Monolog Kehidupan

Pernahkah merasa, bahwa kehidupan pada dasarnya adalah kesendirian? Bagiku seperti sendiri, di tengah keramaian. Ada banyak orang lalu lalang di sekitarmu. Beberapa singgah dan menemanimu, untuk kemudian pergi lagi. Pada akhirnya pun aku akan pergi sendiri, masuk dalam liang lahat sendiri, dan mempertanggungjawabkan semua yang kumiliki di dunia ini sendirian.

Tapi sendiri tak bermakna tak perduli. Sadar bahwa pada akhirnya semua orang dalam hidup ini akan pergi, tapi juga pahami bahwa aku bisa berkontribusi bagi hidupnya. Aku bertanggung jawab pada diriku sendiri, tapi aku pun berkontribusi pada kehidupan orang lain. Dengan peduliku, juga dengan acuhku. Jadi, mengapa memilih mengabaikan orang, bila aku bisa memilih untuk peduli dan membuat perubahan? Hari ini aku belajar ketulusan. Tulus mendengar, tulus memberi jawaban, menghargai siapa pun yang menghampiri, tanpa ada pengharapan akan diberi.

Tiap detik kehidupan yang kupunya saat ini, pun mungkin tengah didambakan orang-orang di alam penantian hari akhir. Di dalam kubur yang sempit, dingin, dan gelap. Beberapa orang yang menyesal, tidak memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Lalu, apakah aku masih punya alasan, berdiam di tengah kerumunan, tidak melakukan apapun untuk kehidupan? Berhura-hura, malas bergerak dan tak hendak melangkah dari kenyamanan. Sementara waktuku kian tipis, perjalanan di dunia, mendekati titik akhir. Titik dimana semua upaya tak akan berarti lagi. Apa yang sudah kupersiapkan untuk bekal kehidupan yang sejati kelak? 


#30DWCJilid5
#Day30
#Squad1
Share:

Pagi Kita

Selamat pagi duhai jiwa
Yang semangatnya membara
Seperti nyala mentari pagi
Yang membungkus kota
Menerangkan jiwa

Aku berdiri di tengah jendela
Memandang langit terbentang
Membawahi gedung-gedung menjulang
Membiarkan alam pikiran terbang
Menikmati cahaya jingga yang berpendar
Sebelum kukembalikan jiwa yang sadar

Kesadaran bahwa pagi ini berbeda
Tak ada tawa, cerita, dan huru hara
Tak ada kamu, dia, dan mereka
Tiba-tiba ruang hampa menyela
Di antara tekad yang menyala

Sejatinya aku dalam kesendirian
Memeluk diri dan luka-luka hati
Yang tak kuingat
bahkan tak sempat kukeluhkan
Bila bersama kalian

Kukira kebersamaaan adalah candu
Kini ruang hampaku diisi rindu
Seperti matahari yang kian meninggi
Membiarkan sinarnya memenuhi penjuru kota ini
Membuat bayang-bayang menari

Ah, aku menghempas diri di kursi
Mengambil ponsel di sisi kiri
Membaca celotehan kalian
Membuatku tergelak, kadang tersenyum tipis
Lihatlah, betapa menakjubkan
Cara hati membuat diri begini. 
Membuat pagi ini, menjadi pagi kita. 

Share:

Mata dan Hati

Aku adalah perempuan yang kuat dan peduli. Ini adalah sesuatu yang aku mau, dan aku deklarasikan dulu. Tapi mewujudkannya tidaklah semudah menuliskannya dan tidak sesederhana kata-katanya. Berulangkali aku diuji dengan kedua kata itu.
Beberapa hari ke belakang,  aku mengasah kepekaan. Jalanku menuju kepedulian. Karena sesungguhnya lebih mudah bagiku mengabaikan, dibanding peduli dan terlibat dalam hidup yang bukan aku. Tapi rupanya, kepedulian bukan sekedar aku menunjukkan bahasa tubuh dan mimik wajah yang menunjukkan kesan itu. Tapi kepedulian adalah hadir sepenuhnya, 100% untuk orang lain, terhubung secara emosi dengannya.
Dan keterhubungan itu salah satunya memandang tepat di tengah matanya. Pada bola matanya yang bergerak-gerak, bahkan kadang menghindar dari mataku. Ajaibnya aku merasa, menatap titik tengah diantara putih mata, seakan - akan menengok jendela. Aku bisa melihat seluas-luasnya hamparan hatinya. Merasakan dan menyelami perasaannya. Untuk kemudian menyadari bahwa ada nurani disana.
Bila mereka tak bersedia, saat aku menatap mata mereka, tepat ditengahnya, aku seperti mengetuk-ngetuk pintu hatinya. Dan berkata: hey, it's me. Open your heart! Tak butuh waktu lama, karena kemudian hati itu terbuka.
Aku hadir disana. Siap mendengar dan menyimaknya. Tak ada kepura-puraan. Semua hadir dari hati. Pun ketika aku mempertanyakan. Tak ada yang dipikirkan dan pertimbangan lama, hanya ada ingin memaknai dengan baik semua orang disana. Aku semakin peka dan sadar, kapan seseorang sudah mulai membuka hatinya. Aku mulai bisa membaca semua gerak tubuhnya. Getaran mata terutama.
Benarlah kata pepatah, bahwa mata adalah jendela hati.
#30DWCJilid5
#Day27
#squad1
Share:

Inikah Rasanya?

Seperti pagi yang kunanti
Hari ini akhirnya datang kembali
Seperti awal dimulainya petualangan hidupku
Saat menemukan diri
Kembali menemukan impian kehidupan

Aku tidak mengerti
Bagaimana mendeskripsikan hati
Ketika itu kini terjadi lagi

Meski kini aku berdiri di sisi yang berbeda
Tapi rasanya masih sama
Aku bahagia

Membersamai kalian dalam langkah
Berbagi peran, bahagia, dan lelah
Belajar berbagi dengan lebih banyak jiwa
Ah, sungguh ajaib perihal hati dan rasa

Mereka yang kembali menemukan jalan memahami diri sendiri
Mereka yang memberi penghargaan pada diri sendiri
Tapi aku yang begitu penuh dengan rasa suka cita dan bangga
Padahal aku hanya berjalan di sisi
Tak melakukan apa-apa lagi

Lalu pelukan hangat melingkariku
Erat, sangat erat
Terbisikkan ucapan terima kasih
Teriring isak tangis
Ah, bukankah aku hanya mengiringi?

Kini pagi datang kembali
Mengisahkan lagi cerita hari kemarin
Membuatku melihat
Satu per satu anugerah
Yang Tuhan kirimkan untukku
Dan aku tersadar
Makin banyak jiwa yang terhubung dengan kebahagiaan
Hanya karena aku mau tulus memberi
Tanpa ada pengharapan

#day26
#30DWCJilid5



Share:

My Precious

Biar kuceritakan pada kalian
Orang-orang yang kumimpikan
Orang-orang diistimewakan
Bahkan sejak kuputuskan
Menjadi bagian yang menghadirkan
Tempat belajar tentang kehidupan
Bahwa diri adalah berharga

Biar kuceritakan bagaimana aku melewati badai dalam jiwa
Ketika aku berusaha hadirkan sinar-sinar mata yang bercahaya

Biar kuceritakan pada kalian
Hatiku secerah pagi
Sejernih langit biru
Sehangat matahari pagi
Kala kalian sampai disini
Menembus angin dan hujan yang membungkus kota

Bagaimana aku bisa menahan senyumku
Bagaimana menahan limpahan rasa
Yang menggelitik hatiku
Membuatku ingin menari
Saat kalian berkumpul di tempat ini
Siap memulai
Perjalanan menemukan diri

Biar kuceritakan pada kalian
Malam itu kalian menyapaku
Dengan wajah-wajah kuyu
Mata yang redup dan sayu
Tapi aku tetap berterima kasih
Karena aku yang kalian pilih
Menjadi teman selama perjalanan
Dalam empat hari yang penuh kejutan

Biar kuceritakan pada kalian
Selayaknya ibu yang bahagia melihat anak-anaknya tumbuh
Aku begitu bangga
Melihat kalian mengatakan
'hidup saya berharga'

Lihatlah pagi ini
Sinar mata kalian mengalahkan mentari
Wajah-wajah dihiasi senyuman
Pundak yang ringan dan lepas dari segala beban
Seakan kalian sudah mempersiapkan bekal
Untuk melesat sejauh-jauhnya
Mencapai semua impian kehidupan.

#30dwcjilid5
#day25

Share:

Anugerah

Pernah memikirkan mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan dua telinga, dua mata, dan satu mulut?

Seringkali dalam hidup saya menemukan banyak orang yang ingin berbagi tentang diri dan hidupnya. Tapi seringkali pula, saya merasa lelah untuk sekedar mendengarkan. Karena ceritanya pun hanya itu - itu saja. Saya menutup diri, membatasi hidup sendiri dan akhirnya pun malas berbagi cerita dengan orang lain. Ujung-ujungnya malah menyimpan sampah emosi dalam diri.
Suatu kali ketika saya sadar, bahwa cara seperti itu sungguh tidak efektif untuk mencapai tujuan hidup saya. Karena sebenarnya, tidak semua hal bisa saya atasi sendiri. Saya butuh bantuan orang lain.

Dan saya mulai menyadari, bahwa ada banyak orang yang mau mendukung saya. Asal saya bicara, berkomunikasi dengan terbuka pada mereka. Tentang yang saya rasakan, tentang kesulitan yang sedang saya hadapi.

Dan ternyata, kesadaran ini membutuhkan saya yang terhubung dengam orang lain. Bukan sekedar kenal lama atau tahu saja dengan orang itu. Bagaimana mungkin terhubung secara emosi, bila saya tidak sepenuh hati, merasakan apa yang orang lain rasakan tentang hal buruk itu?

Bagaimana memasuki hati mereka bila saya tidak pernah sepenuh hati menatap matanya? Menunjukkan bahwa saya siap mendengarkan apapun yang ingin ia bagi atau kisahkan. Menunjukkan bahwa saya siap mendukung apapun yang ia pilih untuk kemajuan hidupnya.

Karena hati sudah terkondisi, maka akan sangat mudah menjadi pendengar yang peka. Peka pada kondisi hati orang lain. Peka dengan apa yang mereka rasakan. Dan akhirnya, tidak ada sama sekali lelah yang dirasakan. Karena semua hadir dari hati. Disitulah awal lahirnya empati.

Jika kita mau melihat lebih jauh, ada hikmah tersembunyi dalam setiap penciptaan Tuhan. Kita diberikan dua mata, untuk melihat sebanyak-banyaknya nikmat yang Allah berikan. Menggunakannya untuk belajar dan memahami orang lain. Tuhan memberikan dua  telinga, mungkin agar lebih banyak mendengar, bukan sekedar ingin bicara atau didengar.

#30dwcjilid5
#Day24

Share:

Bukan Tentang Menanti (Fabulous 30 Bagian 3)

Sejujurnya, berada dalam fase kehidupan sebagai perempuan di usia 30 dan masih lajang bukanlah sesuatu yang menjadi kegelisahan utama dalam hidup saya. Karena sejujurnya, saya pernah melupakan usia sendiri. Kalau bukan karena seseorang yang menanyakan umur saya suatu waktu dulu, mungkin saya baru benar-benar menyadari, tahun ini usia saya masuk kepala tiga. 

Tapi, tidak benar juga rasanya kalau di usia ini saya tidak panik. Belum memutuskan pekerjaan tetap, belum punya pasangan, belum punya aset, belum merencanakan kehidupan ke depan, dan seterusnya. Pernikahan, mungkin penyumbang kepanikan terbesar. Walaupun kadang-kadang, saya malas memikirkannya. Tapi kepanikan itu menyerang lagi ketika saya melihat orang lain yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Naluri saya terpanggil. Kadang - kadang bisa jadi sumber kesedihan dan kegalauan. 

Tapi sejak tahun lalu, saya merasakan ada sesuatu yang berubah dari diri saya. Bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang bagaimana saya menghadapi kehidupan. Dari situ saya sadar, bahwa hidup di usia 30 sebagai wanita single tidak melulu soal kegalauan. Ada banyak hal yang bisa disyukuri. Ada banyak peluang yang dapat diambil. 

Bagi saya, ada 10 (sepuluh) hal baru yang saya rasakan ketika masuk usia 30an. Apa saja itu? 

1. Kesadaran merawat diri
Kalau sebelumnya saya cenderung cuek soal penampilan dan kesehatan, kini saya sangat memperhatikan asupan makanan, olahraga, dan perawatan kulit. Saya sadar, apapun investasi diri yang saya lakukan saat ini, akan memberikan manfaat di kemudian hari. Memasuki usia 30 ini  saya mulai sering mamatut diri di cermin, memeriksa,kulit wajah yang manakah yang membutuhkan perhatian ekstra.  Mulai rajin berolahrga, selain untuk membentuk tubuh, juga sadar bahwa kemampuan metabolisme yang menurun. 

2. Memanfaatkan kesempatan apapun yang dimiliki
Karena saya menyadari waktu sendiri semakin sempit, juga jatah hidup yang semakin berkurang, saya semakin cepat mengambil keputusan dan kesempatan untuk meningkatkan diri. Prinsipnya, saya ingin menjadi versi terbaik diri saya, dan hitung-hitung menjadi calon istri dan ibu yang berkualitas pula. Mulai ikut kelas ini dan itu, mengikuti pelatihan pengembangan diri, bergabung di komunitas, melakukan kegiatan-kegiatan sosial, dan banyak hal lainnya. dan ternyata itu semua membuat hidup saya semakin seru dan menyenangkan. Semakin sempit waktu yang dipunyai untuk sekedar tenggelam dalam kegalauan. 

 Poin 3 - 10 dilanjut di tulisan berikutnya ya. 
Stay Tune!
....bersambung

#30Dayswritingchallenge
#30dwcjilid5
#day23
#squad1
Share:

Puisi

aku mengingat mu lagi
dengan puisi-puisi
yang dulu kutulis untukmu

entah masih kau ingat
curahan hati dalam surat-surat
hari ini aku ingin menelisik setiap kalimat
setiap kata yang pernah ku tulis untukmu.

limpahan rasa yang mungkin tak kau lihat
atau aku yang buta tak dapat melihat hatimu.
menulis puisi untukmu dulu menyenangkan
Tak pernah ada habisnya kata.
untukmu...dalam puisiku.

sungguh, malam ini aku hanya ingin bersyair
menuliskan kata - kata yang hanya muncul saat aku jatuh cinta
dan aku sudah lama tak jatuh cinta.
bisakah kau ceritakan rasanya?
ya, cinta...sungguh aku lupa.

Hujan mendatangi kita malam ini
Menghadirkan beragam emosi
Bagiku bahagia
Bagimu luka

Bagi mereka, tak lebih dari penunda, untuk segera kembali pulang

Hujan ini selalu menjadi cerita
Entah itu karena masa lalu yang membisikkan kisah sendu
Atau sebab musabab hadirnya rindu

Semakin deras
Suara hujan kini beradu
Dengan rutukan dari jiwa - jiwa yang mendamba hangat

#30dayswritingchallenge
#30dwcjilid5
#day22
#squad1

Share:

Pilihan

Setiap orang punya cerita. Tapi tidak semua cerita dikisahkan dalam lisan maupun tulisan. Seringkali itu cerita yang menyakitkan. Bisa jadi penderitaan yang disimpan dalam senyuman.

Kadangkala, di dunia ini kita senang memberi makan emosi jiwa. Merasa menjadi hamba paling menderita. Padahal, begitu tahu apa yang sebenarnya dihadapi, ada pilihan untuk bahagia. 

Ada harga yang harus dibayar, untuk setiap pilihan tentunya. Rasa sakit mungkin tak dapat dihindari, tapi menderita karenanya adalah pilihan sendiri. Bila mengambil sudut pandang sebagai orang bertanggungjawab, sakit itu menjadi pelajaran. Bahwa ada sesuatu yang barangkali tidak efektif dilakukan. Sehingga nanti bila bertemu masalah serupa di masa depan, sudah tahu pilihan seperti apa yang akan dilakukan. 

Menderita menjadi pilihan. Perlu dibayar dengan waktu yang terbuang. Untuk merasakan kesakitan, menangis, menyesal, mengutuk diri sendiri, dan mungkin merasa menjadi korban. Energi habis hanya untuk menikmati penderitaan. Padahal energi yang sama, bisa dihabiskan untuk bergerak menuju kebahagiaan. 

Jadi, pilihan apa yang kau ambil hari ini, Kawan? Diam dalam penderitaan, atau bergerak dalam kebahagiaan.

Tiech

#30DWCJilid5

#day28

Share:

Catatan di Tengah Kepayahan

Dalam kehidupan, sungguh kita dihadapkan pada beragam amanah yang mesti ditunaikan. Baik dalam pekerjaan, dalam keluarga, maupun dalam hubungan dengan orang lain. Kehidupan yang dipenuhi beragam aktivitas dan kesibukan. Ada waktu untuk sendiri, ada waktu untuk orang lain. Tak jarang kita menghadapi berbagai kesulitan. Entah itu datangnya dari situasi yang membuat dilematis, tekanan, bahkan mungkin perselisihan dan konflik ketika berurusan dengan orang lain. 

Semua hal terasa menyulitkan. Langkah kaki terasa semakin berat. Memandang ke depan dan begitu banyak tanggung jawab yang ingin diselesaikan. Sedangkan waktu tak pernah menunggu. Setiap detik dan menit pergi tidak pernah basa-basi untuk menanyakan apakah kita sudah siap menghadapi tantangan kehidupan. 

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam jalan hidup kita, bisa jadi menyengsarakan bila tidak paham cara menghadapinya. Ibarat serangan yang bertubi-tubi dari segala arah, kesulitan bahkan dapat memukul dan menghabisi seluruh energi kita untuk mencapai tujuan. 

Seorang teman saya pernah berkata, "kalau capek dan susah, itu tandanya lu hidup." Perkataannya, menandakan bahwa sudah tabiat kehidupan diisi dengan susah dan senang. Bagi saya, kesulitan adalah bentuk kasih sayang. Seberat apapun rasanya kesulitan hidup, tak pernah ia lebih berat dan lebih besar dari anugerah dan kasih sayang Allah SWT. 

Berulang-ulang disebutkan dalam Al Qur;an, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh DIA sudah memberikan petunjuk bagi manusia. Kalau dihitung - hitung lagi semua yang manusia didapatkan di bumi, rahmat dan kasih sayangNya tidak sebanding sama sekali dengan persoalan yang kita hadapi. Sebesar apapun itu. Bahwa selalu ada solusi untuk semua masalah yang kita hadapi. Karena Allah sudah menyertakan kemudahan dengan masalah itu. Tergantung diri ini untuk dapat melihatnya, memaknainya, dan mensyukuri diri. 

Seberapa beratnya langkah dan hati menanggung beban kehidupan. Bacalah lagi firmanNya. Bacalah berulang - ulang. Bahwa berserta kesulitan ada kemudahan. Beserta kesulitan ada kemudahan. Dan rasakan, bahwa mengatakan ini penuh keyakinan pun, hati akan terasa lapang. Karena yakin akan janji Allah, Rabb penguasa alam.


 
#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid5
#Day21
#Squad1
Share: