6.7.17

Tiga Puluh


"Why isn't she married? She's turning 30 today." Kataku pada bayangan di depan cermin ini. Waktu rasanya melesat cepat. Mengantarkanku pada masa baru, perempuan dengan usia kepala tiga. Tapi mengapa rasanya seolah aku belum lama lulus kuliah. Seolah aku masih berusia dua puluh dua. Bahkan kawan-kawan dekatku masih banyak yang lajang. Bayanganku, pada usia ini aku tinggal di sebuah rumah bersama suami dan dua anak. Kenyataannya, aku seorang karyawan sebuah perusahaan swasta dan tinggal di sepetak kamar kos berukuran 3 x 3 meter. Bagi orang tuaku, hidupku belum mapan. Tak ada jaminan hari tua, pun tak ada pasangan bersua.

Bertambah-tambah kepanikan mereka, melihatku tak menunjukkan tanda-tanda memiliki calon suami. Juga seperti tak hendak mencari calon suami. Aku sebetulnya bukan tak panik. Memasuki usia ini, aku mulai sadar bahwa kulitku berbeda, respon tubuhku juga mulai berbeda, tapi perasaanku menghadapi masa lajang juga berbeda. Less baper, less galau, less drama. Aku panik, karena aku semakin tidak panik karena belum menikah.

Perasaan-perasaan ini membuatku penasaran seperti apa perempuan seusiaku menjalani masa awal usia tigapuluhannya. Suatu hari aku mulai mengirimkan pesan pada kawan-kawan terdekatku. "Menurutmu, being 30 and single itu apa artinya?" begitu tanyaku pada mereka. Dan inilah jawabannya.

"Being 30, aku bisa ngatur emosi, atur prioritas. 30 artinya fabulous, be the best version of yourself. Ga ada alasan untuk tidak melakukan hal-hal baru."  -Ria, Pegawai BPOM-

"Being 30 and single is challenging, more responsible, time to rule the world. Being 30's and still single is kind of threat for other woman ti, catet." -Lilik, Konsultan-


"30 menurut gue usia yang ibarat telor ceplok 3/4 mateng, terlihat dari luar udah mateng tapi pas dimakan masih ada bagian lembeknya. Fase dimana udah mulai sedikit pasrah akan jodoh. Saat dimana orang-orang udah ga terlalu nyinyir lagi nanya kapan nikah, karena mungkin mereka juga sadar kalau jodoh itu rahasia Tuhan, bukan karena wanita usia 30 tidak berminat menikah!" -Anggie-
"Being 30 and single, anugrah sekaligus ujian. Anugerah karena masih diberi waktu untuk belajar dan meraih berbagai hal yang mungkin diperlukan dalam rumah tangga nantinya. Ujian karena menghadapi pertanyaan-pertanyaan orang itu tak mudah. Selain itu, karena kodratnya berpasangan maka menjalani hidup tanpa pasangan akan terasa berat." -Dian, Dosen dan Penulis-
Di tengah kepanikan diri, orang tua, dan mungkin tetangga, karena sang gadis memasuki usia 30, membaca komentar teman-temanku ini rasanya melegakan. Membuatku melihat bahwa sebenarnya masih lajang di usia 30 adalah sebuah kesempatan. Hey, being 30 and still single actually wonderful. Ini bukan pilihan, namun  memandangnya sebagai sebuah anugerah akan lebih bermakna. You can create your Fabulous 30. Dan di tulisan-tulisan berikutnya saya akan banyak berbagi kisah tentang #myFabulous30.




#30DaysWritingChallenge
#30DWCJilid7
#Day1
#Squad8




2 comments:

fajar herlambang said...

emm , ini menceritakan tentang diri sendiri, atau sesorang wanita lain mbak ?

Tiech said...

Ini cerita saya sendiri Fajar :))