Renungan dari Api

Saat sedang memasak di dapur tungku, ada banyak hal yang tiba-tiba muncul di pikiran saya. Tiba-tiba merasa, "Duh, ini sungguh tidak ramah lingkungan. Sayang kayu. Tapi gas juga sama saja. Apalagi listrik. Ini pilihan paling hemat. Kayu bakar gratis." Di saat seperti ini pelajaran tentang emisi gas rumah kaca dan lain-lain dikesampingkan. Kalah dengan upaya penghematan dalam urusan keuangan keluarga. 

Saya yang memang hanya sekali dua kali pulang, tidak terlalu akrab dengan memasak menggunakan kayu bakar. Boleh dikata tidak pandai dan tidak paham cara menghidupkan dan menjaga nyala api. Namun kini, demi menghemat, saya cukup sering menggunakan kayu bakar untuk memasak. Apalagi jika memasak makanan berempah khas melayu atau makanan yang perlu waktu lama untuk diolah. Awalnya memang sulit dan menyebalkan. Tapi lama-lama jadi terbiasa.
Suatu kali saat sedang mengatur kayu bakar agar api tetap menyala, saya sadar kayu-kayu ini begitu cepat dimakan api. Sudah lima bilah kayu habis, tapi saya masih belum selesai. Padahal saya cuma sedang membuat tempe bacem. Tapi tempenya sekilo, jadi butuh waktu lama. Padahal saya juga ingin menghemat kayu. Sayang kalau habis demi tempe yang begitu tersaji di meja makan, ludes dalam waktu beberapa menit saja. 

Di saat nyala api kian marak, terdengar bunyi hentakan. Bapak sedang mengayun kapak, membelah kayu-kayu besar di halaman belakang. Untuk kayu memasak, begitu beliau berkata. Makin pedihlah hati saya, untuk mengambil bilah kayu yang berikutnya. Bagaimana tidak? Bapak berjalan dengan tongkatnya, bertumpu pada satu kaki, tapi masih punya semangat dan tenaga membelah kayu. Hampir seharian pula. Segera saya mengumpulkan tempurung, sabut kelapa, dan ranting-ranting kering. Tidak tega saya menghabiskan kayu bakar ini.

Saya lalu merenungkan. Betapa makanan yang tersaji di meja adalah hasil keringat banyak orang. Ia tidak hadir dan turun begitu saja. Ada banyak perjuangan menyertainya. Saya yang menyiapkan dan menghaluskan bumbu, lalu memasaknya. Bapak menyiapkan kayu bakar. Ada pula orang-orang yang menanam semua bumbu dan bahan makanan. Semua bahan itu akhirnya bisa dibeli dari hasil bekerja kedua orang tua saya. Semua hadir dari usaha dan butuh waktu tidak sebentar. Namun perkara memakannya, tidak lebih dari lima belas menit, makanan ini bisa ludes begitu saja.

Kadang saya kesal. Sudah lama memasak. Menghabisinya sebentar saja. Bahkan kadang, saya sendiri tidak sempat makan makanan buatan sendiri. Keburu habis. Risiko, punya ramai anggota keluarga. Namun kekesalan dan kelelahan itu seringnya terbayar. Jika semua orang senang dan menikmati masakan saya. Saat seperti ini saya tak henti mengagumi ibu saya. Untungnya waktu kecil saya bukanlah picky eater.
 
Nyala api tungku yang semakin besar, membuat saya sadar. Ada banyak hal kecil yang saya abaikan. Hal-hal yang biasa hadir, namun bila disyukuri, menyimpan banyak pelajaran bagi kehidupan. Saya bersyukur hari ini belajar sesuatu lagi.

Bagaimana dengan Anda, sudahkah mensyukuri nikmat hari ini?

Tungku di Rumah
#Day28
#30DWCJilid7
#Squad8
#myFabulous30
Share:

No comments: