15.7.17

Telegram diblokir?

Ketika menerima kabar di salah satu grup di telegram bahwa aplikasi ini akan diblokir, saya tidak langsung percaya. Mungkin ini jenis hoax yang lain, pikir saya waktu itu. Tidak berapa lama, seorang anggota grup membagikan sebuah tautan berita dari detik.com. Saya pun mulai mencari tahu beritanya. Saya cukup lega ketika tahu bahwa yang diblokir adalah yang berbasis webnya. Sedangkan aplikasi yang melalui ponsel tidak. Tapi berita tentang pemblokiran ini masih saja hangat dibicarakan. Bahkan banyak yang membuat petisi, juga melapor langsung pada pembuat aplikasi Telegram. Memang aplikasi ini belum sepopuler Line, WhatsApp. Tapi saya melihat ada potensinya kesana. Beberapa grup dan kelas online yang saya pernah dengar, diadakan melalui Telegram. Saya mulai mempertanyakan keputusan pemerintah. Alasan apa yang melatarbelakangi pemblokiran aplikasi ini.
"Di Telegram, kami cek ada 17 ribu halaman mengandung terorisme, radikalisme, membuat bom, dan lainnya, semua ada. Jadi harus diblok, karena kita anti-radikalisme," kata menteri yang akrab disapa Chief RA itu, Jumat (14/7/2017). (Sumber: detik.com)
Mengapa Telegram? Bukankah ada website, ada aplikasi chat lain, dan banyak sumber lainnya yang mungkin mengandung terorisme, radikalisme, dan sebagainya. Apakah memblokir aplikasi ini benar-benar solusi yang efektif. Apa ini tidak seperti membunuh nyamuk dengan cara dibom?  Tidakkah masih banyak solusi lain, untuk mengatasi terorisme? Ah, mungkin ada banyak hal yang tidak saya ketahui tentang pertahanan negara. Mungkin ini keputusan terbaik yang bisa pemerintah lakukan ditengah maraknya isu terorisme. 

Tapi di sisi lain, saya pun prihatin. Tidakkah perhatian negara seakan lebih berat pada urusan terorisme ini. Bukannya tidak mendukung upaya dan kerja keras pemerintah. Namun sekedar mempertanyakan, sudahkan perhatian serupa ditujukan pada hal lain yang juga menjadi ancaman dalam diam? Yang dampaknya mungkin tak serta merta dirasakan? Namun pelan-pelan merusak generasi, lalu perlahan menghancurkan keberlangsungan negara ini? 

Keprihatinan ini muncul kembali, ketika tadi saat membuka situs Goodreads, terpampang dengan jelas sebuah iklan game 18+ dengan gambar yang tak layak, menurut saya. Memang itu sumbernya dari GoogleAds, yang mungkin tak mudah untuk dikendalikan. Tapi maukah kita mulai sadar, bahwa kini pornografi semakin mudah diakses, bahkan datang dengan sendirinya. Siapa yang membuka laman web Goodreads? Tak ada orang tua yang curiga bila anaknya membuka situs ini. Toh situs ini adalah situs tentang buku bacaan. Pun sama halnya ketika suatu kali saya membuka aplikasi religi di ponsel. Karena gratis, aplikasi ini memuat Ads. Alangkah terkejutnya saya ketika iklan yang muncul, adalah iklan berbau pornografi. Rasanya mengerikan sekali, bila dunia tanpa batas yang bisa digenggam ini, menjadi teman sehari-hari generasi muda. 

"Ah, kalau melihat itu kan dosanya pada diri sendiri. Kalau teroris kan sifatnya meluas. Berdampak pada khalayak banyak" Mungkin Anda pernah mendengar celetukan bernada seperti itu. Mungkin ini seperti candaan. Mungkin juga yang bersangkutan belum pernah secara langsung bertemu dengan korban-korban pornografi. Pada orang-orang yang mengalami adiksi dan berjuang keras melawan adiksinya. Tentang bagaimana hidup seseorang ketika mencandu pornografi. Pernahkah Anda mendengar bahwa pornografi merusak 5 (lima) bagian otak manusia yang akan mengakibatkan otak mengecil? Hal ini sangat berpengaruh dalam berpikir, juga mempengaruhi cara pandangnya terhadap masalah dan pengambilan keputusan.  Ah, saya teringat sebuah video bagus yang dibagikan seorang kawan. Bisa dilihat di sini. (klik)

Bila Anda sudah melihat video itu, saya yakin Anda sudah punya bayangan seperti apa pornografi bisa menjadi bencana. Saya menyaksikan sendiri, seseorang yang tercandu pornografi. Dari luar, ia terlihat baik-baik saja. Namun sebetulnya sama sekali tidak. Hidupnya benar-benar labil. Ia selalu bingung dengan dirinya. Jika ada puluhan, ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan orang generasi muda kita mengalami hal yang sama, apa jadinya?

Baik terorisme maupun pornografi sama-sama berbahaya menurut saya. Tidak hanya terorisme, pun rasanya saya ingin mendengar lebih banyak laman web yang bermuatan pornografi, diblokir oleh Pemerintah. Ah sekali lagi, mungkin saya yang kurang wawasan. Mungkin di balik meja-meja staf di Kementerian Kominfo saat ini ada orang-orang yang sibuk memblokir situs bermuatan pornografi. Sibuk bekerja dalam diam, supaya negara ini selamat. Baik dari ancaman dari dalam maupun dari luar.
Semoga. 

#Day10
#30DWCJilid7
#Squad8







0 comments: