26.6.12

"Ibuk"



“Kapan anak paling bontotku ini pulang?” kata Mamak sambil membelaiku yang sedang tiduran sambil membaca buku. Pertanyaan Mamak padaku sebulan lalu saat aku pulang kampung masih terngiang sampai hari ini. Dan malam ini, setelah membaca Ibuk, setiap membaca kalimat – kalimat Ibuk pada Bayek, aku seperti mendengar kalimat – kalimat dari Ibuku sendiri: ‘Mamak’. Meski tak sama persis. “Kalau ada uang menabunglah nak”. “Sudah saatnya kamu menikah nak”. Sudah saatnya kamu menata hidupmu nak”. “Sudahlah kerja disini saja, kamu perempuan sendirian disana buat Mamak selalu khawatir”. “Apapun pilihan hidupmu, Mamak selalu mendoakan yang terbaik dan mendukungmu”. Setiap kali ada kesempatan, semua kata – kata itu yang kudengar dari Mamak


Setelah setahun lalu ‘9 summers 10 autumns’, kali ini  ‘Ibuk’ dari Iwan Setyawan sekali lagi  membuat saya berjalan kembali ke masa lalu menyusuri kisah Mamak, Bapak, dan Kakak saya. Dengan airmata yang tak berhenti mengalir saya membuka notebook dan menuliskan perasaan saya. Selalu, ketika menuliskan tentang Mamak dan Bapak, mata ini tidak pernah kering. Saya yakin, saat menulis Ibuk, mas Iwan juga merasakan hal yang sama. 

Membaca Ibuk membuat saya paham, bahwa saya sedang menjalani proses kehidupan. Saat saya mengahdapi stress dan tekanan sangat berat di kantor saya sangat ingin resign dari situ, tapi saya bertahan mengingat misi saya belum selesai. Saya bertahan dan mengatakan ini pada diri saya: saya tidak akan kalah, saya tidak akan keluar hanya karena saya tidak sanggup. Saya hanya akan pergi saat saya merasa saya perlu belajar hal baru.  Saya sangat terkejut dan berulang kali menganggukkan kepala sambil mengatakan yes, that’s right saat saya membaca halaman 186 ‘Ibuk’. Juga ketika membaca tulisan cetak miring di halaman 204 ‘Ibuk’. Saya semakin mencintai Mamak, Bapak dan semua keluarga saya sejak saya mulai merantau. Saya juga selalu menghargai setiap detik waktu yang saya habiskan bersama mereka. Karena saya sadar, banyak momen penting bersama mereka yang telah saya lewatkan. 
Halaman 186

Halaman 204


Saya bungsu, manja, penakut juga tidak pernah jauh dari orang tua. Tapi kini saya merantau, jauh dari mereka. Saya menikmati kehidupan dan tantangan yang ada disini, di Bandung. Sama seperti Bayek, saya selalu merindukan kota kecil tempat kelahiran saya, Sambas, sebuah kota di utara Provinsi Kalimantan Barat yang sudah saya tinggalkan selama 8 tahun. Tapi saya merasa belum saatnya pulang, saya masih punya misi yang belum terselesaikan. 

Perjalanan hidup saya memang belum sepanjang Bayek. Tapi ceritanya dalam Ibuk, menguatkan langkah saya kembali untuk menyelesaikan misi saya. Saya tidak akan menyiakan doa, airmata dan kasih sayang Mamak dan Bapak yang telah membesarkan saya. Cerita hidup saya memang tidak sama dengan Bayek, tapi apa yang Bayek alami dan yang ia rasakan dulu, saya rasakan saat ini. Saya ingin pulang suatu hari nanti, menyelesaikan misi disini dan memulai misi yang baru di Sambas, juga....menulis. 

Ibuk memang Ibuk Bayek dan keempat saudara perempuannya, tapi buat saya beliau juga Ibuk saya, Ibuk semua orang yang membaca ini. Beliau telah mewariskan nilai – nilai hidup yang menginspirasi dan menguatkan banyak orang. Beliau telah memberikan cinta kasih dan sayang yang hangat, yang tidak hanya dirasakan anak- anak dan cucu-cucunya, namun juga kami yang membacanya dari tulisan Mas Iwan.

Saya cinta Ibuk juga Mamak saya.
"A mother knows what her child's gone through, even if she didn't see it herself " (Pramoedya Ananta Toer)
Thanks Mas Iwan Setyawan atas dua bukunya. Buku ini buat saya adalah buku kehidupan yang ditulis dengan hati. Saya akan selalu menunggu karya lainnya. 



Tulisan ini sejatinya bukan review atau resensi buku. Tapi lebih pada cerita melankolis tentang perasaan saya setelah membacanya. Dan maaf, sepertinya tulisan ini tidak terstruktur dengan baik. Saya sedang belajar menulis. Tapi kali ini perasaan saya mengalahkan ketakutan kesalahan dalam menulis juga mengalahkan kesanggupan untuk mengecek struktur kalimat hehe :). Harap maklum. 

Salam hangat, tiech.

0 comments: