16.4.17

Tentang Feedback

“Ah, aku deg-degan baca feedback dari setiap orang di grup ini. Aku merasa tulisanku masih sangat kacau,” keluhku pada seorang kawan.

 “Kenapa?” Ia tersenyum, layaknya seorang Bapak yang sedang mendengar anaknya bercerita. Aku membetulkan posisi dudukku. 

“Ya, aku merasa tidak siap dihujani dengan feedback yang mungkin saja akan membuatku sedih,” aku menunduk, lalu menghela nafas. 

“Ah, kamu kayak bukan anak ST( Self Transformation, sebuah training pengembangan diri). Kamu kan sudah biasa mendapat feedback. Mengapa sekarang takut?” Ia menepuk ringan meja yang memisahkan kami. Lalu memicingkan matanya padaku. 

“Ah, iya juga. Aku seperti tidak pernah dapat feedback saja. Padahal aku tahu itu baik buatku. Saking berhati – hatinya, aku beberapa kali menulis untuk tantangan hari itu. Ujung – ujungnya yang aku kirim di blog adalah tulisan beberapa hari hingga beberapa bulan ke belakang. Tulisan yang kuketik berjam-jam di hari itu, kusimpan di dalam draft saja.”

“Padahal tulisan pertama yang selesai kau ketik itu adalah tulisan paling jujur darimu. Tulisan yang bagus dan menunjukkan kualitasmu yang sebenarnya. Percaya sama aku. Ketika kamu membuka diri dan membiarkan tulisan itu mengungkap siapa diri kamu yang sebenarnya, baru kamu akan berkembang. Ketika kamu sibuk ingin terlihat bagus tulisannya, maka kamu tidak akan kemana – mana.”

Aku mengangguk-angguk, setuju dengan penjelasannya. 

“Iya kau benar. Aku akhirnya memahami makna dari sebuah tips menulis.” Bunyinya kira – kira begini: fokuslah menulis dan menyampaikan apa yang ingin kamu sampaikan. Bukan karena ingin membuat orang lain terkesan.  Begitu kira–kira pesan dari ungkapan itu."

Percakapan dengan kawanku Ryan sore ini membuatku sepenuhnya memahami dan menjiwai maksud dari ungkapan ini. 

“Kamu itu kuat menerima feedback,” begitu Ia mengingatkanku. 

Lalu ada sebuah kesadaran diri yang terbangun dari percakapan ini. Bahwa feedback diberikan semata untuk mendukung pencapaian tujuan. Bahwa ketika aku terbuka dan jujur pada diriku, orang lain akan melakukan hal yang sama. Ia bukan celaan atau pujian. Ia hanya sebatas informasi yang netral. Akulah yang kemudian memberinya rasa, sebagai sebuah feedback negatif atau positif. Padahal, feedback adalah informasi yang paling aku butuhkan untuk meningkatkan kualitas diri.

“Terima kasih, kawan. Aku menyadari sesuatu yang penting hari ini. Selanjutnya aku akan kirim apa yang aku tulis hari itu. Jujur dan fokus pada apa yang ingin aku sampaikan. Tidak peduli apa yang akan dikatakan orang tentang tulisan itu,” aku mengepalkan tanganku. 

“Nah, begitu dong. Jadi, aku tantang kamu sampai 30 hari kedepan, menulis dengan jujur ya. Dan rasakan perubahannya,” Ia mendaratkan kepalan tangannya di meja sambil tersenyum lebar. 

Aku pun tersenyum dengan hati yang riuh bersuara: "Ayo ti, kirimkan yang kau tulis hari ini. Dan mari berani memberi dan menerima feedback!"

#day6
#30dayswritingchallenge
#30DWCJilid5
#squad1

0 comments: