Aku dan Menulis

Tantangan menulis 30 hari sudah masuk hari terakhir. Aku merasa kali ini tulisanku berbeda. Hampir sedikit sekali aku menulis fiksi. Memang aku punya target sendiri kali ini. Memulai sebuah tulisan tentang #myFabulous30, namun dalam perjalanannya lebih banyak cerita dan refleksi kehidupanku sehari-hari. Pada 30DWCJilid7 kali ini, walaupun masih sering mengirimkan tulisan mendekati deadline, namun aku tak kesulitan mendapatkan ide. Bahkan seringkali banyak hal yang ingin kusampaikan. Kalau diperhatikan, tulisanku dalam 30 hari terakhir lumayan panjang. Bukan karena aku punya waktu lebih banyak dari biasa. Namun, ada banyak hal di kepala yang segera ingin dialirkan dalam kata-kata. Aku bisa mengetik lebih cepat. Seperti saat ini.

Lalu aku berfikir, mungkinkah karena kini aku tidak berada dalam kondisi tertekan seperti saat masih bekerja dulu. Padahal kesibukan tetap saja sama. Bahkan kini aku selalu dalam kondisi stand by. Kalau-kalau diperlukan di dapur, kalau-kalau dipanggil keponakan, kalau-kalau Bapak membutuhkan bantuan. Sibuk dan banyak peran. Tapi dari kesibukan itulah aku belajar banyak hal. Dan sering merasa butuh tempat bercerita. Blog adalah tempat terbaik. Apalagi kalau ada yang membaca dan bisa mengambil manfaat darinya. 

Menurut STIFIn, seorang insting mencari harmoni. Dan cenderung akan lebih optimal berada dalam kondisi yang minim konflik dan tekanan. Well, selama masih belum memulai masa proyek, aku menikmati masa-masaku di rumah ini. Dan melihat catatan kisahku selama 30 hari ini rasanya menyenangkan. Insya Allah konsisten menulis hingga hari-hari ke depan. 

Salam, On Fire!

Aku menulis, karena terlalu banyak yang ingin aku ceritakan pada dunia tentang apa yang aku lihat, dengar, dan rasa. -Nur Astri Fatihah

#Day30
#30DWCJilid7
#Squad8
Share:

Renungan dari Api

Saat sedang memasak di dapur tungku, ada banyak hal yang tiba-tiba muncul di pikiran saya. Tiba-tiba merasa, "Duh, ini sungguh tidak ramah lingkungan. Sayang kayu. Tapi gas juga sama saja. Apalagi listrik. Ini pilihan paling hemat. Kayu bakar gratis." Di saat seperti ini pelajaran tentang emisi gas rumah kaca dan lain-lain dikesampingkan. Kalah dengan upaya penghematan dalam urusan keuangan keluarga. 

Saya yang memang hanya sekali dua kali pulang, tidak terlalu akrab dengan memasak menggunakan kayu bakar. Boleh dikata tidak pandai dan tidak paham cara menghidupkan dan menjaga nyala api. Namun kini, demi menghemat, saya cukup sering menggunakan kayu bakar untuk memasak. Apalagi jika memasak makanan berempah khas melayu atau makanan yang perlu waktu lama untuk diolah. Awalnya memang sulit dan menyebalkan. Tapi lama-lama jadi terbiasa.
Suatu kali saat sedang mengatur kayu bakar agar api tetap menyala, saya sadar kayu-kayu ini begitu cepat dimakan api. Sudah lima bilah kayu habis, tapi saya masih belum selesai. Padahal saya cuma sedang membuat tempe bacem. Tapi tempenya sekilo, jadi butuh waktu lama. Padahal saya juga ingin menghemat kayu. Sayang kalau habis demi tempe yang begitu tersaji di meja makan, ludes dalam waktu beberapa menit saja. 

Di saat nyala api kian marak, terdengar bunyi hentakan. Bapak sedang mengayun kapak, membelah kayu-kayu besar di halaman belakang. Untuk kayu memasak, begitu beliau berkata. Makin pedihlah hati saya, untuk mengambil bilah kayu yang berikutnya. Bagaimana tidak? Bapak berjalan dengan tongkatnya, bertumpu pada satu kaki, tapi masih punya semangat dan tenaga membelah kayu. Hampir seharian pula. Segera saya mengumpulkan tempurung, sabut kelapa, dan ranting-ranting kering. Tidak tega saya menghabiskan kayu bakar ini.

Saya lalu merenungkan. Betapa makanan yang tersaji di meja adalah hasil keringat banyak orang. Ia tidak hadir dan turun begitu saja. Ada banyak perjuangan menyertainya. Saya yang menyiapkan dan menghaluskan bumbu, lalu memasaknya. Bapak menyiapkan kayu bakar. Ada pula orang-orang yang menanam semua bumbu dan bahan makanan. Semua bahan itu akhirnya bisa dibeli dari hasil bekerja kedua orang tua saya. Semua hadir dari usaha dan butuh waktu tidak sebentar. Namun perkara memakannya, tidak lebih dari lima belas menit, makanan ini bisa ludes begitu saja.

Kadang saya kesal. Sudah lama memasak. Menghabisinya sebentar saja. Bahkan kadang, saya sendiri tidak sempat makan makanan buatan sendiri. Keburu habis. Risiko, punya ramai anggota keluarga. Namun kekesalan dan kelelahan itu seringnya terbayar. Jika semua orang senang dan menikmati masakan saya. Saat seperti ini saya tak henti mengagumi ibu saya. Untungnya waktu kecil saya bukanlah picky eater.
 
Nyala api tungku yang semakin besar, membuat saya sadar. Ada banyak hal kecil yang saya abaikan. Hal-hal yang biasa hadir, namun bila disyukuri, menyimpan banyak pelajaran bagi kehidupan. Saya bersyukur hari ini belajar sesuatu lagi.

Bagaimana dengan Anda, sudahkah mensyukuri nikmat hari ini?

Tungku di Rumah
#Day28
#30DWCJilid7
#Squad8
#myFabulous30
Share:

Sajak Luka

bagaimana lagi caranya
agar aku bisa membawamu
pada jalan menuju surga?


cinta yang kini bercampur luka
mengalirkan amarah dan benci antara kita
tak cukupkah kata-kata
penawar duka dariku dahulu kala

tak bisakah kau ingat
musim dimana badai datang
dan kita terjebak dalam pusaran
sementara masih belum tampak
akhir dari semuanya

mengapa kini kalimatku membakar hatimu?
menjadi duri yang menyakitkanmu?

tak adakah lagi
embun yang menyejukkan dadamu?
tak adakah lagi
air hujan yang bertabur di dasar jiwamu?
tak adakah lagi
kristal yang mengkilat dari matamu?

bisakah kita menyudahi ini?
amarah yang melukai?


oh, mengapa terasa sakit di kepala?
amarahmu berganti duri
yang terus menusuk seluruh diri
pelan-pelan ku mengusap pelupuk mata
mengganti mendung yang bergelayut di muka
menjadi senyum mencerahkan suasana

biarlah.
biarlah aku mengalah.

biarlah kini kupilinkan pada langit
untuk menurunkan sekeping salju
pada hatimu yang menyimpan bara api

untuk meneduhkan hatiku
yang terasa bagai disinari terik mentari
biarlah kau dan aku menyepi
sibuk dalam perjalanan
menuju rute kedamaian



#Day29
#30DWCJilid7
#Squad8

Share:

Nanti


Ada banyak hal yang tertunda dalam hidup saya, karena satu kata: nanti. Nanti deh. Bentar lah. Sehabis ini lah. Sampai kadang tertunda bertahun-tahun lamanya. Salah satunya menempuh pendidikan magister yang tertunda hingga empat tahun dari rencana semula. Ada pula hal-hal yang tak sempat saya lakukan. Karena saya melewatkan momen dan kesempatan yang tersedia. Akibat kata nanti. 

Hal ini pula yang menjadikan saya seringkali mengerjakan segala sesuatu mepet ke deadline. Selain memang karena ada hal lain yang perlu diprioritaskan, tidak jarang pula terjadi karena saya menunda. "Nanti deh, kalau sudah mood. Nanti deh makan dulu. Nanti, agak sore." Akhirnya kadang saya tidak punya waktu banyak untuk merapikan pekerjaan atau memeriksanya kembali. 

Hari ini saya sadar penyakit nanti mulai datang kembali. Ada beberapa pekerjaan yang saya lupakan, gara-gara pada saat kewajiban itu datang, saya katakan: iya, nanti. Ada pula beberapa hal yang langsung saya respon. Seperti kesempatan-kesempatan terkait dengan proyek baru, kelas kepenulisan baru, dan berbagi event upgrading diri. Saya kemudian merenungi perbedaan respon saya ini. Apa yang membuat saya menjadi penunda di satu hal, namun responsif alias cepat tanggap di hal lainnya? 

Saya pun sadar bahwa setiap kali sedang dalam responsive mode, pada dasarnya saya aware akan waktu. Semakin bertambah usia, saya semakin merasa bahwa waktu yang saya punya semakin sempit. "Aku ga punya nanti. Now or regret it!" Itu yang terus saya ucapkan pada diri sendiri. Sehingga, sekalipun ada risikonya, berat atau bahkan tampak tidak mungkin, akan tetap saya lakukan. Karena saya merasa tak ada yang tak mungkin selama saya punya strong why. 

Sekarang saya tinggal menerapkannya di seluruh aspek kehidupan saya. Bahwa waktu saya terbatas. Bahkan saya tidak bisa menjamin umur saya ada sampai detik berikutnya. So, kenapa saya harus sering mengatakan nanti? Karena saya belum tentu punyai nanti itu. 

Kalau Anda, bagaimana? 

#Day27
#30DWCJilid7
#Squad8
Share:

Kipas Angin

"Dulu kalian dak pernah tidur pake kipas angin, baik-baik aja yah? Sekarang kok jadi beda ya?" keluh ibuku suatu hari. Keluhan ini datang karena tagihan listrik yang naik setiap bulan. Berbagai trik sudah dilakukan. Mengurangi penggunaan kulkas, AC, pakai lampu hemat energi, tapi tetap saja tagihan listrik rasanya makin mencekik. Belum lagi kini di rumah kami, setiap kamar memiliki kipas. Semua keponakanku tidak bisa tidur tanpa kipas. Sekalipun itu hari hujan dan cuaca sudah cukup sejuk. Kipas angin berputar sepanjang malam dan siang. Waktu istirahatnya barangkali hanya pagi hari dan saat kami tidak di kamar atau di rumah. Dalam semalam, ada lima kipas angin yang menyala.

Aku membayangkan lagi masa kecilku. Hanya ada tiga kipas angin di rumahku ini. Satu di ruang tamu, satu di ruang tengah, dan satu kipas angin kotak yang bisa dibawa kemana saja. 


Aku sendiri sejak kecil sudah terbiasa tidur tanpa menggunakan kipas. Meskipun itu siang hari yang teramat panas, aku betah-betah saja tidur di kamar tanpa kipas angin. Tapi kini, tidak. Apalagi di musim kemarau seperti sekarang.

Ini membuatku bertanya-tanya. Apakah memang suhu bumi semakin meningkat? Karena menurut sebuah artikel, dibandingkan dengan kondisi tahun 1961 hingga tahun 1990, suhu bumi secara global pada tahun 2016 naik sebesar 0,84 derajat celcius. Angka yang sepertinya sangat kecil ini bermakna besarloh bagi kehidupan di bumi ini. Apa ini juga yang mempengaruhi suhu di sekitar rumahku?

Kulihat sekitar rumahku kini, perubahan penggunaan lahan menjadi lahan terbangun. Dulu, kiri kanan, dan belakang rumah kami adalah semak belukar dan hutan. Halaman rumah pun dipenuhi aneka bunga dan pepohonan. Pohon jambu, kelapa, nangka, belimbing ciremai, petai cina, bunga kenanga, dan masih banyak jenis tanaman hias lainnya. Mungkin ini yang menyebabkan masih ada angin sejuk yang masuk ke rumah. Walaupun risikonya, rumah kami cukup akrab dengan ular dan aneka hewan lain seperti ulat bulu, kaki seribu, lipan, dan serangga yang aku sendiri tidak tahu namanya. Kini semua sudah berganti dengan halaman yang disemen, dan tanaman hias yang tumbuh di pot-pot. Pepohonan kini berganti dengan bangunan warung dan garasi. Untungnya, bagian dapur masih banyak pepohonan. Boleh dikatakan itulah bagian rumah yang paling sejuk dan tidak butuh kipas angin saat ini. Aku selalu betah duduk di teras yang ada di belakang rumah. Sambil menikmati pepohonan dan angin sepoi-sepoi di kala mentari sedang menyengat.

Kipas angin yang sedang berputar di depanku kini membuatku sadar. Bahwa dunia benar-benar panas, hingga membutuhkan bantuan angin dari kipas ini. Kalau saja sekeliling rumahku bisa kembali rindang seperti dulu, tentu lah kami tidak usah repot berkipas ria. Cukup mengandalkan kesejukan yang dibawa pepohonan. Tidak perlu pusing dengan harga listrik semakin meningkat, sementara kebutuhan penggunaan kipas angin dan AC juga semakin meningkat. 

Lalu aku membayangkan. Seperti apa tagihan listrik kami, bila rumah ini sama sekali tidak membutuhkan kipas angin? Ah tentu saja, dengan tarif dasar yang sama :).

#day26
#30DWCJilid7
#Squad8

Referensi:
http://nusantaranews.co/makin-panas-suhu-bumi-naik-11-derajat-celcius/
Share:

Discover Myself (again)

Ketika memutuskan kembali ke rumah, tujuan saya hanya ingin berbakti. Berada sedekat mungkin dengan orang tua. Agar bisa menjaga keduanya. Alasan lainnya karena saya merasa butuh pekerjaan yang mampu memultiperankan diri. Tadinya saya ingin mempersiapkan banyak hal, termasuk pekerjaan selepas keluar bekerja. Dan saya sudah memperkirakan pada bulan apa sebaiknya kembali. Agar saya tidak merepotkan orang tua secara finansial. Akan tetapi karena kondisi Mama' kala itu sedang tidak stabil, saya mempercepat waktu pindah.

Mungkin kalau dulu, kembali tinggal di rumah saya tidak melakukan banyak hal. Hanya hal-hal standar seperti membersihkan rumah, mencuci piring, dan membantu mama memasak di dapur. Untuk mengisi waktu biasanya membantu menjaga warung milik kakak saya. Kadang tidak banyak yang saya bisa lakukan dalam sehari. Hal ini membuat saya tidak betah berlama-lama di rumah. Namun kini, semuanya sudah berbeda.

Perbedaan pertama adalah dulu keponakan saya hanya dua. Dan tinggal berjauhan pula dengan orang tua saya. Kini saya punya tujuh keponakan. Empat diantaranya tinggal di rumah orang tua saya. Mereka membuat saya senantiasa sibuk. Rumah yang biasanya rapi, kini bisa jadi seperti kapal pecah setiap hari. Rumah orang tua cukup besar, demikian pula juga halaman depannya. Jadi tidak usah ditanya rasanya, bila baru selesai mengepel lantai, 15 menit kemudian keponakan saya datang bermain pasir di ruang tengah. 

Perbedaan kedua adalah kedua orang tua saya kini sama-sama membutuhkan perhatian. Bapak mengalami masalah syaraf yang menyebabkannya memerlukan tongkat untuk berjalan. Sedangkan Ibu, sudah berkurang jauh pendengaran dan gangguan pengihatan yang amat parah karena diabetes yang dideritanya. Mama masih memasak di dapur. Namun karena masalah penglihatannya ini, saya kadang tidak bisa benar-benar meninggalkan beliau sendiri di dapur. 

Perbedaan ketiga, kini saya mempunyai banyak kesibukan di luar pekerjaan. Semua masih bisa saya kerjakan dari jauh. Saya pikir dengan jam kerja yang fleksibel, ini akan tidak terlalu memberikan tekanan. Namun ternyata saya keliru. Justru ada banyak tantangan bekerja dari rumah. Perlu benar-benar ada batasan antara jam kerja dan jam mengurus rumah dan keluarga. Seringkali tugas-tugas itu baru bisa saya kerjakan pada malam hari. Saat anak-anak sudah tidur dan saat kedua orang tua tidak memerlukan bantuan saya.

Kesibukan sehari-hari ini seperti tidak ada habisnya. Sampai suatu kali saya pernah nyeletuk pada seorang kawan di kantor dahulu,"Ternyata mau di kantor atau tidak, sama saja sibuknya". Kesibukan ini kadang memang membuat saya tertekan. Namun bila bekerja di kantor saya hanya bisa melakukan dua atau tiga hal, di rumah ini dalam sehari ada banyak hal berbeda yang saya lakukan. Sehingga meskipun kadang kewalahan, saya merasa bahagia.

Keseharian saya memang kini padat dengan aktivitas. Namun saya bisa membantu lebih banyak orang di rumah ini. Melakukan banyak hal berbeda. Dan yang paling menyenangkan, setiap hari selalu ada pembelajaran, hikmah dan renungan tentang diri. Entah itu dari aktivitas yang saya lakukan, dari anak-anak, dari kedua orang tua, bahkan dari lingkungan sekitar saya. Pembelajaran yang membuat saya semakin memahami bahwa saya punya potensi. Bahwa ada skenario indah dibalik alasan saya lahir dan berada di tengah keluarga ini. Sehingga saya tahu peran apa yang perlu dimainkan, untuk mendukung orang tua dan semua saudara saya. It's feel like discovering myself again! And I'm happy. 

Bagaimana dengan, Anda? Sudah melakukan apa hari ini? 


#myFabulous30
#Day25
#30DWCJilid7
#Squad8

Sumber : Pinterestt

Share:

Menghemat Air ala Mama


Waktu kecil dulu, air bersih dari PDAM di rumah kami tidak selalu mengalir 24 jam. Kalau pun ada, airnya masih membawa sisa-sisa lumpur. Sehingga selalu perlu diendapkan sebelum digunakan. Berbeda dengan kebanyakan orang di Pulau Jawa, di kampungku jarang sekali orang menggunakan sumur. Hal ini karena kondisi tanah yang asam membuat kualitas air pun tidak bagus. Kebanyakan orang di kampungku, lebih memilih menampung air hujan di dalam tempayan atau pun drum.

Karena kondisi sulit air inilah, Mama selalu mengajariku menghemat air. Kalau ada bak yang sampai meluber karena aku lupa mematikan keran, sudah pasti omelan panas mendarat di telinga. Dulu, aku menganggap apa yang Mama lakukan, juga dilakukan oleh orang lain. Sampai akhirnya aku merantau, dan baru sadar bahwa ibuku itu sangat hemat air. Bahkan bisa dikategorikan masuk pada gaya hidup ramah lingkungan. Apa saja yang beliau lakukan? 

1. Air cucian beras untuk menyiram tanaman
Dulu, Mamaku selalu menyiapkan satu ember khusus. Untuk menyimpan air bekas mencuci beras. Air itu lah yang ia gunakan untuk menyiram kebun dan bunga-bunga di halaman depan. Katanya, airnya cukup menyuburkan tanaman dan bunga kesayangannya.

2. Gunakan kembali air deterjen bekas mencuci dan membilas pakaian 
Mama tidak pernah langsung membuang air bekas deterjen untuk mencuci pakaian. Biasa ia gunakannya untuk merendam kain pel yang sangat kotor. Sering pula ia gunakan untuk menyikat lantai kamar mandi, atau lantai dapur terbuka di belakang rumah kami. Prinsip mama bukan sekedar sayang air, tapi juga sayang deterjen. 

3. Mencuci piring dengan menampung air di bak/baskom
Mama mengajariku mencuci piring dengan membilasnya pada bak berisi air. Setiap piring dan gelas harus dibilas dua kali. Menurut Mama, mencuci dengan langsung mengucurkan air keran, menghabiskan lebih banyak air dibanding dengan menampungnya di bak terlebih dahulu.  Awalnya aku tidak percaya. Namun, di sebuah eco camp di Kota Bandung, kami diajak mencuci piring dengan cara yang diajarkan Mama. Ternyata Mama benar, hehe.

Begitulah tiga tips menghemat air ala Mamaku. Semoga berguna.

#Day24
#30DWCJilid7
#Squad8

Share:

Januari

Hujan masih milik Januari
Seperti rindu yang masih milikmu
Mengapa waktu tak menyembuhkan
Mengapa rela menjadi mahal bagi hati?

Hari-hari yang kau tinggalkan
Telah menjelma menjadi malam bagiku
Kemanakah perginya gemintang?
Yang biasa menyelimuti malam?
Apakah awan kesedihan, menutupi indahnya hitam?

Embun yang menetes di pucuk daun
Menjadi milik pagi
Yang masih kunanti

Ingin kubasuh luka dengan air mata
atau baiknya kusembunyikan saja
pada titik-titik hujan
yang menderas
di bulan Januari itu?

#Day23
#30DWCJIlid7
#Squad8

Share:

Warna-warni Hari Ini

Hari ini rasanya bermacam-macam sekali. Dimulai dengan pagi sibuk nan bersemangat, aku merasa mendapat banyak pembelajaran. Aku sudah merencanakan ingin menulis hikmah yang kutemukan pagi tadi, sebelum waktu Zuhur tiba. Pembelajaran yang kudapatkan dari pagi dan dari orang-orang yang kutemui pagi ini. Namun sesuatu hal terjadi. Membuatku lama tenggelam di dalamnya. Dan semakin lama membuatku ingin marah-marah saja. Entah pengaruh cuaca yang sangat panas hari ini, atau memang aku sedang dipengaruhi hormon. Begitu banyak masalah yang kutemui. Belum lagi kondisi rumah yang mudah menyulut api emosi. Rasanya sore tadi aku ingin menepi. Menyingkir dan lari dari semua kesibukan ini. Menghilang dari grup-grup yang membuatku sibuk sepanjang hari. Aku merasa kehabisan energi untuk melanjutkan perjuanganku menyelesaikan semua target dan pekerjaanku. 

Tapi, bukankah kata menyerah dan melarikan diri sudah biasa aku lakukan? Dan kali ini aku akan mengulang hal yang jelas-jelas berkontribusi pada penyesalan dalam hidupku? Ah, tentu saja tidak. "Tuntaskan Ti, Hadapi, Tiha. Ini mesti beda. Tuntaskan apa yang sudah kamu kerjain, Ti." Tak hentinya aku membatin. Dan akhirnya, niat untuk tidak ikut rapat online aku urungkan. Dengan perasaan berat dan ingin marah-marah saja, aku tetap mengikuti rapat. Mencoba menata diri untuk tampak baik-baik saja. Tetap menyampaikan hal-hal yang kurasa tidak efektif dalam tim. Dan ternyata, rapat online itu memberikanku energi baru. Lalu ada hal di luar dugaan terjadi. Hal yang menggembirakan. 

Malam ini moodku jauh lebih baik. Aku menyadari bahwa semua yang terjadi sudah menjadi ketentuan Allah. Aku kehilangan banyak, merasa terluka, merasa sedih. Namun malam ini aku mendapatkan pembelajaran baru. Bahwa kehidupanku di sini, di rumah masa keciku, adalah kehidupan yang menakjubkan. Selalu ada pelajaran dan inspirasi yang kudapat setiap harinya. Aku semakin bisa memaknai hal-hal kecil dan sederhana yang terjadi dalam hidup. Dan bagiku, itu adalah anugerah yang tiada ternilai harganya. 

Kalau kamu, bagaimana? Ada cerita apa hari ini? 
#myFabulous30
#Day22
#30DWCJilid7
#Squad8


Share:

5 Hal yang Saya Pelajari dari Anak-anak

Sejak kembali ke rumah orang tua, saya nyaris tak pernah melewatkan hari-hari tanpa anak-anak. Apalagi baru saja liburan sekolah berlalu. Semua keponakan saya, memilih berlibur di rumah nenek mereka. Setelah sekian tahun terbiasa hidup sendiri saja, kini ada banyak yang perlu saya urus. Walaupun ini bukan kali pertama, namun tetap saja butuh waktu untuk menyesuaikan diri lagi. Terlebih, kini anak-anak yang saya asuh rentang usianya beragam, mulai usia 2 tahun sampai 7 tahun.

Namun bersama mereka, selalu ada banyak hal yang bisa jadi pembelajaran. Seharian ini, begitu banyak kejadian bersama anak-anak. Kejadian yang membuat saya sadar bahwa setidaknya ada lima hal yang saya pelajari dari mereka.

1. Sabar
Karena selalu berada di rumah, saya selalu ingin melihat rumah rapi dan semua teratur pada tempatnya. Namun, dengan empat anak yang aktif rasanya itu sebuah tantangan. Baru selesai mengepel, anak-anak datang, lalu bermain pasir dalam rumah atau makan dan menjatuhkan remah-remah makanan di lantai. Belum lagi sampah yang berserakan atau mereka yang bertengkar dan berebut mainan. Rasanya saya ingin marah saja. Namun saya sadar, bahwa kemarahan ini tidak baik bagi mereka. Saya perlu pelan-pelan mengajari mereka, banyak hal. Kini saya sedang belajar, untuk berbicara dan mengkomunikasikan hal-hal yang tdak saya sukai, setenang mungkin. Sabar, itulah pelajaran dan latihan saya setiap hari. 

2. Semangat
Beberapa hari yang lalu saya mengantar salah satu keponakan ke tempat latihan bulutangkis. Hari itu adalah hari pertamanya. Saya sempat memperhatikan ia berlatih, selama hampir satu jam. Timbul rasa kasihan melihat latihan fisiknya cukup berat. Belum lagi seisi ruangan memperhatikannya. Saya entah mengapa merasa dia dihakimi, karena lambat. Saya bisa melihat bahwa ia begitu kesulitan mengikuti instruksi pelatih. Demikian pula pelatih, perlu berkali-kali dan saya bisa lihat ia mencoba bersabar melatih keponakan saya itu. Selepas berlatih selama hampir 3 jam, saya bertanya kepada pelatihnya, "Gimana Bang, hari pertamanya?" Sang pelatih tersenyum, "Wah, memang ini melatihnya benar-benar dari nol. Jadi perlu sabar, hehe. Untungnya dia sangat bersemangat dan berkemauan tinggi. Sepertinya dia udah lelah sekali. Sampai rumah jangan lupa makan dan kalau perlu makan suplemen ya." Saya tersenyum sambil menjawab iya. Saya kira setibanya di rumah keponakan saya akan tampak letih atau minder. Namun justru ia sangat bersemangat. Malah mengulang-ngulang pelajarannya di tempat latihan. Dan menunjukkan apa saja yang sudah ia pelajari hari itu, kepada kedua orang tua saya. Saya tahu sekali dia lelah, karena malam harinya ia langsung tertidur pulas. Namun semangat dan kecintaannya pada bulutangkis, membuatnya ingin terus berlatih. Bahkan tidak sabar menunggu hari latihan tiba. Saya tiba-tiba teringat pada diri sendiri. Sudahkah saya bersemangat 100% dan tidak memperdulikan bagaimana orang lain memandang saya? Seperti semangat keponakan saya ini.

3. Mengelola Waktu dengan Jadwal yang Fleksibel
Biasanya saya mengikuti jadwal harian lengkap dengan jamnya, sehingga segala pekerjaan sudah pasti dan terorganisir. Saya paling tidak suka disela oleh aktivitas yang tiba-tiba. Semua sudah dialokasikan waktunya. Namun mengasuh batita, tidak bisa begitu saja mengikuti schedule yang ketat per jam. Ada saja hal tak terduga bisa terjadi. Tiba-tiba anak minta gendong, tiba-tiba terluka, atau waktunya tidur namun rewel. Sementara setiap hari saya punya target, untuk menyelesaikan pekerjaan A, atau menghubungi B pada jam sekian. Jadwal yang bisa fleksibel ini sebenarnya mengganggu sekali. Namun kini saya belajar, agar dapat solusi win-win. Pekerjaan selesai, anak pun aman.
 4. Bilang Terima Kasih
Ada satu keponakan saya, yang selalu senang bila usahanya diapresiasi. Saya menyadari ini ketika suatu kali saya melihat ia membereskan mainannya. Karena itu sangat jarang terjadi, saya merasa sangat terbantu. Jadi saya spontan dengan riang mengucapkan,"Terima kasih ya, Kakak. Sudah membereskan mainannya. Ateh merasa sangat terbantu." Tanpa saya duga, dia lalu membantu saya menyelesaikan tugas rumah lainnya. Membersihkan kaca, menyapu halaman, mengepel rumah, dan mencuci piring. Sejak saat itu, saya tidak pernah lupa mengapresiasi apapun yang ia lakukan. Dan saya sadar, saya jarang memberi apresiasi pada keponakan yang lain. Sehingga kini saya selalu berusaha tidak melupakan mengucap kata terima kasih kepada mereka. Terima kasih yang tulus.

5. Syukur 
Setiap kali mengasuh keponakan seperti ini, saya selalu merasa bahwa ada banyak PR saya dan orang tua mereka. Untuk mengajarkan banyak hal. Untuk mempersiapkan mental dan fisik mereka menghadapi kehidupannya sendiri. Dan ternyata itu sangat tidak mudah. Menumbuhkan sopan santun, sifat empati, dan menanamkan kebiasaan baik bagi anak tidaklah mudah. Seringkali saya dan orang tua mereka kalah dengan rengekan dan tangisan. Padahal selalu mengikuti kemauan anak, juga tidak terlalu bagus. Memanjakan mereka sama saja dengan membuat mereka kelak kewalahan hidup sendiri. Dan setiap kali saya merasa elah mengajari keponakan-keponakan saya akan nilai-nilai hidup, saya teringat Mama. Dulu saya selalu merasa Mama kurang ini dan kurang itu waktu mendidik saya. Namun kini, saya bersyukur, dilahirkan dan dididik oleh beliau. Walau tidak sempurna, namun pola parenting kedua orang tua, berperan membentuk saya yang seperti sekarang. Saya sering merasa, belum tentu saya bisa sebaik mereka. 

Sebetulnya banyak hal lain yang menjadi pelajaran. Lima diatas adalah apa yang saya refleksikan hari ini. Hal-hal yang menegaskan bahwa kita bisa belajar dari siapapun. Bahkan dari anak usia dua tahun. Kalau Anda, sudah belajar apa hari ini?

#myFabulous30
#Day21
#30DWCJilid7
#Squad8
Waktu Bermain

 
Share:

Aku Rindu!

Selepas kemarin menulis tentang rindu, perasaanku masih belum beranjak dari rasa itu. Malah dilanda perasaan rindu pada kawan-kawanku yang ada di seberang pulau ini. Pada teman-teman kuliah S2 dulu, kawan di indekos, kawan-kawan alumni SIAware, kawan-kawan semasa eSTe, dan banyak kawan lainnya. Kawan-kawan yang menjadi teman berjuang bersama, membantu dan menebar manfaat bagi banyak orang.

Malam tadi kukirim pesan pada beberapa kawan. Mengatakan bahwa aku rindu. Kubuka folder berisikan foto-fotoku bersama mereka. Lalu menyadari, betapa aku telah berkenalan dengan banyak orang beberapa tahun terakhir ini. Betapa sudah banyak hal-hal baru yang kulakukan bersama mereka. Orang-orang istimewa yang telah membersamai perjalanan kehidupanku. Mengisi momen-momen yang kini kusadari sebagai momen sangat berharga. Yang memberikanku banyak pembelajaran kehidupan.

Lalu rinduku menjalar pada hal lainnya. Aku tiba-tiba merindukan masa-masa sekolah di magister Perencanaan Wilayah dan Kota, masa-masa studio, masa-masa training, persiapan community service, kepanitiaan training, menjadi relawan, bahkan sekedar bertemu dan membincangkan kehidupan bersama mereka.  Walaupun sebenarnya, ada banyak hal menyakitkan dan tidak menyenangkan yang kualami selama masa - masa itu. Akan tetapi, kusadari, semua ketidaknyamanan itu telah membentuk aku, dan memberikan hasil yang memang kuharapkan. Semua perjalanan dengan ketidaknyamanan itu disertai Allah dengan segenap kegembiraan. Kegembiraan berkenalan dengan banyak orang, dapat membantu banyak orang, juga menemukan kembali mimpi dan tujuan hidup yang sempat terkubur takut. Dari masa-masa suram itu pula, membawaku pada perjalanan spiritual yang tak sudi kutukarkan pada apapun. Perjalananku menemukan Allah, bertahan hanya berharap kepadaNya, dan menemukan ketenangan yang selama ini aku cari.

Kini aku sudah tinggal berjauhan dengan kawan-kawanku ini. Kali ini terasa sangat jauh. Karena aku sudah kembali ke rumah orang tua. Tak lagi satu tanah dan satu pulau dengan kebanyakan dari mereka. Meski kini teknologi dapat mendekatkan, namun bagiku rasanya tak lagi sama. Aku tak bisa tiba-tiba mengatur janji, dan mengajak mereka bertemu. Semua mesti diatur jauh-jauh hari. Kini pun aku kembali, pada tempat kelahiran. Tempat lama namun terasa baru. 

Kawan-kawan istimewaku dan momen berharga bersama mereka sudah berlalu. Meninggalkan jejak pada wishlist yang kini berubah menjadi 'done list' di buku catatanku. Kini aku siap melangkah lagi. Di tempat ini. Tanah dimana aku menuliskan cita-citaku. Dan di sini pula akan kuwujudkan mimpi-mimpi itu. Berbekal doa, ridho Alah, dan pembelajaran yang kudapat bersama kalian, hai teman.

Dan hai kalian, aku Rindu!

#myFabulous30
#Day20
#30DWCJilid7
#Squad8
Precious Moment with Friends

Share:

Ingin kutuliskan

Ingin kutulis syair sedih malam ini
tentang sedih yang jadi tanya
tentang bahagia yang dianggap istimewa

Ingin kutuliskan malam ini
Kata dan sajak berjatuhan
Bersama air mata yang tak henti berlinangan

Ingin kutuliskan malam ini
Betapa sebuah tanya tentang bahagia
mengiris-iris rasa dalam dada
mengapa perlu bahagia?

Ah sulit sekali
merangkai kata, meramu aksara
untuk menjawab segala tanya

dalam tarian jemari
coba kupahat segala rasa
menjadikannya hangat saat dibaca

Ingin kutulis malam ini
adalah pilu yang ingin kusampaikan
dari masa lalu yang telah kulupakan

Ingin kutuliskan
Betapa kuingin
bersembunyi pada hujan
yang membawa angin
sembari menyisir pepohonan
membalut pandangan dalam kabut

Ingin kutuliskan.

#Day19
#30DWCJilid7
#Squad8

Share:

Tentangmu, di Toko Roti

Kerinduan...
tak akan menghilang
kan selalu kurasa
tak mampu ku menghindar...
-Sheila Majid, Kerinduan
kenangan tentangmu tiba-tiba berkelebat
ketika aku menjalani trotoar di jalan Braga ini

Hari itu kita berjalan kaki
dari sebuah hotel tua di jalan Asia Afrika
lalu kau bilang, "Di sini ada toko roti legendaris"
salah satu yang enak di Kota Bandung ini

Harum roti bercampur aroma perabotan tua begitu terasa ketika aku memasuki toko itu
kau tahu, tempat mereka memajang kue sudah tak lagi di tempat yang sama
seperti saat kita kesana

Aku kini duduk di salah satu sudutnya
segelas teh tawar hangat menemani
baru saja diantar seorang yang cukup renta
tapi sangat hangat senyumannya

Toko roti ini bukan yang pertama
ada berapa banyak lagi
tempat legendaris di kota
yang kau kenalkan padaku

barisan pepohonan di Jalan Cipaganti
juga kursi di sudut sebuah kedai cheesecake
mencatat dengan baik derai tawa dan airmata
yang terekam dalam kisah kita

embun di sudut mataku menetes ke dalam gelas
ku berharap ia tak berubah
menjadi jeram yang berarus deras
mengalirkan rindu yang kini ingin lekas kusembunyikan
dalam sepotong roti kadet dan cangkir teh ini

Tapi arus rindu ini terlalu kuat
teh ini mengingatkanku padamu

pelukan hangat yang kau berikan
di saat-saat terburuk
dalam hidupku

Seandainya kau mau duduk di sini
aku ingin menunggumu, di toko roti ini
bercerita kita tentang cita-cita
berkisah kita tentang cinta

Tapi, pendar cahaya dari mentari senja
membawaku kembali pada hari itu
hari terakhir kita berjumpa

Aku duduk di depanmu
sambil menahan air mataku

kau tahu betapa aku rindu
ingin memelukmu
namun kau yang didepanku
hanyalah jasad kaku

dan kau yang di depanku kini
di toko roti ini
hanyalah bayang yang sebentar lagi
menghilang bersama angin

lalu, kemanakah akan kubawa
rasa rindu yang tak sempat berlabuh ini? 

-teruntuk bu Ade, my best friend and sister.

#day18
#30DWCJilid7
#Squad8
Share:

Rahasia Bahagia

Pernah menonton film animasi "Trolls" berkisah tentang kaum Trolls yang diburu para Bergan? Trolls diburu karena Bergan meyakini bahwa hanya dengan memakan Trolls mereka akan bahagia. Saya ga akan cerita kelanjutannya ya. Nanti malah menjadi spoiler, hehe. Film itu membawa pesan tentang kebahagiaan. Bahwa sesungguhnya setiap dari kita pun menginginkan kebahagiaan. 

Pernah ada suatu masa, saya meyakini bahwa bahagia adalah ketika saya tahu tujuan hidup saya. Dan selama saya tidak menemukannya, ada sesuatu yang salah. Saya tidak bahagia. Bahkan sempat merasakan emotionless. Sempat pula menanyakan, apa sebenarnya bahagia? Saya merasakan bahwa tujuan hidup manusia sudah disebutkan dalam Al Qur'an. Mengapa pula saya masih merasa tidak bahagia?

Dari sebuah training dan sebuah terapi, saya menyadari bahwa bahagia adalah pilihan. Loh kok gitu? Perasaan kan tidak selalu bisa kita kendalikan? Bagaimana mungkin memilih perasaan bahagia? Perasaan memang tidak selalu bisa dikendalikan. Namun kita bisa memilih cara pandang, sikap dan tindakan kita pada sesuatu hal. Yang mana itu semua akan mempengaruhi perasaan kita. Coba lihat gambar di bawah ini.

Sumber Gambar: Pinterest

Saat saya merasa bahwa saya harusnya punya tujuan dalam hidup, saya pun tidak 100% bertindak menemukan tujuan itu. Malah menghakimi dan membenci diri sendiri. Padahal, saya punya pilihan. Menghargai hal-hal yang saya miliki, mau mensyukuri apapun yang sudah Allah berikan. Seperti gambar di atas. Atas terjadinya sesuatu atau kondisi yang tak menyenangkan yang saya alami saya bisa memilih sikap. Untuk menyesal, terus menangisinya, lalu semakin lama membenci diri. Atau justru melihatnya dari sisi lain. Bahwa hal tak menyenangkan terjadi sebagai pembelajaran. Bisa jadi ada berkah tersembunyi di baliknya. 
Ah, saya jadi teringat sebuah hadist:
Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya (HR Muslim)"
Jadi, apa rahasia bahagia? Rahasianya ada dalam diri masing-masing. Karena rasa bahagia adalah pilihan.

#myFabulous30
#30DWCJilid7
#Day17
#Squad8
Share:

Perjalanan Menuju Senja

Aku bertolak sejak fajar
saat mentari masih sedang berhias
sebelum keluar bersemu merah

sudah lama rasanya
namun aku tak tahu
masih jauhkah Senja?
di manakah aku berada?

Sang Surya semakin garang
seperti memendam gusar
dalam terik sinarnya

Kudekap erat bekalku
masih kulangkahkan kaki
bersama peluh yang jatuh
tapi tak sempat menjejak pasir
terbawa angin di gurun ini

ini jalan paling melelahkan
rasanya tulangku sudah tak sanggup
menopang seluruh beban di tubuh
ingin rasanya ku biarkan ia runtuh

rasanya kakiku melepuh
menapak di jalan penuh bara api ini
pun tak kuasa aku berlari menjauh

hanya akan membuat
luka yang menganga terlalu lama

adakah yang ingin segera membawaku pergi?
secepatnya melewati jalan memedihkan ini?


kulihat sekeliling jalanku
sama saja sepertiku
berjalan dengan tubuh lusuh
dengan kaki tanpa alas dan penuh luka

aku tersungkur
menatap langit
yang sedang berhias terik matahari
padaNya ku berseru lirih


Duhai yang Maha Mencipta
bisakah Engkau singkirkan semua pedih ini
ku pinta padaMu
Wahai yang Maha Mengasihi
ku ingin jalan bertabur bunga
seharum melati
bukan jalan ini

tak henti ku hembuskan doa-doa bersama angin
sembari berjalan tertatih menahan luka

hanya kemudian aku terdiam
melihat darah jatuh berguguran
dari luka tubuhku
membawa semua kebusukan
yang telah kusimpan dalam-dalam

Tuhan, biarkan aku
sampai pada Senja
membawa kebaikan saja
di seluruh tubuhku.

#Day16
#30DWCJilid7
#Squad8



Share:

Just Give up!

Dalam hidup, sejatinya ada banyak hal yang membuat kita ingin menyerah. Menyerah karena tidak sanggup melakukan setumpuk pekerjaan yang seperti tiada habisnya. Belum lagi tekanan dari berbagai pihak, entah dari keluarga, pekerjaan, atau kegiatan lain di luar itu. 

Dua hari terakhir ini saya melihat beberapa orang dari tim mengundurkan diri. Untuk berbagai alasan dan mungkin pertimbangan. Tapi sejujurnya ini membuat saya sedih. Karena, masa perjuangan kami hanya tinggal delapan hari lagi. Melihat orang-orang satu per satu mengundurkan diri, ingin rasanya saya katakan pada mereka betapa saya pun ingin menyerah saja. Bahwa saya pun memiliki kesibukan lainnya. 

Namun, bukankah saya sudah berjanji akan komit. Sisi lain dari diri saya berteriak dan mendorong diri saya untuk bertahan. Saya tahu bahwa suatu saat nanti saya akan menyesal karena menyerah hari ini. Berkali-kali saya mengatakan kalimat-kalimat ini pada diri:
"Sebentar lagi, satu hari lagi."
"Lihat nanti apa yang akan terjadi, jika kamu tidak menyerah. Nothing to lose, here."
"Mau sampai kapan begini? Kalau tidak tuntas sekarang, kapan lagi?"
"Aku sudah melewati banyak hal dan melewatkan puluhan hari untuk berjuang. Hanya untuk menyerah di hari-hari terakhir?"
"Yes you can. Yes you will, Ti. Remember, why are you here, in this team?"
Setelah mengatakan semua kalimat di atas, saya biasanya kembali bersemangat. Mencari semua jalan yang mungkin, menyelesaikan satu per satu tugas dan hambatan yang saya hadapi. Kewajiban yang rasanya mustahil dan akan sangat melelahkan bila dikerjakan.

Saya bukanlah orang yang punya kemampuan bertahan dalam hal-hal rumit dan rintangan. Saya masih belajar untuk itu. Saya pernah merasakan menang atas diri, tidak mengikuti keinginan sendiri untuk menyerah. Dan rasanya luar biasa. Suatu perasaan menang yang selalu membuat saya ketagihan. Setiap lelah dan ingin menyerah, saya kembali mengingat alasan saya berada dalam tim. My strong why. Kemudian menghipnotis diri dengan kalimat- kalimat yang menjadi mantra penyemangat.

I will not give up. Hanya beberapa hari lagi. Sebentar lagi. Ada banyak hal yang bisa terjadi di hari kedelapan nanti.

Just Give Up thinking about give up!



#myFabulous30
#Day15
#30DWCJilid5
#sQUAD8
Share:

Be Loving and Caring Person, hey Me!


Mari kita membuka hati
agar jujur saja
turuti kata nurani
Mari....
kita membuka hati 
agar jujur saja
tak mungkin hadapi hidup....
tanpa cinta
- Sheila Majid-Jujur

Hari ini saya mempunyai tugas menghubungi beberapa orang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Untuk menindaklanjuti sesi berbagi sebuah training di salah satu kampus di Jakarta. Jujur saja, meskipun ini bukan yang pertama kalinya tetap saja perasaan cemas itu ada. Takut bila ditolak, bila dianggap aneh atau mengganggu, atau bahkan tidak direspon sama sekali. 

"Ah, kenapa mesti takut. Pada dasarnya bukan saya lah yang ditanggapi. Tapi lembaga yang mewadahi saya. Lagipula saya mendekati manusia." Begitu pikir saya pagi tadi. Saya mencoba mengondisikan diri. Meyakinkan diri bahwa saya melakukan ini bukan untuk saya, tapi sepenuhnya untuk orang yang dihubungi. Mungkin dia ingin mengembangkan diri dan mengenal dirinya dengan lebih baik. Mungkin dia adalah satu diantara banyak orang yang membutuhkan training ini. Saya mencoba 'terhubung' dengan lawan bicara. Meskipun terpisah jarak, saya yakin, yang datang dari hati akan sampai ke hati pula. Ternyata ini efektif. Saya merasakan bahwa orang yang saya hubungi tidak menutup dirinya. Welcome dengan kehadiran saya. 

Beberapa orang belum merespon teks yang saya kirim. Tapi ya sudahlah. Awalnya saya merasa belum maksimal hari ini. Sedikit kecewa pada diri sendiri. Namun seorang kawan di grup, mengapresiasi dengan cara yang membuat saya sadar kembali. "Hargai effort yang kalian berikan. Beneran HARGAI diri kalian," begitu kalimat darinya. Mata saya berkaca-kaca. Sadar bahwa saya hampir saja membuat diri tak berharga. Saya menepuk-nepuk diri. Sambil mengatakan ini: "Terima kasih ya. Sudah melakukan banyak hal hari ini." 

Bukankah hari ini pun saya membuka hati? Datang dan hadir di hadapan orang lain dengan tulus. Tidak membawa target dan pikiran apa pun di kepala. Hanya sekedar ingin terhubung. 

Bukankah saya yang hari ini pun, mulai bergerak dan berubah karena seseorang datang pada saya dengan tulus? Mengatakan semua hal yang ia rasakan tentang saya. Mendorong saya untuk tumbuh dan berkembang menjadi sebaik-baik manusia. Dan itu semua dimulai dari rasa cinta, yang membuat saya merasa didengar dan diapresiasi keberadaannya.

Hari ini saya belajar lagi tentang sisi diri saya yang lain. Bahwa sebetulnya, I really love seeing myself growing! And seeing others grows too. Melihat orang lain tumbuh, berkembang dan melesat kehidupannya. Dengan menjadi diri saya yang hadir untuknya. Menerima dia dengan segala sisi efektif dan tidak dari dirinya. 

Semua dimulai dari sini. Kejujuran, ketulusan, dan cinta.




#MyFabulous30
#Day14
#30DWCJilid7
#Squad8
Share:

Discover Yourself


Waktu terbatas bisa menjadi trigger bagi orang untuk bergerak. Saya pernah mengalami suatu masa, dimana saya sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Menghitung-hitung berapa lama waktu yang terbuang. Ada hidup yang saya inginkan, tapi saya tak tahu harus melakukan apa. Saya merasa tidak mampu, takut gagal, tidak punya bakat untuk melakukan hal-hal hebat, tidak bisa berkomitmen, dan tidak layak. Semua keyakinan ini semua membuat saya benci pada diri sendiri.  Saya bertanya-tanya, sampai kapan saya akan terjebak dalam lingkaran yang itu -itu saja. Menginginkan kehidupan yang berbeda, namun tidak melakukan apa-apa. Menghabiskan waktu hanya untuk bekerja dan mengutuk diri saja. Dan tiba-tiba waktu habis, menguap begitu saja. Kemana umur 20an saya pergi?

Saat itulah saya merasa saya perlu melakukan sesuatu. Dari share seorang kawan di grup, saya baru tahu bahwa sebuah pelatihan yang saya kira hanya untuk fresh graduate ITB, kini membuka pendaftaran. Syaratnya ternyata hanya satu usia maksimal 30 tahun. Saya memutuskan mendaftar, tanpa tahu seperti apa trainingnya. Saya mulai mencari informasi dari internet, tentang pelatihan bernama Self Insight Awareness Training (SIAware). Tidak banyak informasi tentang detail jadwalnya. Namun banyak testimoni dan tuisan blog yang membantu saya kala itu.

Dan setelah mengikutinya, saya baru mengerti, mengapa prosesnya tidak diceritakan. Karena justru disanalah serunya. Empat hari training itu sangat bermakna bagi saya. Menjadi titik balik, seperti terang sesudah gelap, sepert isakit yang menemukan penawarnya. Saya tidak hanya menemukan diri saya sendiri, menerima kekurangan diri, menghargai anugerah dan semua usaha yang sudah saya lakukan dalam hidup ini. Namun juga belajar memaafkan dan melepaskan masa lalu yang menyakitkan. Dan paling penting, disinilah saya memutuskan, berani bertindak untuk hidup saya. Di SIAware ini pula saya akhirnya bisa melihat jelas, apa yang sebenarnya saya inginkan dalam hidup. 

Selepas SIAware saya banyak mengambil keputusan dan melakukan hal-hal penting dalam hidup. Satu per satu wishlist, kini menjadi done list. Satu langkah tindakan yang saya ambil, membuka banyak pintu bagi terwujudnya harapan lain. Saya memberanikan diri mendaftar sebuah pelatihan menulis. Saya mendaftar di menit-menit menjelang pelatihan dimulai. Informasinya baru saya baca malam harinya. Kalau saya yang lama, mungkin langsung menyerah mendengar pendaftaran sudah ditutup. Namun, saya sadar, tak ada salahnya mencoba. Kalau memang sudah tutup, memang belum rejekinya. Dan ternyata mereka masih menerima pendaftaran. Resmlah saya bergabung sebagai peserta terakhir dalam sebuah program Bikin Buku Club.

Bergabungnya saya dalam club ini, membuka saya pada lebih banyak komunitas menulis, kelas online, juga berbagai event kepenulisan. Jejaring pertemanan saya dalam dunia tulis-menulis semakin meluas. Banyak ilmu yang saya dapatkan tentang kepenulisan. Padahal awalnya saya sama sekali tidak membayangkan akan aktif menulis seperti ini. Saya khawatir tulisan dihakimi, tulisan tidak bagus. 

Dulu saya hanya menatrgetkan satu buku sebelum mati. Kini saya bermimpi dapat menulis lebih banyak dan lebih lama lagi. Saya tidak pernah menyangka saya memiliki sisi diri yang seperti ini. Yang mau berjuang dan melihat kesempatan dalam setiap hal. Yang bila fokus pada potensi dan kemampuan yang dimiliki, ternyata bisa melakukan banyak hal yang bermakna dan bermanfaat bagi orang lain. Ketika saya memutuskan melakukan sesuatu yang tidak biasanya, sesuatu yang berbeda, saya menemukan sisi diri yang efektif. Seorang kawan pernah mengatakan


Hal baru = tidak nyaman = discovery 
(Indah, 2017)

Intinya, adalah ketika saya memilih melakukan hal baru, ada tantangan baru yang akan saya hadapi. Dan itu kemungkinan membuat saya tidak nyaman. Namun, justru dari berbagai pengalaman, saya belajar bahwa ketidaknyamanan itu membawa saya pada pembelajaran baru. Mengantarkan saya untuk discover my self. "Oh, ternyata aku bisa melakukan ini. Oh, ternyata aku punya kemampuan seperti itu." Yang itu belum tentu saya temukan, ketika saya melakukan hal yang sama, memilih yang nyaman saja. 

Dan satu hal, pembelajaran ini tidak akan ada habisnya selama saya masih hidup. Karena memang manusia diciptakan dengan segala potensi yang Allah berikan kepadanya. Dan ada banyak hal yang bisa dipelajari dari diri sendiri. 

So, i decided to start living the life i imagined. 
How about you?


#MyFabulous30
#Day13
#Squad8
#30DWCJilid7
 
Share:

Writing is Sharing


Ada banyak hal di dunia ini yang bisa disyukuri. Bahkan pertemuan dengan siapapun. Dengan orang menyebalkan sekalipun. Ada makna yang terkandung didalamnya. Entah baik, entah buruk. Belajar caranya bersabar, belajar caranya menghadapi orang – orang yang aneh. Entah kenapa aku ingin menuliskan soal ini. Mereka bilang menulis berawal dari kegelisahan. Menulis adalah untuk memgekspresikan. Not try to impress someone.

Menyenangkan kalau bisa menulis apapun. Tapi semua akan dipertanggungjawabkan. Penting memastikan bahwa semua yang kutulis bermanfaat, bukan hal sia-sia, apalagi menyesatkan. Dan aku menyadari, bahwa sesungguhnya aku perlu berbagi, tentang cerita diri dan sekitarku. Bukan untuk membanggakan, bukan pula untuk berkeluh kesah tentang beragam masalah. Tapi bercerita pada orang lain, bahwa ada beberapa keadaan, kesulitan, atau keberhasilanku melewati suatu rintangan. Karena menyimpannya sendirian, bisa saja aku melupakan seperti apa perasaanku ketika mendapatkan pembelajaran kehidupan.

Aku teringat cerita seorang kawan. Biasanya ia selalu bersemangat dan punya pikiran-pikiran brilian. Seperti seorang coach bagiku. Tapi ada pula suatu masa, ia menghadapi musuh terbesarnya, diri sendiri. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi. Penderitaan rasa memperbesar sudut gelap dari dirinya. Ia sibuk menyalahkan diri, membenci diri, dan berada dalam kesedihan selalu. Aku tidak tahu harus menolongnya bagaimana lagi, selain menjadi penyimak setia untuk setiap curahan hatinya. Karena bagiku, ini adalah antara dia dan dirinya. Kesedihan yang ia rasakan perlahan menggerogoti kehidupan pekerjaannya dan jalannya mencapai cita-cita untuk bersekolah ke luar negeri.

Aku membiarkannya menyepi dan menyendiri, mendekat pada Ilahi. Kurasakan ia fokus pada suatu hal, dan mengabaikan penyebab kesedihan itu datang. Suatu hari ia berbagi, betapa bahagianya ia hari itu. Begitu banyak agenda di hari-hari ke depannya. Ia merasa semakin bersemangat. Dan berhasil menyelesaikan banyak hal dalam satu minggu terakhir. Aku seperti melihatnya menyeruak. Berhasil melawan diri sendiri, lalu menyeruak dari kolam kesedihannya. Ia hanya sekedar berbagi, karena ia tak tahu harus menyalurkan kebahagiaan itu pada siapa lagi. Tapi mungkin tak ia sadari, ia telah ikut menginspirasiku, menularkan semangatnya padaku.

Aku menyadari, berbagi kisah melalui tulisan bukan sekedar melepaskan perasaan sedih atau bahagia tak terkira. Tapi kita tak akan pernah tahu, seperti apa dampaknya bagi orang lain. Kalau ada yang mendapatkan manfaat, bukankah sudah dicatatkan kebaikan bagi kita. Kalau pun tidak, adakah ruginya menulis? 
 
Selamat pagi, selamat berbagi :)
  
#Day12
#30DWCJilid7
#Squad8

Share:

Senjamu




Dan perjalanan ini membimbingku pada sebuah kisah
masa kecilmu yang tiba-tiba berkelebat di kepalaku
kisahmu menggema dalam dinding hatiku
menjamah perih yang tersisa dari cerita yang lalu
Duhai wanita yang amat kusayangi
bagaimana engkau hidup selepas petaka
datang memecah masa kecilmu yang bahagia?


Kini...di senjamu....
cerita masa lalu seakan baru terjadi tadi pagi
dan aku selalu siap menjadi labuhan
kisah berulang yang kau nyanyikan

Kau selalu bilang padaku
tak perlulah aku menemani mu di senja ini
tak kuhalangi hidupmu
pergilah, kemana pun yang ingin kau tuju
aku selalu setuju
Selama di sana kau temukan bahagiamu

Duhai yang tak pernah berhenti
menyebut namaku dalam doanya
Mengapa aku harus mencari bahagia
Di tanah orang-orang asing
Bila bahagia dunia akhiratku
Ada di bawah telapak kakimu

Aku ingin bersamamu
memilin harapan dalam doa
menyeka lelah masa lalu
yang menggelayut di matamu

Bunda, ini pilihanku
menjadi tempatmu bersandar
menjadi tangan dan kaki yang menuntunmu berjalan
menjadi tempat kau mengaduh lukamu
memeluk lirihan kalbumu
menjalin serabut suka dan duka
di senjamu
Sambas, 16 Juli 2017

#Day10
#30DWCJilid7
#Squad8
Share:

Telegram diblokir?

Ketika menerima kabar di salah satu grup di telegram bahwa aplikasi ini akan diblokir, saya tidak langsung percaya. Mungkin ini jenis hoax yang lain, pikir saya waktu itu. Tidak berapa lama, seorang anggota grup membagikan sebuah tautan berita dari detik.com. Saya pun mulai mencari tahu beritanya. Saya cukup lega ketika tahu bahwa yang diblokir adalah yang berbasis webnya. Sedangkan aplikasi yang melalui ponsel tidak. Tapi berita tentang pemblokiran ini masih saja hangat dibicarakan. Bahkan banyak yang membuat petisi, juga melapor langsung pada pembuat aplikasi Telegram. Memang aplikasi ini belum sepopuler Line, WhatsApp. Tapi saya melihat ada potensinya kesana. Beberapa grup dan kelas online yang saya pernah dengar, diadakan melalui Telegram. Saya mulai mempertanyakan keputusan pemerintah. Alasan apa yang melatarbelakangi pemblokiran aplikasi ini.
"Di Telegram, kami cek ada 17 ribu halaman mengandung terorisme, radikalisme, membuat bom, dan lainnya, semua ada. Jadi harus diblok, karena kita anti-radikalisme," kata menteri yang akrab disapa Chief RA itu, Jumat (14/7/2017). (Sumber: detik.com)
Mengapa Telegram? Bukankah ada website, ada aplikasi chat lain, dan banyak sumber lainnya yang mungkin mengandung terorisme, radikalisme, dan sebagainya. Apakah memblokir aplikasi ini benar-benar solusi yang efektif. Apa ini tidak seperti membunuh nyamuk dengan cara dibom?  Tidakkah masih banyak solusi lain, untuk mengatasi terorisme? Ah, mungkin ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang pertahanan negara. Mungkin ini keputusan terbaik yang bisa pemerintah lakukan ditengah maraknya isu terorisme. 

Tapi di sisi lain, saya pun prihatin. Tidakkah perhatian negara seakan lebih berat pada urusan terorisme ini. Bukannya tidak mendukung upaya dan kerja keras pemerintah. Namun sekedar mempertanyakan, sudahkan perhatian serupa ditujukan pada hal lain yang juga menjadi ancaman dalam diam? Yang dampaknya mungkin tak serta merta dirasakan? Namun pelan-pelan merusak generasi, lalu perlahan menghancurkan keberlangsungan negara ini? 

Keprihatinan ini muncul kembali, ketika tadi saat membuka situs Goodreads, terpampang dengan jelas sebuah iklan game 18+ dengan gambar yang tak layak, menurut saya. Memang itu sumbernya dari GoogleAds, yang mungkin tak mudah untuk dikendalikan. Tapi maukah kita mulai sadar, bahwa kini pornografi semakin mudah diakses, bahkan datang dengan sendirinya. Siapa yang membuka laman web Goodreads? Tak ada orang tua yang curiga bila anaknya membuka situs ini. Toh situs ini adalah situs tentang buku bacaan. Pun sama halnya ketika suatu kali saya membuka aplikasi religi di ponsel. Karena gratis, aplikasi ini memuat Ads. Alangkah terkejutnya saya ketika iklan yang muncul, adalah iklan berbau pornografi. Rasanya mengerikan sekali, bila dunia tanpa batas yang bisa digenggam ini, menjadi teman sehari-hari generasi muda. 

"Ah, kalau melihat itu kan dosanya pada diri sendiri. Kalau teroris kan sifatnya meluas. Berdampak pada khalayak banyak" Mungkin Anda pernah mendengar celetukan bernada seperti itu. Mungkin ini seperti candaan. Mungkin juga yang bersangkutan belum pernah secara langsung bertemu dengan korban-korban pornografi. Pada orang-orang yang mengalami adiksi dan berjuang keras melawan adiksinya. Tentang bagaimana hidup seseorang ketika mencandu pornografi. Pernahkah Anda mendengar bahwa pornografi merusak 5 (lima) bagian otak manusia yang akan mengakibatkan otak mengecil? Hal ini sangat berpengaruh dalam berpikir, juga mempengaruhi cara pandangnya terhadap masalah dan pengambilan keputusan.  Ah, saya teringat sebuah video bagus yang dibagikan seorang kawan. Bisa dilihat di sini. (klik)

Bila Anda sudah melihat video itu, saya yakin Anda sudah punya bayangan seperti apa pornografi bisa menjadi bencana. Saya menyaksikan sendiri, seseorang yang tercandu pornografi. Dari luar, ia terlihat baik-baik saja. Namun sebetulnya sama sekali tidak. Hidupnya benar-benar labil. Ia selalu bingung dengan dirinya. Jika ada puluhan, ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan orang generasi muda kita mengalami hal yang sama, apa jadinya?

Baik terorisme maupun pornografi sama-sama berbahaya menurut saya. Tidak hanya terorisme, pun rasanya saya ingin mendengar lebih banyak laman web yang bermuatan pornografi, diblokir oleh Pemerintah. Ah sekali lagi, mungkin saya yang kurang wawasan. Mungkin di balik meja-meja staf di Kementerian Kominfo saat ini ada orang-orang yang sibuk memblokir situs bermuatan pornografi. Sibuk bekerja dalam diam, supaya negara ini selamat. Baik dari ancaman dari dalam maupun dari luar.
Semoga. 

#Day10
#30DWCJilid7
#Squad8






Share:

Apa yang Saya Pelajari Saat Kembali ke Rumah


Setelah 13 tahun merantau, saya memutuskan kembali ke kampung halaman. Hari ini, terhitung dua bulan saya berada di rumah orang tua. Belum bekerja kantoran seperti biasanya. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengasuh keponakan, membantu memasak, berbenah rumah, dan menulis.

Berada kembali di rumah yang sudah saya tinggali sejak lahir, membuat saya semakin sering mengalami kilas balik. Seakan kembali pada masa saya masih bersekolah. Apalagi di rumah ini, masih banyak barang-barang dan furnitur rumah yang sudah ada sejak masa kanak-kanak saya. Kursi, meja, sofa, lemari pakaian, pakaian, komputer, radio, bahkan tape recorder. Bentuk rumah pun tidak banyak berubah. Yang berbeda penghuni rumah bertambah, dan kedua orang tua saya yang semakin sepuh. Berkurang pendengaran, penglihatan, dan tentu staminanya.

Melihat banyak sudut dalam rumah juga kondisi sekitar rumah yang sudah tak serapi dulu, membuat saya sedih. Belum lagi barang-barang yang sebenarnya sudah tak berfungsi lagi, pakaian masa kecil saya, pakaian kedua orang tua saya semasa masih bekerja, menumpuk dimana-mana. Sementara barang-barang baru tetap dibeli. Kondisi rumah ini terlihat semakin tidak terurus.

Padahal dulu, Mama adalah orang paling cerewet soal kebersihan rumah. Sebulir nasi jatuh dan terinjak di lantai kayu rumah kami, Mama bisa mengomel sepanjang hari. Bahkan bisa diungkit-ungkit besok, lusa, bahkan bertahun kemudian. Kamar mandi disikat setiap hari, gayung selalu bersih, kompor, meja makan, dan seisi dapur pun sama. Kini, beliau bahkan tidak bisa berbuat banyak bila ada banyak bulir-bulir nasi bertaburan di lantai, yang terinjak, mengering, dan membuat lantai tampak kotor dan tidak nyaman dijalani.

Semakin lama berada di rumah, entah mengapa semakin sering pula kilas balik masa kecil itu terjadi. Hari ini saya banyak teringat akan Uan (Nenek). Uan sesekali datang berkunjung ke rumah kami. Menginap untuk jangka waktu yang lama, biasanya sampai sebulan. Bila sedang di rumah, nenek saya selalu sibuk membersihkan rumah kami. Mulai dari ruang depan sampai dapur, mulai dari teras sampai halaman belakang. Semua lemari dan sudut rumah ini tidak ada yang terlewatkan olehnya. Ia akan mulai berbenah pagi sekali, berbekal sapu lidi di tangan.

Uan selalu menyapu seluruh ruangan dengan tuntas, sampai ke bawah meja, lemari, bahkan sudut-sudut yang menurut saya kala itu, sulit dijangkau. Tempat-tempat yang memang berdebu tebal. Karena dulu saya jika menyapu lantai hanya menyapu bagian yang terlihat saja. Sambil sibuk mengumpulkan debu-debu dan sampah, Uan bisa sambil mengomeli saya. “Tuh, masih banyak sampah dan debu begini. Kalau menyapu lantai harus sampai sudut dan bawah seperti ini. Supaya tidak ada binatang, lipas, atau malah tikus bersarang!”. Jika sedang di halaman rumah dan saya ada didekatnya, omelan lain akan mendarat di telinga saya. “Muslim itu rumahnya harus bersih, halamannya juga bersih. Jangan suka sembarangan buang sampah. Ini juga biji-biji durian, nangka, cempedak, kelapa, jangan sembarang buang. Lihat, mereka tumbuhnya pun sembarangan!” Tangannya cekatan mencabut tunas-tunas yang terlalu banyak tumbuh di sekitar rumah.

“Ma, jadi ingat Uan ya. Kalau masih ada, pasti rumah ini bersih. Ga ada lipas atau tikus yang mau lalu lalang di dapur ini. Kalau melihat kondisi begini, pasti juga sudah sibuk mengomel.” Kalimatku pada Mama ketika akan membenahi dapur yang akhir-akhir ini kerap didatangi tikus. Aku teringat pula dulu, Mama pun tak jauh berbeda dengan Uan. Hampir setiap hari saya diomeli, karena dianggap malas dan lamban. Padahal, menurut saya (waktu itu) Mama punya standar terlalu tinggi. Masa iya, kamar mandi dan toilet harus dibersihkan setiap hari. Pekerjaan lain juga tetap saya kerjakan, saat sudah mood biasanya. Tapi kini, di rumah ini saya membersihkan kamar mandi setiap hari, mengomeli keponakan yang bikin rumah berantakan atau lama membantu saya beres-beres rumah. Saya merasa mulai bertingkah seperti Mama dulu. Saya pula yang sibuk membersihkan rumah dengan cara yang diajarkan oleh Uan.

Saya tiba-tiba menyadari sesuatu. Omelan Mama dan Uan, sejatinya adalah cara keduanya mengajari saya. Yang karena berulang sampai bertahun-tahun lamanya, pelajaran itu seolah mendarah daging. Seakan suara Uan dan Mama di kala itu tersimpan dengan baik dan siap diputar ulang kapanpun diperlukan. Seperti hari ini ketika saya melihat kondisi rumah setelah bertahun-tahun. Saya gregetan ingin segera membersihkan dan merapikan. Rasanya aneh dan luar biasa, sesuatu yang dulu saya anggap sangat menyebalkan, ternyata kini saya kerjakan. Menjadi salah satu pelajaran praktis (terkait membersihkan rumah) buat saya. Saya berpikir, jangan-jangan ada banyak hal lain dalam hidup saya yang seperti ini. Bahwa saya perlu melewati dan mengalami berbagai pengalaman menyakitkan, tidak menyenangkan, bahkan menyebalkan, untuk kemudian menyadari bahwa itu adalah pelajaran berharga bagi kehidupan. 

Well, semua terjadi karena alasan kan?


#MyFabulous30
#FabulousMind
#Day9
#30DWCJilid7
#Squad8


Share:

Memilih Sikap dan Perasaan


Ketika sedang mengumpulkan bahan tulisan untuk #myFabulous30 saya menemukan satu pertanyaan menarik di sebuah laman web berbahasa Inggris. Begini bunyinya:  
What does being single at 30 do to a woman's body and mind?
Kira-kira kalau diterjemahkan bebas, pertanyaannya seperti ini: Apa yang terjadi pada pikiran dan tubuh seorang wanita yang masih lajang di usia 30? Penasaran, saya pun membaca jawaban yang disediakan di situ. Dan saya sangat menyukai kalimat penutup yang ditulis oleh sang penjawab pertanyaan.
Being single doesn't affect the woman's mind or body. The woman's attitudes towards and feelings about being single might.
Ya, masih lajang pada usia ini tidak mempengaruhi tubuh maupun pikiran seorang wanita. Sikap dan sudut pandang wanita pada status ’30 dan masih lajang’ mungkin iya. Pertanyaan-pertanyaan yang terkait dan hampir serupa juga sangat menarik. Membuat saya tahu, bahwa wanita mana pun di dunia ini memiliki concern yang sama, tentang lajang di usia 30.


Sumber Gambar Klik di sini
Saya lalu mengingat-ingat, seberapa sering saya memikirkan dan mempertanyakan hal serupa. Hal-hal yang kadang pada akhirnya membuat diri cemas, merasa nelangsa, atau gagal menjadi perempuan. 

Meskipun sebenarnya tidak sendiri, saya selalu merasa seolah-olah saya adalah lajang paling nelangsa. Apalagi kalau melihat tetangga yang anak-anaknya seusia bahkan lebih muda dari saya sudah dilamar, sudah pada menikah dan punya anak. Juga saat bertemu kawan lama, dan dia langsung bertanya, "Anakmu sudah berapa?".  Dalam grup online pun, lingkaran kawan-kawan seangkatan sudah sibuk dengan obrolan seputar sekolah anak, laktasi, perilaku balita, balada asisten rumah tangga, atau tentang kehamilan anak kesekian. Saya jarang menimpali. Karena sibuk membatin, "kalau menikah seperti dia, mungkin anakku sekarang sudah SD, dan seterusnya". "Jangan-jangan nanti tidak menikah," pikiran seperti ini pun kerap mencemaskan diri. 

Lalu saya menyadari, bahwa semua kegelisahan ini bersumber dari pilihan yang saya buat sendiri. Pilihan untuk memandang status saya saat ini sebagai aib, kekurangan, sumber kegalauan dan kegelisahan utama dalam hidup. Menikah itu bukan lomba lari, kalau kata Tere Liye. Seorang kawan berbagi nasihat pagi ini, intinya semua orang hidup di zona waktunya masing-masing. Kalau zona waktu Jakarta GMT+7, dan Los Angeles GMT-7, apa kehidupan di Los Angeles lebih lambat dibanding Jakarta? Tidak kan. Semua orang memang sedang berlari dalam hidupnya, dalam perlombaannya sendiri. "Semua sesuai rezekinya masing-masing, Ti. Saya nikah, punya anak, dan rumah. Kamu punya waktu sekolah dan kemudahan bekerja ke daerah mana pun." Begitu kalimat seorang kawan, saat saya pernah galau dan menyatakan iri pada kehidupannya yang sudah cukup mapan.

Ah, iya juga. Ada banyak blessing in disguise dalam status ini. Saya terlalu fokus mengasihani diri. Lupa ada banyak hal yang patutnya disyukuri. Kesadaran ini pula yang membuat saya kini berani melakukan banyak hal yang tak biasa. Mencoba memperluas zona nyaman, melakukan hal-hal yang menantang, terlibat dalam berbagai kelas, training, panitia acara dan kepanitiaan disaat kebanyakan wanita seusia saya sibuk membicarakan dunia rumah tangga dan dunia anak-anak. Obrolan-obrolan bersama mama-mama muda ini masih saya simak. Saya anggap sebagai pelajaran pra-nikah.

Ah ternyata, ada banyak hal yang bisa saya lakukan selain fokus pada perasaan dan kegalauan melajang. Terlalu fokus pada status, bukan usaha mempersiapkan kehidupan selanjutnya. Kini saya memilih untuk sibuk bertindak, sebagai wujud syukur pada satu per satu hal yang bisa nikmati selama masa lajang ini. Kalau kamu, memilih apa? :))

Appreciate the good things you already have in your life — especially the freedom. Ask yourself what joys you’re putting off by waiting until marriage. (Michelle Cove in Seeking Happily Ever After: Navigating the Ups and Downs of Being Single Without Losing Your Mind (and Finding Lasting Love Along the Way).


#myFabulous30
#FabulousMind
#Day8
#Squad8
#30DWCJilid7
Share: