8.3.15

Menumbuhkan Kemauan dan Tekad Belajar - Sebuah Refleksi

Perkuliahan telah masuk semester kedua. Entah kenapa semester ini terasa amat berat dibandingkan sebelumnya. Entah karena persiapan mental yang kurang matang, atau karena kegagalan dalam menata fikir dan laku. Waktu berlalu, seakan - akan terbang begitu cepat. Sementara rasanya ilmu yang masuk belum banyak. Tujuh minggu ini seperti hampa, benang - benang ilmu belum terajut sempurna, dan kemalasan melanda. Semester ini saya merasa bagai dilanda badai, dan semua yang saya miliki berterbangan sementara saya masih menemukan tempat pijakan dan berpegang.

Entah apa yang salah. Hanya merasa proses pencarian ilmu ini mulai jauh dari berkah. 
 "Sungguh ilmu adalah cahaya. Dan Cahaya Allah tidak diberikan pada pendurhaka" (Imam Asy- Syafi'i)
 Mungkin terlalu banyak dosa yang menutupi cahayaNya. Ini tidak boleh dibiarkan, saya harus melakukan sesuatu. Dan saya mulai dengan membaca sebuah buku untuk kembali membakar semangat. "PROPHETIC LEARNING" demikian judulnya. Buku ini sudah pernah saya baca, mungkin saya perlu membacanya kembali, untuk mengingatkan saya bahwa sesungguhnya seorang muslim yang baik adalah muslim pemebelajar, hingga ajal menjemput. 

"Orang - orang awam mengatakan bahwa nilai setiap orang terletak pada apa yang mereka lakukan dengan baik. Sementara itu, orang - orang terpilih mengatakan bahwa nilai setiap orang itu terletak pada kemauan dan tekadnya" (Ibnu Taimiyah)

Sesaat setelah saya membuka Bagian 3, saya menyadari bahwa saya kehilangan tekad. Saya mulai menikmati berleha - leha dan malas, dengan alasan bahwa saya butuh istirahat. Ah sungguh godaan itu manis sekali. Ini persoalan menata pikiran, saya harus bisa mengendalikan pikiran saya. Jangan sampai ada celah untuk berfikir negatif tentang diri maupun orang lain, jangan sampai ada sedikit muncul pikiran bahwa saya tidak mampu. Allah memberikan kesempurnaan dalam ciptaanNya, saya tahu saya mampu. Dan jika Allah mengizinkan, tidak ada satu pun yang tak mungkin. 

Pikiran positif ini sebetulnya akan memunculkan kemauan dan tekad. Penulis buku ini menyatakan bahwa kemauan dan tekad merupakan modal untuk melakukan tindakan. Jika pikiran merupakan akar yang membentuk karakter, maka kemauan dan tekad merupakan jembatan yang menghubungkan antara pikiran dan tindakan. Pikiran - pikiran positif akan menghasilkan tindakan - tindakan yang positif pula. Saya meyakininya, karena saya telah mengalami betapa dahsyatnya kekuatan pikiran itu. 

Apa yang bisa menumbuhkan kemauan dan tekad, terutama dalam menuntut ilmu? Buku ini megatakan bahwa kemauan ini bisa dipicu dengan :

  • Obsesi dan keingintahuan (curiosity). Ulama salaf (terdahulu) memiliki obsesi dengan ilmu dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi
  • Cinta. Kecintaan pada ilmu akan mendahsyatkan kemampuan kita dan membangkitkan kepedulian serta keingintahuan kita pada sesuatu. Ia memberikan energi yang luar biasa untuk meningkatkan produktivitas kita. Ya, memang lebih menyenangkan melakukan sesuatu yang dicintai, ketimbang sesuatu yang tidak kita suka. Bila belum bisa mencintai proses belajar, belajarlah dan pupuklah rasa cinta itu dengan cara mencari tahu apa manfaatnya bagi kita. Insya Allah, ini akan menumbuhkan rasa cinta dan menikmati jalan dalam menuntut ilmu.
  • Muraqabah (perasaan selalu diawasi oleh Allah). Ah, kiranya ini salah satu yang sering saya lupakan. Padahal bekerja dan berkarya adalah perintahNya, salah satu jalan meraih ridhaNya. Apalagi yang terpenting bagi seorang muslim selain keridhaan Sang Pencipta?
  • Gerak. Dan ini yang menjadi sumber masalah utama saya. Malas bergerak. Ketika akal dan jiwa dihinggapi kemalasan, ia hanya memilki satu kesempatan untuk benar - benar menjadi malas, yakni fisik yang membenarkan kemalasan itu. -__-'. Padahal kala jiwa dan akal sedang ingin berleha - leha, fisiklah yang harus bergerak, semalas apapun itu. Ulama - ulama terdahulu mengorbankan masa tidur dan kenyamanan buaian di malam demi mengumpulkan dan mengoreksi ilmu - ilmu yang mereka peroleh di siang hari. Oh, Allah...sementara aku.... 
“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41)
“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41)

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41) Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41)

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
“ Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At Taubah, 9:41)

Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
 Belum selesai satu bab saya membacanya, namun buku ini sungguh mengingatkan saya pada banyak hal yang sempat terlupakan. Tulisan ini sesungguhnya hanya refleksi akan kemalasan yang akhir - akhir ini melanda saya, jauh dari keinginan review buku. Tapi, saya rekomendasikan Anda para muslim untuk membaca buku ini. 

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Dan setiap diri pastilah memiliki potensinya masing-masing. Bersemangatlah kalian dalam melakukan sesuatu yang bermanfaat, mintalah pertolongan kepada Allah. Dan janganlah kalian merasa tidak mampu.” (HR. Bukhari)
salam dari yang ingin belajar, Tiech.

0 comments: