Cerita dari Sepotong Martabak

Martabak Monkey: Coklat Keju

Malam ini ketika lembur, percakapan dengan teman sekubikel di kantor:

 I: buti, pesen martabak lah.
Me: oh mau martabak? Aku udah pesen sih tadi satu? Mau pesen lagi?
I: iya, kayaknya kurang kalo 1. Satu lagi aja lah ya, nanti bayarnya dari uang kantor aja.
Lalu terpesanlah satu Martabak Monkey rasa green tea keju .

Ini adalah kali kedua saya pesan martabak delivery berlogo monyet bertopi ini. Kebanyakan yang sudah merasa martabak ini pasti ketagihan, dan komennya sama: enak dan enak banget. Dan semacam dibiasakan kalau lembur pesannya martabak Monkey. 

Pertanyaan mereka setelah makan sepotong martabak ini sama, 'ih enak, ini dimana belinya? Kok kamu tau sih?'. Dan jawaban saya: ini martabak delivery, di ig ada tuh iklannya. Ini martabak punya temenku. Saat mengatakan kalimat terakhir, ada rasa bangga memenuhi dada saya. Bangga kaŗna punya teman kece pemilik martabak. Bangga karena semua orang suka dengan martabak ini. Oh, my favorite menu Pandan Keju Susu! Bangga, karena teman saya bikin martabak enak.  Dan malam ini, saya mendengar komen yang tidak hanya bikin bangga, tapi juga membahagiakan dan pastinya sangat berharga. Seorang kawan berkomentar ketika mencicip sepotong ah 2 potong martabak yang berbeda. "Wah ini enak. Ini teman kuliah mu yang punya? Enak nih, bahannya ga sembarangan pilih dan banyak pula, jadi kerasa banget enaknya", ujarnya sambil mengambil sepotong martabak (lagi).

"Bukan, Dia teman saya di Siaware, orangnya keren!", jawab saya pada rekan kantor. 

Percakapan singkat saat sesi makan - makan martabak tadi membuat saya berpikir. Saya bangga dengan teman saya, bangga bisa mengenal dan mengetahui perjalanan hidupnya, bangga dengan pencapaiannya, bangga dengan mimpi - mimpinya didepan. Dan ingin menjalani hidup sekuat yang dia jalani. Ah, energi positif dari teman - teman yang kece itu memang menular. Inspiratif, simpulan saya hari ini. Dan saya lagi - lagi bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya menjalani hidup dengan energi positif yang menulari sekitar saya? Membuat orang lain bangga berteman dengan saya, atau hanya mengenal saya. 

Di dunia ini, ada orang - orang yang punya energi begitu. Dan karena saya masih orang :D, insya Allah saya pun bisa. Diingat dengan energi positif yang menular, menyebarluaskan kebahagiaan dan kebaikan dan menginspirasi orang lain untuk berlaku sama. 

Ah, siapa kira, memakan martabak bisa bikin saya merenung sedalam ini. 

Salam hangat dari tiech yang bahagia 
 

Share:

No comments: