Fabulous 30 (Bagian 2)

seandainya kamu merasakan
jadi aku sebentar saja
takkan sanggup hatimu terima
-Judika, Jadi Aku Sebentar Saja-

Rasanya selarik lirik lagu Judika ini mewakili perasaan banyak perempuan. Bukan hanya perempuan yang sedang patah hati, namun juga perempuan yang masih sendiri. Menjalani hidup sebagai perempuan single di usia 30an memang tidak jauh dari stigma yang tidak menyenangkan. Meskipun kita sudah berada di era modern seperti ini dan sudah banyak pula orang yang berfikiran terbuka, namun belum menikah di usia kepala tiga tetaplah sebuah tantangan. 

Padahal tidak semua perempuan single belum menikah karena pilihannya atas gaya hidup melajang. Naluri perempuan tetap tersentuh disaat melihat orang yang sudah berpasangan dan mempunyai anak. Sisi batinnya pun menginginkan demikian. Membangun keluarga sendiri. Namun, terkadang ada banyak hal yang menyebabkan jodoh yang dinanti belum datang. Sementara orang - orang sekitar, entah itu keluarga, kawan, tetangga, bahkan mungkin tukang ojeg langganan sibuk menanyakan kapankah sang perempuan mengakhiri kesendirian.
"Jangan lama-lama, niat baik harus disegerakan"
"Aduh, kamu sudah seusia ini jangan pilih-pilih. Perempuan itu masa melahirkannya sebentar saja. Semakin tua semakin susah mencari pasangan. Belum tentu juga nanti ada yang mau."
"Kamu nanti susah melahirkannya loh. Tak baik perempuan terlalu lama menikah."
"Jangan terlalu banyak pertimbangan. Sudah untung masih ada yang mau."
Dan berbagai komentar serupa lainnya mengalir deras dari lisan semua orang. Kalau sudah begini, galau dan panik melanda. Lebih parah lagi, jika ini membuat sang perempuan menikah untuk kejar setoran. "Asal saya laku". Padahal menikah adalah mengarungi bahtera kehidupan. Ada perjalanan panjang yang dijalani bersama baik dalam suka maupun duka. Pernikahan bukan sekedar kejar setoran sebelum usia masa reproduksi habis, namun ini soal tujuan, komitmen, dan tanggung jawab. Menikah karena panik, jangan sampai dilakukan. 

Di lain sisi, ada pula perempuan yang sudah mapan. Berjaya dalam karir dan keuangan. Independent woman, alias perempuan mandiri. Umumnya merasa sudah melewati target menikah (yang biasanya berkisar antara usia 25-28 tahun) jadi merasa seperti: "ya sudahlah, gimana nanti saja. Toh kalau sudah jodoh juga tidak akan kemana." Ini adalah tipe perempuan yang sangat santai menghadapi urusan pernikahan. Bahkan mungkin hampir atau sudah kehilangan hasrat menikah karena melihat pengalaman saudara dan kawan - kawannya yang sudah menikah tampak ribet hidupnya. Lebih nyaman hidup sendiri, demikian kesimpulannya. Nah, ini pun berbahaya.

Kedua kutub ekstrim ini sebaiknya tidak dijalani Anda ya single ladies. Perempuan itu istimewa, ada generasi yang perlu ia bina kelak. Pun kalau masih belum dipertemukan dengan jodoh, tetap perlu diusahakan. Ada banyak hal yang dapat dilakukan dalam usaha mendapatkan jodoh, sekaligus meningkatkan kualitas diri. Bagi umat muslim, pernikahan adalah ibadah yang dianjurkan. Tidak ada istilah melajang. 

Seorang kawan saya mengatakan, masa lajang di usia 30an dapat dipandang sebagai bentuk anugerah sekaligus ujian. Anugerah karena masih diberikan kesempatan untuk belajar dan meraih hal - hal yang kelak mungkin dibutuhkan untuk berumah tangga. Ujian karena tidak mudah melawan kodrat manusia yang memang diciptakan berpasangan. Tidak mudah pula menjawab pertanyaan orang - orang yang memulai basa - basi dengan pertanyaan: "kapan kamu menikah?"

So single ladies, alih-alih fokus dengan kepanikan yang memang menyerang kita, akan lebih baik ketika kita fokus memanfaatkan masa-masa ini dengan hal-hal yang memang masih ingin kita raih. Bagaimana melakukannya, dan menjadi fabulous single woman di usia ini? 

Kita bahas di Fabulous 30 berikutnya ya!

love u, Tiech.

#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid5
#Day20
#Squad1
#Fabulous30




Share:

No comments: