26.7.17

Sejak kembali ke rumah orang tua, saya nyaris tak pernah melewatkan hari-hari tanpa anak-anak. Apalagi baru saja liburan sekolah berlalu. Semua keponakan saya, memilih berlibur di rumah nenek mereka. Setelah sekian tahun terbiasa hidup sendiri saja, kini ada banyak yang perlu saya urus. Walaupun ini bukan kali pertama, namun tetap saja butuh waktu untuk menyesuaikan diri lagi. Terlebih, kini anak-anak yang saya asuh rentang usianya beragam, mulai usia 2 tahun sampai 7 tahun.

Namun bersama mereka, selalu ada banyak hal yang bisa jadi pembelajaran. Seharian ini, begitu banyak kejadian bersama anak-anak. Kejadian yang membuat saya sadar bahwa setidaknya ada lima hal yang saya pelajari dari mereka.

1. Sabar
Karena selalu berada di rumah, saya selalu ingin melihat rumah rapi dan semua teratur pada tempatnya. Namun, dengan empat anak yang aktif rasanya itu sebuah tantangan. Baru selesai mengepel, anak-anak datang, lalu bermain pasir dalam rumah atau makan dan menjatuhkan remah-remah makanan di lantai. Belum lagi sampah yang berserakan atau mereka yang bertengkar dan berebut mainan. Rasanya saya ingin marah saja. Namun saya sadar, bahwa kemarahan ini tidak baik bagi mereka. Saya perlu pelan-pelan mengajari mereka, banyak hal. Kini saya sedang belajar, untuk berbicara dan mengkomunikasikan hal-hal yang tdak saya sukai, setenang mungkin. Sabar, itulah pelajaran dan latihan saya setiap hari. 

2. Semangat
Beberapa hari yang lalu saya mengantar salah satu keponakan ke tempat latihan bulutangkis. Hari itu adalah hari pertamanya. Saya sempat memperhatikan ia berlatih, selama hampir satu jam. Timbul rasa kasihan melihat latihan fisiknya cukup berat. Belum lagi seisi ruangan memperhatikannya. Saya entah mengapa merasa dia dihakimi, karena lambat. Saya bisa melihat bahwa ia begitu kesulitan mengikuti instruksi pelatih. Demikian pula pelatih, perlu berkali-kali dan saya bisa lihat ia mencoba bersabar melatih keponakan saya itu. Selepas berlatih selama hampir 3 jam, saya bertanya kepada pelatihnya, "Gimana Bang, hari pertamanya?" Sang pelatih tersenyum, "Wah, memang ini melatihnya benar-benar dari nol. Jadi perlu sabar, hehe. Untungnya dia sangat bersemangat dan berkemauan tinggi. Sepertinya dia udah lelah sekali. Sampai rumah jangan lupa makan dan kalau perlu makan suplemen ya." Saya tersenyum sambil menjawab iya. Saya kira setibanya di rumah keponakan saya akan tampak letih atau minder. Namun justru ia sangat bersemangat. Malah mengulang-ngulang pelajarannya di tempat latihan. Dan menunjukkan apa saja yang sudah ia pelajari hari itu, kepada kedua orang tua saya. Saya tahu sekali dia lelah, karena malam harinya ia langsung tertidur pulas. Namun semangat dan kecintaannya pada bulutangkis, membuatnya ingin terus berlatih. Bahkan tidak sabar menunggu hari latihan tiba. Saya tiba-tiba teringat pada diri sendiri. Sudahkah saya bersemangat 100% dan tidak memperdulikan bagaimana orang lain memandang saya? Seperti semangat keponakan saya ini.

3. Mengelola Waktu dengan Jadwal yang Fleksibel
Biasanya saya mengikuti jadwal harian lengkap dengan jamnya, sehingga segala pekerjaan sudah pasti dan terorganisir. Saya paling tidak suka disela oleh aktivitas yang tiba-tiba. Semua sudah dialokasikan waktunya. Namun mengasuh batita, tidak bisa begitu saja mengikuti schedule yang ketat per jam. Ada saja hal tak terduga bisa terjadi. Tiba-tiba anak minta gendong, tiba-tiba terluka, atau waktunya tidur namun rewel. Sementara setiap hari saya punya target, untuk menyelesaikan pekerjaan A, atau menghubungi B pada jam sekian. Jadwal yang bisa fleksibel ini sebenarnya mengganggu sekali. Namun kini saya belajar, agar dapat solusi win-win. Pekerjaan selesai, anak pun aman.
 4. Bilang Terima Kasih
Ada satu keponakan saya, yang selalu senang bila usahanya diapresiasi. Saya menyadari ini ketika suatu kali saya melihat ia membereskan mainannya. Karena itu sangat jarang terjadi, saya merasa sangat terbantu. Jadi saya spontan dengan riang mengucapkan,"Terima kasih ya, Kakak. Sudah membereskan mainannya. Ateh merasa sangat terbantu." Tanpa saya duga, dia lalu membantu saya menyelesaikan tugas rumah lainnya. Membersihkan kaca, menyapu halaman, mengepel rumah, dan mencuci piring. Sejak saat itu, saya tidak pernah lupa mengapresiasi apapun yang ia lakukan. Dan saya sadar, saya jarang memberi apresiasi pada keponakan yang lain. Sehingga kini saya selalu berusaha tidak melupakan mengucap kata terima kasih kepada mereka. Terima kasih yang tulus.

5. Syukur 
Setiap kali mengasuh keponakan seperti ini, saya selalu merasa bahwa ada banyak PR saya dan orang tua mereka. Untuk mengajarkan banyak hal. Untuk mempersiapkan mental dan fisik mereka menghadapi kehidupannya sendiri. Dan ternyata itu sangat tidak mudah. Menumbuhkan sopan santun, sifat empati, dan menanamkan kebiasaan baik bagi anak tidaklah mudah. Seringkali saya dan orang tua mereka kalah dengan rengekan dan tangisan. Padahal selalu mengikuti kemauan anak, juga tidak terlalu bagus. Memanjakan mereka sama saja dengan membuat mereka kelak kewalahan hidup sendiri. Dan setiap kali saya merasa elah mengajari keponakan-keponakan saya akan nilai-nilai hidup, saya teringat Mama. Dulu saya selalu merasa Mama kurang ini dan kurang itu waktu mendidik saya. Namun kini, saya bersyukur, dilahirkan dan dididik oleh beliau. Walau tidak sempurna, namun pola parenting kedua orang tua, berperan membentuk saya yang seperti sekarang. Saya sering merasa, belum tentu saya bisa sebaik mereka. 

Sebetulnya banyak hal lain yang menjadi pelajaran. Lima diatas adalah apa yang saya refleksikan hari ini. Hal-hal yang menegaskan bahwa kita bisa belajar dari siapapun. Bahkan dari anak usia dua tahun. Kalau Anda, sudah belajar apa hari ini?

#myFabulous30
#Day21
#30DWCJilid7
#Squad8
Waktu Bermain

 

miscellaneous . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates