9.5.17

Mata dan Hati

Aku adalah perempuan yang kuat dan peduli. Ini adalah sesuatu yang aku mau, dan aku deklarasikan dulu. Tapi mewujudkannya tidaklah semudah menuliskannya dan tidak sesederhana kata-katanya. Berulangkali aku diuji dengan kedua kata itu.
Beberapa hari ke belakang,  aku mengasah kepekaan. Jalanku menuju kepedulian. Karena sesungguhnya lebih mudah bagiku mengabaikan, dibanding peduli dan terlibat dalam hidup yang bukan aku. Tapi rupanya, kepedulian bukan sekedar aku menunjukkan bahasa tubuh dan mimik wajah yang menunjukkan kesan itu. Tapi kepedulian adalah hadir sepenuhnya, 100% untuk orang lain, terhubung secara emosi dengannya.
Dan keterhubungan itu salah satunya memandang tepat di tengah matanya. Pada bola matanya yang bergerak-gerak, bahkan kadang menghindar dari mataku. Ajaibnya aku merasa, menatap titik tengah diantara putih mata, seakan - akan menengok jendela. Aku bisa melihat seluas-luasnya hamparan hatinya. Merasakan dan menyelami perasaannya. Untuk kemudian menyadari bahwa ada nurani disana.
Bila mereka tak bersedia, saat aku menatap mata mereka, tepat ditengahnya, aku seperti mengetuk-ngetuk pintu hatinya. Dan berkata: hey, it's me. Open your heart! Tak butuh waktu lama, karena kemudian hati itu terbuka.
Aku hadir disana. Siap mendengar dan menyimaknya. Tak ada kepura-puraan. Semua hadir dari hati. Pun ketika aku mempertanyakan. Tak ada yang dipikirkan dan pertimbangan lama, hanya ada ingin memaknai dengan baik semua orang disana. Aku semakin peka dan sadar, kapan seseorang sudah mulai membuka hatinya. Aku mulai bisa membaca semua gerak tubuhnya. Getaran mata terutama.
Benarlah kata pepatah, bahwa mata adalah jendela hati.
#30DWCJilid5
#Day27
#squad1

0 comments: