Discover Myself (again)

Ketika memutuskan kembali ke rumah, tujuan saya hanya ingin berbakti. Berada sedekat mungkin dengan orang tua. Agar bisa menjaga keduanya. Alasan lainnya karena saya merasa butuh pekerjaan yang mampu memultiperankan diri. Tadinya saya ingin mempersiapkan banyak hal, termasuk pekerjaan selepas keluar bekerja. Dan saya sudah memperkirakan pada bulan apa sebaiknya kembali. Agar saya tidak merepotkan orang tua secara finansial. Akan tetapi karena kondisi Mama' kala itu sedang tidak stabil, saya mempercepat waktu pindah.

Mungkin kalau dulu, kembali tinggal di rumah saya tidak melakukan banyak hal. Hanya hal-hal standar seperti membersihkan rumah, mencuci piring, dan membantu mama memasak di dapur. Untuk mengisi waktu biasanya membantu menjaga warung milik kakak saya. Kadang tidak banyak yang saya bisa lakukan dalam sehari. Hal ini membuat saya tidak betah berlama-lama di rumah. Namun kini, semuanya sudah berbeda.

Perbedaan pertama adalah dulu keponakan saya hanya dua. Dan tinggal berjauhan pula dengan orang tua saya. Kini saya punya tujuh keponakan. Empat diantaranya tinggal di rumah orang tua saya. Mereka membuat saya senantiasa sibuk. Rumah yang biasanya rapi, kini bisa jadi seperti kapal pecah setiap hari. Rumah orang tua cukup besar, demikian pula juga halaman depannya. Jadi tidak usah ditanya rasanya, bila baru selesai mengepel lantai, 15 menit kemudian keponakan saya datang bermain pasir di ruang tengah. 

Perbedaan kedua adalah kedua orang tua saya kini sama-sama membutuhkan perhatian. Bapak mengalami masalah syaraf yang menyebabkannya memerlukan tongkat untuk berjalan. Sedangkan Ibu, sudah berkurang jauh pendengaran dan gangguan pengihatan yang amat parah karena diabetes yang dideritanya. Mama masih memasak di dapur. Namun karena masalah penglihatannya ini, saya kadang tidak bisa benar-benar meninggalkan beliau sendiri di dapur. 

Perbedaan ketiga, kini saya mempunyai banyak kesibukan di luar pekerjaan. Semua masih bisa saya kerjakan dari jauh. Saya pikir dengan jam kerja yang fleksibel, ini akan tidak terlalu memberikan tekanan. Namun ternyata saya keliru. Justru ada banyak tantangan bekerja dari rumah. Perlu benar-benar ada batasan antara jam kerja dan jam mengurus rumah dan keluarga. Seringkali tugas-tugas itu baru bisa saya kerjakan pada malam hari. Saat anak-anak sudah tidur dan saat kedua orang tua tidak memerlukan bantuan saya.

Kesibukan sehari-hari ini seperti tidak ada habisnya. Sampai suatu kali saya pernah nyeletuk pada seorang kawan di kantor dahulu,"Ternyata mau di kantor atau tidak, sama saja sibuknya". Kesibukan ini kadang memang membuat saya tertekan. Namun bila bekerja di kantor saya hanya bisa melakukan dua atau tiga hal, di rumah ini dalam sehari ada banyak hal berbeda yang saya lakukan. Sehingga meskipun kadang kewalahan, saya merasa bahagia.

Keseharian saya memang kini padat dengan aktivitas. Namun saya bisa membantu lebih banyak orang di rumah ini. Melakukan banyak hal berbeda. Dan yang paling menyenangkan, setiap hari selalu ada pembelajaran, hikmah dan renungan tentang diri. Entah itu dari aktivitas yang saya lakukan, dari anak-anak, dari kedua orang tua, bahkan dari lingkungan sekitar saya. Pembelajaran yang membuat saya semakin memahami bahwa saya punya potensi. Bahwa ada skenario indah dibalik alasan saya lahir dan berada di tengah keluarga ini. Sehingga saya tahu peran apa yang perlu dimainkan, untuk mendukung orang tua dan semua saudara saya. It's feel like discovering myself again! And I'm happy. 

Bagaimana dengan, Anda? Sudah melakukan apa hari ini? 


#myFabulous30
#Day25
#30DWCJilid7
#Squad8

Sumber : Pinterestt

Share:

No comments: