Curhat atau Mengeluh?

"Sebenarnya, gw ga mau curhat. Ah, drama banget gw hari ini. Sebel."

Sepotong kalimat ini sering saya dengar akhir - akhir ini. Bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, curhat  adalah sesuatu yang sebisa mungkin dihindarkan. Takut dianggap drama queen, atau tukang ngeluh yang senggol dikit langsung curhat. Pada intinya, tidak ingin di judge dengan isi curhat itu. Bagi sebagian yang lain, curhat dianggap sebagai bentuk keluhan. Saya dulu menahan diri untuk tidak curhat kesana kemari karena satu alasan lain. Yakni merahasiakan keluhan, yang dianjurkan dalam salah satu hadis.

Sudah beberapa tahun lamanya, saya menahan diri untuk menceritakan keluhan atau curhat pada siapa pun. Walaupun itu sebenarnya sedikit berlawanan dengan diri yang cenderung ekstrovert. Jadi tidak menyukai terlalu banyak cerita dan terbuka pada orang lain. Dan bila saya mulai curhat, biasanya ada rasa sesal yang terbit dalam diri. Merasa diri sendiri terlalu dramatis. 

Perasaan yang dipendam ini ibarat sampah emosi yang terkubur dalam diri. Semakin lama berpotensi meledak dan memakan sedikit demi sedikit energi positif. Saya sempat depresi, seringkali menangis tanpa alasan, merasa gagal hidup menjadi perempuan dan kehilangan makna impian. Lalu kemudian merasa bersalah lagi, karena semestinya muslim beriman tak kenal depresi. Masa suram ini berlangsung bertahun-tahun. Hingga saya tidak bisa merasakan kesedihan mendalam maupun bahagia yang memuncak. Saat itu, saya tidak tahu apa yang salah.

Hingga akhirnya saya mengikuti sebuah training pengembangan diri. Menemukan pelajaran berharga, perihal curhatan dan menyayangi diri. Menyadari, bahwa tak ada yang salah dengan curhat, malah saya amat membutuhkannya. Tapi seperti apa curhat yang dibutuhkan itu?

Curhat yang dibutuhkan itu adalah yang memberi solusi. Biasanya, saya melakukan dua hal ini sebelum curhat: bertanya untuk apa dan kemudian terbuka pada umpan balik dari orang lain setelah mendengar curhat dari saya.

1. Curhat untuk apa?
Saya selalu bertanya pada diri: "Apa yang ingin saya dapatkan dengan menceritakan ini pada si A?". Jika hanya untuk mengeluh, menggerutu, atau menunjukkan sisi mengasihankan, saya urungkan niat curhat. Tapi bila memang ada solusi yang dibutuhkan atau itu efektif untuk menyelesaikan persoalan maupun mencapai tujuan hidup tertentu, lakukanlah. Ceritakanlah apa yang sedang terjadi atau apa yang dirasakan. Kita mungkin akan mendapatkan sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi masalah. Tapi yang lebih penting, orang lain mungkin memang punya solusi untuk mengatasi persoalan itu.


2. Terbuka pada umpan balik
Biasanya dari sudut pandang orang lain, terlihat sikap diri yang tidak efektif dalam menyelesaikan atau menghadapi persoalan. Tapi biasanya, kita tidak ingin mendengarkan umpan balik soal itu. Kita fokus mencari pembenaran dan orang yang mau memberi belas kasihan. Menjadi orang di sisi kita. Padahal, umpan balik yang jujur itu penting. Supaya kita bisa memperbaiki sikap atau mengubah sikap ketika suatu saat kelak dihadapkan pada persoalan yang sama. 

Dengan dua sikap ini, saya tidak lagi menumpuk sampah emosi dalam diri. Perasaan cemas dan tiba-tiba menangis tanpa alasan, sudah tidak pernah lagi saya alami. Saya seakan semakin pahami batasan, kapan saya perlu curhat dan kapan saya perlu menyimpannya sendiri untuk dikeluhkan pada Allah saja. Dan hal paling penting saat bijak mengelola curhat adalah masalah-masalah yang tampaknya mustahil dan berat untuk diselesaikan, bisa jadi menemukan solusi dan jawaban. Melalui sesi curhat, tentunya curhat yang beralasan, bukan sekedar keluhan. 

Salam, Tiech. 


Dan aku menyadari, bahwa sesungguhnya aku perlu berbagi, tentang cerita diri. Bukan untuk membanggakan, bukan pula untuk berkeluh kesah tentang beragam masalah. Tapi bercerita pada orang lain, bahwa aku dalam kesulitan, mungkin mereka bisa memberikan dukungan, untukku melewati tantangan.
Curhat tanpa alasan tetap bisa dihindarkan. Tapi pun aku tidak memendam semua sendirian. Berkeluh kesah pada Allah semata, sejujur  jujurnya, dengan penuh penghambaan padaNya. Orang- orang disekitar hanya menjadi perantara. Hendaknya mereka adalah orang yang bersedia, mengatakan hal yang sebenarnya. Tanpa ada perasaan tidak enak telah menyakiti rasa. Karena sesungguhnya kawan yang sejati tidak pernah menutupi. Ingin kawannya hidup bahagia dan mencapai semua mimpi. 
Sejak itu telah kutemukan, kapan aku perlu bercerita, kapan aku perlu diam. Semuanya hanya soal solusi. Aku tidak bisa menghadapi semua sendiri. Butuh bantuan Allah, juga butuh pertimbangan dari orang lain. Bisa jadi pertolongan Allah datangnya diperantarakan melalui kawanku tadi. Bukankah demikian maksud penciptaan?

#30dayswritingchallenge
#30DWCJilid5
#Day16
#Squad1
Share:

No comments: