Murni dan berseri ketika fajar besok datang?

Tiech, 15 -03-2015
Share:

Menumbuhkan Kemauan dan Tekad Belajar - Sebuah Refleksi

Perkuliahan telah masuk semester kedua. Entah kenapa semester ini terasa amat berat dibandingkan sebelumnya. Entah karena persiapan mental yang kurang matang, atau karena kegagalan dalam menata fikir dan laku. Waktu berlalu, seakan - akan terbang begitu cepat. Sementara rasanya ilmu yang masuk belum banyak. Tujuh minggu ini seperti hampa, benang - benang ilmu belum terajut sempurna, dan kemalasan melanda. Semester ini saya merasa bagai dilanda badai, dan semua yang saya miliki berterbangan sementara saya masih menemukan tempat pijakan dan berpegang.

Entah apa yang salah. Hanya merasa proses pencarian ilmu ini mulai jauh dari berkah. 
 "Sungguh ilmu adalah cahaya. Dan Cahaya Allah tidak diberikan pada pendurhaka" (Imam Asy- Syafi'i)
 Mungkin terlalu banyak dosa yang menutupi cahayaNya. Ini tidak boleh dibiarkan, saya harus melakukan sesuatu. Dan saya mulai dengan membaca sebuah buku untuk kembali membakar semangat. "PROPHETIC LEARNING" demikian judulnya. Buku ini sudah pernah saya baca, mungkin saya perlu membacanya kembali, untuk mengingatkan saya bahwa sesungguhnya seorang muslim yang baik adalah muslim pemebelajar, hingga ajal menjemput. 

"Orang - orang awam mengatakan bahwa nilai setiap orang terletak pada apa yang mereka lakukan dengan baik. Sementara itu, orang - orang terpilih mengatakan bahwa nilai setiap orang itu terletak pada kemauan dan tekadnya" (Ibnu Taimiyah)

Sesaat setelah saya membuka Bagian 3, saya menyadari bahwa saya kehilangan tekad. Saya mulai menikmati berleha - leha dan malas, dengan alasan bahwa saya butuh istirahat. Ah sungguh godaan itu manis sekali. Ini persoalan menata pikiran, saya harus bisa mengendalikan pikiran saya. Jangan sampai ada celah untuk berfikir negatif tentang diri maupun orang lain, jangan sampai ada sedikit muncul pikiran bahwa saya tidak mampu. Allah memberikan kesempurnaan dalam ciptaanNya, saya tahu saya mampu. Dan jika Allah mengizinkan, tidak ada satu pun yang tak mungkin. 

Pikiran positif ini sebetulnya akan memunculkan kemauan dan tekad. Penulis buku ini menyatakan bahwa kemauan dan tekad merupakan modal untuk melakukan tindakan. Jika pikiran merupakan akar yang membentuk karakter, maka kemauan dan tekad merupakan jembatan yang menghubungkan antara pikiran dan tindakan. Pikiran - pikiran positif akan menghasilkan tindakan - tindakan yang positif pula. Saya meyakininya, karena saya telah mengalami betapa dahsyatnya kekuatan pikiran itu. 

Apa yang bisa menumbuhkan kemauan dan tekad, terutama dalam menuntut ilmu? Buku ini megatakan bahwa kemauan ini bisa dipicu dengan :

  • Obsesi dan keingintahuan (curiosity). Ulama salaf (terdahulu) memiliki obsesi dengan ilmu dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
  • Cinta. Kecintaan pada ilmu akan mendahsyatkan kemampuan kita dan membangkitkan kepedulian serta keingintahuan kita pada sesuatu. Ia memberikan energi yang luar biasa untuk meningkatkan produktivitas kita. Ya, memang lebih menyenangkan melakukan sesuatu yang dicintai, ketimbang sesuatu yang tidak kita suka. Bila belum bisa mencintai proses belajar, belajarlah dan pupuklah rasa cinta itu dengan cara mencari tahu apa manfaatnya bagi kita. Insya Allah, ini akan menumbuhkan rasa cinta dan menikmati jalan dalam menuntut ilmu.
  • Muraqabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah). Ah, kiranya ini salah satu yang sering saya lupakan. Padahal bekerja dan berkarya adalah perintahNya, salah satu jalan meraih ridhaNya. Apalagi yang terpenting bagi seorang muslim selain keridhaan Sang Pencipta?
  • Gerak. Dan ini yang menjadi sumber masalah utama saya. Malas bergerak. Ketika akal dan jiwa dihinggapi kemalasan, ia hanya memilki satu kesempatan untuk benar - benar menjadi malas, yakni fisik yang membenarkan kemalasan itu. -__-'. Padahal kala jiwa dan akal sedang ingin berleha - leha, fisiklah yang harus bergerak, semalas apapun itu. Ulama - ulama terdahulu mengorbankan masa tidur dan kenyamanan buaian di malam demi mengumpulkan dan mengoreksi ilmu - ilmu yang mereka peroleh di siang hari. Oh, Allah...sementara aku.... 
“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41)
“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41)

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41) Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41)

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41)

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
 Belum selesai satu bab saya membacanya, namun buku ini sungguh mengingatkan saya pada banyak hal yang sempat terlupakan. Tulisan ini sesungguhnya hanya refleksi akan kemalasan yang akhir - akhir ini melanda saya, jauh dari keinginan review buku. Tapi, saya rekomendasikan Anda para muslim untuk membaca buku ini. 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Dan setiap diri pastilah memiliki potensinya masing-masing. Bersemangatlah kalian dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat, mintalah pertolongan kepada Allah. Dan janganlah kalian merasa tidak mampu.” (HR. Bukhari)
salam dari yang ingin belajar, Tiech.
Share:

Terlalu Lama Sendiri - Cerita Lajang #2

"Sudah terlalu lama sendiri
Sudah terlalu lama aku asik sendiri
Lama tak ada yang menemani rasanya

Pagi ke malam hari tak pernah terlintas di hati
Bahkan di saat sendiri aku tak pernah merasa sepi
Sampai akhirnya ku sadari aku tak bisa terus begini
Aku harus berusaha tapi mulai dari mana"

- Kunto Aji - Terlalu Lama Sendiri -

Ahh! kenapa lirik lagu ini bahkan setiap katanya persis sekali kondisiku. Yakin, banyak yang merasa hal yang sama. Tapi tahukah kalian duhai yang lajang. Terlalu lama sendiri juga hidup di rumah sendirian itu pun mesti diimbangi. Dengan apa? Dengan menciptakan ruang bagi orang lain campur tangan dalam hidup kita. Entah itu dengan memiliki pet, memilih tinggal bersama kawan, orang tua atau menjadi sukarelawan yang mengurus kepentingan orang banyak seperti kegiatan bersama anak - anak, lansia dan banyak hal. Intinya melakukan banyak kegiatan yang mengesampingkan kepentingan diri.

Saya sadar betul akan hal ini. Karena setelah hampir 9 tahun merantau, lalu kembali ke rumah dimana 'ruang pribadi' saya sudah tidak ada, sempat membuat saya frustasi. Terlalu lama sendiri membuat kita memiliki ruang sendiri, yang hanya ada kita tanpa campur tangan orang lain. Ketika suatu saat kita akan hidup bersama orang lain, butuh waktu penyesuaian untuk menerima orang lain hadir dalam ruang yang biasa kita 'kuasai' sendiri. Kadang masa adaptasi ini membuat emosi tidak stabil, hal - hal kecil bisa menjadi masalah. Hal kecil seperti cara menyimpan kunci, cara memencet odol, menyimpan handuk dan lainnya bisa menjadi 'sumber konflik',



Tapi, terlalu lama sendiri ini membuat saya kadang ingin segera mengakhiri masa lajang dan tidak lagi menulis cerita - cerita lajang di blog ini. Hehehe. Rasanya saya sudah mempersiapkan diri dengan baik, sudah berupaya mengupgrade diri. Waktunya akan tiba, and i am sure. Jadi, saatnya menikmati kesendirian dengan melakukan lebih banyak hal positif.




-Tiech-

Share: