14.7.17

Apa yang Saya Pelajari Saat Kembali ke Rumah


Setelah 13 tahun merantau, saya memutuskan kembali ke kampung halaman. Hari ini, terhitung dua bulan saya berada di rumah orang tua. Belum bekerja kantoran seperti biasanya. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, mengasuh keponakan, membantu memasak, berbenah rumah, dan menulis.

Berada kembali di rumah yang sudah saya tinggali sejak lahir, membuat saya semakin sering mengalami kilas balik. Seakan kembali pada masa saya masih bersekolah. Apalagi di rumah ini, masih banyak barang-barang dan furnitur rumah yang sudah ada sejak masa kanak-kanak saya. Kursi, meja, sofa, lemari pakaian, pakaian, komputer, radio, bahkan tape recorder. Bentuk rumah pun tidak banyak berubah. Yang berbeda penghuni rumah bertambah, dan kedua orang tua saya yang semakin sepuh. Berkurang pendengaran, penglihatan, dan tentu staminanya.

Melihat banyak sudut dalam rumah juga kondisi sekitar rumah yang sudah tak serapi dulu, membuat saya sedih. Belum lagi barang-barang yang sebenarnya sudah tak berfungsi lagi, pakaian masa kecil saya, pakaian kedua orang tua saya semasa masih bekerja, menumpuk dimana-mana. Sementara barang-barang baru tetap dibeli. Kondisi rumah ini terlihat semakin tidak terurus.

Padahal dulu, Mama adalah orang paling cerewet soal kebersihan rumah. Sebulir nasi jatuh dan terinjak di lantai kayu rumah kami, Mama bisa mengomel sepanjang hari. Bahkan bisa diungkit-ungkit besok, lusa, bahkan bertahun kemudian. Kamar mandi disikat setiap hari, gayung selalu bersih, kompor, meja makan, dan seisi dapur pun sama. Kini, beliau bahkan tidak bisa berbuat banyak bila ada banyak bulir-bulir nasi bertaburan di lantai, yang terinjak, mengering, dan membuat lantai tampak kotor dan tidak nyaman dijalani.

Semakin lama berada di rumah, entah mengapa semakin sering pula kilas balik masa kecil itu terjadi. Hari ini saya banyak teringat akan Uan (Nenek). Uan sesekali datang berkunjung ke rumah kami. Menginap untuk jangka waktu yang lama, biasanya sampai sebulan. Bila sedang di rumah, nenek saya selalu sibuk membersihkan rumah kami. Mulai dari ruang depan sampai dapur, mulai dari teras sampai halaman belakang. Semua lemari dan sudut rumah ini tidak ada yang terlewatkan olehnya. Ia akan mulai berbenah pagi sekali, berbekal sapu lidi di tangan.

Uan selalu menyapu seluruh ruangan dengan tuntas, sampai ke bawah meja, lemari, bahkan sudut-sudut yang menurut saya kala itu, sulit dijangkau. Tempat-tempat yang memang berdebu tebal. Karena dulu saya jika menyapu lantai hanya menyapu bagian yang terlihat saja. Sambil sibuk mengumpulkan debu-debu dan sampah, Uan bisa sambil mengomeli saya. “Tuh, masih banyak sampah dan debu begini. Kalau menyapu lantai harus sampai sudut dan bawah seperti ini. Supaya tidak ada binatang, lipas, atau malah tikus bersarang!”. Jika sedang di halaman rumah dan saya ada didekatnya, omelan lain akan mendarat di telinga saya. “Muslim itu rumahnya harus bersih, halamannya juga bersih. Jangan suka sembarangan buang sampah. Ini juga biji-biji durian, nangka, cempedak, kelapa, jangan sembarang buang. Lihat, mereka tumbuhnya pun sembarangan!” Tangannya cekatan mencabut tunas-tunas yang terlalu banyak tumbuh di sekitar rumah.

“Ma, jadi ingat Uan ya. Kalau masih ada, pasti rumah ini bersih. Ga ada lipas atau tikus yang mau lalu lalang di dapur ini. Kalau melihat kondisi begini, pasti juga sudah sibuk mengomel.” Kalimatku pada Mama ketika akan membenahi dapur yang akhir-akhir ini kerap didatangi tikus. Aku teringat pula dulu, Mama pun tak jauh berbeda dengan Uan. Hampir setiap hari saya diomeli, karena dianggap malas dan lamban. Padahal, menurut saya (waktu itu) Mama punya standar terlalu tinggi. Masa iya, kamar mandi dan toilet harus dibersihkan setiap hari. Pekerjaan lain juga tetap saya kerjakan, saat sudah mood biasanya. Tapi kini, di rumah ini saya membersihkan kamar mandi setiap hari, mengomeli keponakan yang bikin rumah berantakan atau lama membantu saya beres-beres rumah. Saya merasa mulai bertingkah seperti Mama dulu. Saya pula yang sibuk membersihkan rumah dengan cara yang diajarkan oleh Uan.

Saya tiba-tiba menyadari sesuatu. Omelan Mama dan Uan, sejatinya adalah cara keduanya mengajari saya. Yang karena berulang sampai bertahun-tahun lamanya, pelajaran itu seolah mendarah daging. Seakan suara Uan dan Mama di kala itu tersimpan dengan baik dan siap diputar ulang kapanpun diperlukan. Seperti hari ini ketika saya melihat kondisi rumah setelah bertahun-tahun. Saya gregetan ingin segera membersihkan dan merapikan. Rasanya aneh dan luar biasa, sesuatu yang dulu saya anggap sangat menyebalkan, ternyata kini saya kerjakan. Menjadi salah satu pelajaran praktis (terkait membersihkan rumah) buat saya. Saya berpikir, jangan-jangan ada banyak hal lain dalam hidup saya yang seperti ini. Bahwa saya perlu melewati dan mengalami berbagai pengalaman menyakitkan, tidak menyenangkan, bahkan menyebalkan, untuk kemudian menyadari bahwa itu adalah pelajaran berharga bagi kehidupan. 

Well, semua terjadi karena alasan kan?


#MyFabulous30
#FabulousMind
#Day9
#30DWCJilid7
#Squad8



0 comments: