Fabulous 30 (Bagian 1)



 "Kamu pilih-pilih kali. Terlalu banyak kriteria. Makanya belum ada yang mau. Jadi perempuan itu nerima aja. Kalau usia sudah kepala tiga, semakin susah jodoh mendekat."

Sepenggal nasihat di atas mungkin akrab di telinga pada ladies di usia 30an dan masih melajang. Sebagian orang menanggapi santai, ada pula yang kesal. Saya sendiri termasuk kategori pertama. 

Fenomena melajang ini sepertinya sudah sangat mengglobal. Mulai dari Amerika Serikat yang proporsi lajangnya mencapia 25 %, juga Jepang yang angka wanita lajangnya meningkat hingga 28, 8% pada tahun 2014.  Well, dari segi budaya mereka memang berbeda dengan Indonesia. 

Mengutip hasil survey yang dipublikasikan di sebuah web,  jumlah wanita lajang  usia 24-44 tahun di Indonesia menipis tajam menjadi 17,13 persen. Kecenderungannya, menikah di usia produktif masih menjadi pilihan perempuan Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan trend tahun 2019 -2013, dimana pernikahan rata - rata bertambah 1,54 persen setiap tahunnya. 

Menariknya, data ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian perempuan Indonesia sudah mulai memilih untuk melajang atas alasan pekerjaan dan lainnya, namun ia belum menjadi trend sosial. Kebanyakan perempuan Indonesia masih memilih menikah ketimbang karier. Penyebab lainnya, juga karena sosial budaya masyarakat Indonesia yang masih memandang 'keberhasilan' perempuan adalah ketika ia bisa menggaet anak orang, menjadi suaminya. 

Pandangan-pandangan negatif terhadap wanita usia 30an dan masih melajang seringkali memberi dampak pada status emosi wanita. Bagi sebagian perempuan, melajang bukanlah pilihan. Ada hal yang mungkin sudah banyak ia usahakan untuk menemukan sang belahan jiwa, namun belum juga ditemukannya. Sehingga bila mendengar perkataan yang menyindir diri, itu akan menjadi bumerang bagi sang perempuan. Tenggelam dalam sampah emosi. Belum lagi ketika sudah mulai merasakan, perubahan kulit dan metabolisme. Perempuan bisa merasa tidak berharga dan diabaikan.

Padahal, sebagai fase baru dalam hidup, ada banyak hal menarik dan bermanfaat yang bisa dilakukan. Seperti blessing in disguise, ada saja yang bisa disyukuri dengan hidup sebagai lajang. Bahkan single ladies sebaiknya menjadikan usia kepala tiga ini sebagai waktu paling efektif dan bermakna dalam kehidupan. Sibuk menebarkan manfaat, bukan jala tebar pesona. Sibuk mencari dan mengamalkan ilmu, sehingga kualitas diri meningkat. 

Woman, 30, and Single, it is a BIG deal.
So, how to live in your 30s, ladies?
Stay tune!


love, Tiech. 


#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid5
#Day17
#Squad1
#Fabulous30


Referensi:
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160308193757-277-116237/perempuan-indonesia-masih-pilih-menikah-dibanding-karier/
Share:

No comments: